
Seminggu kemudian Livia akhirnya sadar dari komanya. Namun kali ini pandangan Livia terlihat sangat berbeda. Ibu muda itu terlihat lebih sering melamun dan menatap kosong ke luar jendela. Livia juga belum pernah memberikan ASI langsung kepada putra kecilnya.
Oek Oek Oek
Tangisan kencang putra Livia mengalihkan atensi Haykal, namun tidak dengan ibu muda itu. Ibu satu anak itu seakan-akan tuli, bahkan tidak peduli saat terdengar tangisan keras dari bayinya.
"Albina, apa kamu tidak mau memberikan ASI kepada putra kita? sepertinya dia sudah haus." ujar Haykal menatap sekilas kearah boks bayi yang ada di samping ranjang rawat Livia.
Namun Livia hanya diam saja, tanpa merespon perkataan Haykal. Lagi-lagi Haykal yang harus menenangkan tangisan putra pertama Livia itu.
Hari berganti malam dan malam berganti menjadi pagi. Tapi tingkah aneh Livia tidak pernah berubah. Ibu muda itu tetap termenung dan memandang kosong keluar jendela setiap bangun dari tidurnya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya.
Hingga seminggu kemudian Livia bertingkat lebih aneh lagi. Setiap tengah malam, ibu muda itu akan menangis tersedu-sedu dan berteriak kencang dalam tidurnya. Dan Haykal cukup heran sekaligus terkejut melihat tingkah Livia yang semakin menjadi-jadi. Karena selama kehamilannya dulu, Livia terlihat baik-baik saja.
Keesokan harinya
Haykal masuk ke dalam kamar rawat Livia membawa seorang dokter psikiater. Karena tadi pagi, Haykal sudah konsultasi dulu mengenai kondisi Livia.
Dokter itu lalu melangkah mendekati Livia, namun teriakan ibu muda itu menghentikan langkahnya.
"Aku mohon...."
"Lepaskan aku!!" teriak Livia memukul-mukul angin di hadapannya.
"Bagaimana?" tanya Haykal menatap serius dokter psikiater itu.
Haykal menganggukkan kepalanya mendengar perkataan dokter itu. Ia lalu memperhatikan sekilas boks bayi Livia. Pria itu cukup kasihan dengan bayi tak berdosa itu.
"Menurut dokter saya harus membawanya ke rumah sakit mana?" tanya Haykal. Mana tahu dokter itu mau merekomendasikan rumah sakit terbaik untuk Livia pikirnya. Karena beberapa bulan lagi Haykal harus melanjutkan pendidikan spesialisnya. Tidak mungkin pria itu mengambil cuti lagi.
"Saya merekomendasikan Anda membawa istri Anda ke rumah sakit di pinggir kota. Disana Istri Anda akan dirawat dengan baik. Lingkungan yang asri dan jauh dari perkotaan akan membantu istri Anda cepat sembuh. Dokter dan perawat disana juga sangat ramah-ramah." terang dokter itu.
"Baiklah dokter. Terima kasih untuk rekomendasinya." ucap Haykal tersenyum tipis.
Hari-hari berlalu hingga usia bayi Livia menginjak 2 bulan. Namun keadaan Livia tetap begitu-begitu saja. Tidak ada dorongan dari dalam dirinya untuk cepat sembuh.
Haykal tidak mungkin menetap di Madrid sampai Livia sembuh. Sementara liburan sementara 2 akan segera berakhir. Haykal tidak tahu harus mengambil keputusan seperti apa. Satu sisi pria itu harus melanjutkan pendidikannya. Dan satu sisi ada Livia dan bayinya yang masih membutuhkan dirinya.
Selama dua hari satu malam Haykal memikirkan keputusan apa yang harus pria itu ambil. Dan di hari kedua, Haykal pada akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikannya, dan membawa bayi Livia ke California bersamanya.
Sementara Livia akan dirawat di rumah sakit bersama dua orang perawat pilihannya. Sebulan sekali Haykal akan menemui Livia di rumah sakit tanpa membawa putra Livia. Hingga usia bayi kecil itu menginjak umur 3 tahun, barulah Haykal membawanya menemui Livia. Kebetulan pendidikan Haykal juga sudah selesai.
Dari sana, Haykal memperkenalkan Livia sebagian ibu Albi. Dan Albi sangat senang saat melihat ibu yang selama ini Ia cari-cari.
"Mi, macih tatit? Mi, Abi datan bawa loti." ucap anak kecil itu menunjukkan sebungkus sandwich ditangannya. Ia menatap wajah dan rambut berantakan Livia bergantian. Albi lalu melangkah mendekati ranjang rawat Livia, mempersempit jarak mereka.
...***Bersambung***...