
"Karena aku tahu sayang..... apa yang kamu rasakan saat itu. Aku pernah melihat seorang wanita menangis tersedu-sedu sendirian sembari membekap mulutnya. Ia menangis sesenggukan menunggu kedatangan seseorang yang sangat wanita itu cintai."
"Di pagi hari, wanita itu akan menunjukkan senyuman hangatnya, sebagai bukti betapa bahagianya hatinya. Ia bertingkah seakan-akan semuanya baik-baik saja. Ia merawat dua orang anak tanpa seorang suami di sisinya. Wanita itu melakukan apapun untuk membahagiakan putra putrinya. Bekerja dari pagi hingga sore supaya putra-putrinya bisa makan enak. Meskipun pada kenyataannya, wanita itu sangat lelah dengan perasaannya."
"Di malam hari, wanita itu akan melampiaskan kesedihannya. Karena lelah menyembunyikan bagaimana perasaannya sesungguhnya. Ia menangis tersedu-sedu di depan teras rumah. Hanya rembulan malam yang menerangi tubuh kurus wanita itu. Ia tidak pernah tahu, kalau seorang anak kecil juga ikut sedih melihat kesedihannya."
"Anak kecil itu bersembunyi di balik pintu sembari membekap mulutnya. Di pagi hari Ia akan bersikap seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Dan dimalam hari, Ia akan bersikap seperti pria dewasa sesungguhnya." ungkap Stevenson meneteskan air mata.
"Apa kamu sedang curhat mengenai kisah seseorang? apa ini kisah Aunty?" tanya Sherina cukup penasaran. Kedua pipi ibu muda itu juga sudah di banjiri air mata. Ia terharu mendengar cerita sang suami.
"Iya. Aku tidak ingin kamu merasakan, apa yang Mommy rasakan. Dan aku juga tidak mau merasakan, apa yang Daddy rasakan." jawab Stevenson.
"Bukakan aku tadi sudah mengatakan, jangan lagi meneteskan air mata?" ucap Stevenson dengan suara serak.
"Aku hanya terharu mendengar ceritamu sayang...." bela Sherina mengelap ingusnya menggunakan jaket mahal Stevenson.
Stevenson tidak menegur tindakan Sherina sama sekali. Ia membiarkan istrinya mengelap ingusnya menggunakan jaket mahalnya.
Stevenson lalu memiringkan sedikit tubuhnya kesamping, agar lebih leluasa mengobrol dengan sang istri. Ia menatap dalam kedua bola mata sang istri.
"Sherina...." panggil Stevenson dengan wajah serius.
"Tegur aku, jika aku berbuat salah. Nasehati aku, jika aku sudah terlalu jauh melangkah. Karena aku tidak ingin melihatmu bersedih lagi. Dan aku hanya ingin melihat kebahagiaan di wajah cantik ini." ungkap Stevenson tersenyum hangat.
Sherina tidak mampu lagi membendung perasaannya. Ia langsung mengalungkan tangannya di leher suaminya, sehingga wajah mereka tidak berjarak lagi. Jarak sedekat itu membuat kedua hidung sepasang suami-istri itu bersentuhan.
Kali ini bukan lagi air mata kesedihan yang membanjiri kedua pipi Sherina. Namun mulai hari ini, hanya akan ada air mata kebahagiaan yang keluar dari kedua matanya.
"Tumbuh sedari kecil bersamamu, membuatku sadar apa arti sebuah kenyamanan. Dari dulu aku merasa hari-hariku sungguh bahagia, karena ada kamu di hatiku, yaitu cinta dalam hidupku. Meskipun banyak kejadian masa lalu yang tidak bisa kita hindari. Namun aku tidak akan pernah lelah mengucapkan kalimat ini kepadamu Ney."
"Ney...."
"Kamu harus tahu.... kalau aku sangat mencintaimu, hingga sampai gemetar ketakutan setiap kali terbayang, bila hari esok aku harus hidup tanpamu." lirih Sherina mengecup sekilas bibir tipis Stevenson.
"Terima kasih sayang, karena sudah mempercayakan ku menjadi pendamping hidupmu." sambung Sherina mendekap tubuh Stevenson.
"Sebenarnya, aku cukup terharu, ketika mendengar ungkapan hatimu. Karena Stevenson yang aku kenal dimasa lalu adalah Stevenson yang dingin, datar dan kaku." bisik Sherina melepaskan dekapannya.
"Cuek salah, romantis salah. Besok-besok bilangnya kamu enggak peka banget sih, jadi suami." gerutu Stevenson mencebikkan bibirnya.
...***Bersambung***...