
Dengan kuat Livia mendorong pria yang tiba-tiba datang memeluknya.
"Bi! kamu kemana saja? aku mencari keberadaan mu!" ucap pria itu memperkuat dekapannya.
"Lepaskan!!" teriak Livia mendorong tubuh pria itu.
"Siapa kamu?" tanya Livia memundurkan sedikit tubuhnya ke belakang. Ia terdiam sebentar sembari meneliti rupa pria dihadapannya.
"Bi, apa kamu sedang pura-pura lupa Ingatan? aku Haykal! apa kamu juga melupakan putra kita?" tanya Haykal melangkah mendekati Livia.
"Berhenti!! jangan mendekat!" teriak Livia dengan tubuh gemetaran. Ia cukup terkejut mendengar perkataan pria yang ada di hadapannya. Ia berusaha mengingat-ingat kejadian masa lalu.
"Apa Steven membohongi ku? sebenarnya masa lalu seperti apa yang sudah aku lupakan?" monolognya pelan menatap kosong wajah Haykal.
"Arghhh!!!!"
Livia berteriak kencang menyentuh kepalanya saat kilasan masa lalu berputar-putar di ingatannya.
Haykal dengan cepat melangkah mendekati Livia.
"Albina? are you okey?" tanya Haykal menyentuh kedua pundak Livia.
"Lepas!! jangan sentuh aku!!" teriak Livia menepis kuat tangan Haykal.
Haykal cukup tertegun melihat tingkah berbeda Livia.
Bug
Livia terduduk di lantai mencengkeram kuat kepalanya. Kering sebesar biji kacang tanah keluar dari kulit mulusnya. Wajah pucat itu terlihat kontras di penglihatan Haykal.
#
#
Sementara di kamar mandi
Steven tidak bisa mendengar suara teriakan Livia, karena suara air mengalir terdengar nyaring di dalam kamar mandi. Pria itu lalu mematikan air shower setelah mengenakan kimononya. Tak beberapa lama Ia lalu keluar dari kamar mandi.
Cklek
Steven menyeritkan keningnya, saat tidak menemukan keberadaan istrinya di dalam kamar. Ia juga tidak melihat pakaian pilihan istrinya di atas tempat tidur. Karena biasanya Livia akan menyiapkan pakaian ganti untuknya.
#
Sementara Robert dan Jesica menyeritkan dahi mereka melihat seorang pria berdiri di lorong pintu masuk penthouse Steven. Mereka kemudian melangkah mendekat agar sejajar dengan pintu. Mereka berdua cukup terkejut sekaligus khawatir melihat Livia sudah terduduk di lantai.
"Nona!!" teriak Jesica berlari masuk ke dalam penthouse melewati Haykal.
"Apa nona baik-baik saja? jangan terlalu memaksakan diri memulihkan ingatan anda." nasehat Jesica membantu Livia berdiri.
"Albina! sebenarnya apa yang terjadi padamu?" tanya Haykal menyeritkan dahinya. Yang ia tahu Albina hanya mengalami trauma dan tidak lupa Ingatan.
"Albina?" tanya Steven menatap Livia dan Haykal bergantian. Steven mengenali pria yang berdiri di depan pintu keluar penthouse miliknya.
Haykal menatap tajam ke arah Steven, pria itu tidak bisa lagi membendung perasaan amarah yang sedari lima tahun lalu pria itu pendam.
Haykal langsung berlari menerjang Steven hingga membuat tubuh mereka terjatuh ke lantai.
DUG
"PRIA BRENGSEK!! BAJINGAN!!"
"Ternyata kau pria yang sudah memperkosa kekasihku di masa lalu!!!" teriak Haykal meninju wajah Steven berulang kali.
Robert dengan cepat masuk ke dalam penthouse berniat membantu tuannya. Namun kode dari Steven menghentikan langkah pria itu. Robert langsung memerintahkan Jesica membawa Livia masuk ke dalam kamar.
"Cih! keturunan penghianat!" dengus Steven menyeringai tipis menghapus darah yang menetes dari bibirnya.
Haykal menghiraukan ucapan Steven, pria itu tetap menghajar Steven melampiaskan rasa amarahnya.
"Kau benar-benar pria bajingan! karena tindakanmu Albina harus menderita trauma dan depresi selama bertahun-tahun!"
Deg
Livia terkejut dan menghentikan langkahnya saat Ia mendengar perkataan Haykal, Ia bertanya-tanya dalam hati. "Apa pria itu benar-benar mengenalku?"
"Bagaimana jika saudara mu diperlakukan seperti itu!!"
"Sialan!!" teriak Haykal meninju wajah Steven hingga babak belur. Pria itu tidak peduli dengan rasa sakit di tangannya saat meninju rahang keras Steven. Yang penting Ia bisa melampiaskan rasa sakit hati sekaligus rasa amarah yang selama ini Ia pendam.
...***Bersambung***...