
"Papa mohon lepaskanlah tangan Adik ipar mu." mohon Meyer penuh harapan. Tetesan air mata mengalir dari kedua matanya. Untuk kesekian kalinya pria itu memohon kepada orang lain.
"Aku tidak akan melepaskannya. ****** ini harus bertanggungjawab atas perbuatanya di kantor polisi." sahut Stevenson tidak mau di bantah.
Melihat raut wajah pucat dan tatapan tulus mertuanya entah mengapa hati Stevenson jadi tersentuh.
"Baiklah." ujar Stevenson pada akhirnya. Pria itu melepaskan cengkraman-nya.
Namun tanpa mereka duga tiba-tiba Rachel berlari menuju jalan raya.
Meyer dan Stevenson menyeritkan kening mereka melihat sikap aneh Rachel.
"Aku akan bunuh diri jika kau tidak meninggalkan Sherin!!!" teriak Rachel berdiri di tengah jalan. Gadis itu merentangkan tangannya melihat dari kejauhan sebuah mobil melaju kencang kearahnya.
Jantung Meyer berdetak kencang melihat tindakan berlebihan putrinya. Ia tidak mau mengorbankan kebahagiaan putri sahnya untuk putri yang tidak sah untuknya. Namun bagaimana pun Rachel adalah putrinya.
Wajah pria itu semakin pucat melihat mobil itu semakin melaju kearah putrinya.
"Stevenson tolong lah.... Untuk sementara saja." mohon Meyer untuk kedua kalinya.
"Apa papa gila? kami baru saja kehilangan bayi kami karena ulah wanita itu. Lalu sekarang Papa membiarkan kami berpisah untuk memenuhi ambisi gila wanita itu?" kesal Stevenson menatap tajam mertuanya. Dia tidak habis pikir dengan ucapan mertuanya.
"Untuk terakhir kalinya Stevenson. Papa akan menjaga istrimu dengan baik. Papa tidak mau Rachel melakukan tindakan yang lebih gila dari sebelumnya. Karena Papa melihat sorotan mata dan sifatnya sangat mirip dengan ibunya di masa lalu." ujar Meyer menghapus jejak air matanya.
"Papa tidak ingin Sherin kenapa-napa. Ini demi kebaikan kalian." sambung Meyer.
"Apa maksud Papa?" tanya Stevenson.
Saat ingin menjawab pertanyaan menantunya tiba-tiba terdengar suara tabrakan
BRAK....
Wajah Meyer semakin pucat mendengar suara tabrakan itu. Pria paruh baya itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah jalan raya. Pria itu melihat kerumunan orang-orang berdiri di tengah jalan.
"Rachel...." lirihnya menahan rasa sesak menghimpit dadanya.
Pria itu melangkah menuju kerumunan tanpa berpamitan dengan menantunya. Salahkah jika Ia berniat untuk membuat putrinya berubah menjadi lebih baik lagi. Meyer merasa bersalah karena selama ini putrinya tidak pernah merasakan yang namanya kasih sayang dari seorang ayah ataupun dari seorang ibu. Karena Ibu Rachel sudah meninggal beberapa tahun lalu karena sakit.
Setibanya disana tubuh Rachel sudah berlumuran darah.
"Ra-Rachel...." lirih Meyer berjongkok di samping putrinya.
"To-tolong bantu saya mengangkat putri saya!!" teriak Meyer emosi melihat orang-orang hanya berkerumunan tanpa ada niat menolong putrinya.
Tak beberapa lama Richard datang ke kerumunan. Pria itu langsung membawa tubuh Rachel menuju seberang jalan. Karena kebetulan mereka juga masih berada di sekitar lokasi rumah sakit.
Di ruang UGD
Rachel di sudah di tangani oleh dokter. Gadis itu kehilangan cukup banyak darah. Meyer dengan cepat mendonorkan darahnya kepada putrinya. Sementara Stevenson dan Richard duduk termenung di kursi tunggu.
"Mengapa dia melakukan hal gila lagi?" tanya Richard memulai obrolan diantara mereka.
"Dia ingin aku meninggalkan Sherin." ujar Stevenson dingin.
"Mengapa dia menjadi ambisi seperti ini?" lirih Richard menatap pintu ruangan UGD.
"Cinta itu buta dan tuli Rich. Sama seperti apa yang kau rasakan padanya. Kau tahu Ia mencintai orang lain. Tapi kau tetap bertahan menunggunya. Berharap suatu hari nanti Ia akan berpaling menatap kearah mu." ujar Stevenson menatap wajah sedih sahabatnya.
......***Bersambung***......