
"Argh!!"
"Ampun, Tuan."
Erangan kesakitan seorang pria terdengar menggema di ruangan itu.
"Cabut kuku jari-jarinya satu persatu." perintah seorang pemuda kepada anggotanya.
"Argh!!!!"
"Sakit!!!"
"Tolong!! sakit!!"
Hiks
Hiks
Hiks
"Maafkan saya, Tuan."
"Aku tidak akan memaafkan orang yang sudah menganggu ketenangan ku." jawab pemuda itu melemparkan sebuah pisau tajam dari jarak jauh ke arah pria itu.
"Apa bajingan itu sudah tewas?" tanya pemuda itu kepada anggota klan nya.
"Sudah Tuan muda." jawab bawahannya.
"Bersihkan tempat ini. Dan jangan sampai meninggalkan jejak. Kirim bajingan itu ke kediamannya. Tutup mulut keluarganya dengan uang dan beberapa ancaman." perintah pria itu sebelum berlalu dari sana.
Keesokan harinya
Berita mengenai kematian pemuda itu menggemparkan ibu kota. Mereka terkejut melihat tubuh pemuda itu sudah hangus terbakar.
Arabella yang melihat berita itu seketika merinding. Pikiran yang negatif tiba-tiba menghantui pikirannya.
"Bukankah pemuda itu yang kemaren melecehkan ku? Bagaimana jika polisi mengira aku yang melakukannya?" gumam Arabella dengan perasaan cemas.
Tak beberapa lama terdengar ketukan pintu dari luar kediaman Arabella.
Tok
Tok
Tok
"Permisi...."
Tok
Tok
Tok
"Kak, siapa kira-kira yang ingin bertamu pagi-pagi subuh begini?" celetuk Amore melangkah menuju pintu keluar masuk kediaman mereka.
Ceklek
Amore terkejut melihat dua orang polisi sudah berdiri di depan rumahnya.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Amore dengan tenang.
"Selamat pagi, Nona. Mohon maaf menganggu waktu istirahat Anda."
"Apa benar ini kediaman Nona Arabella?" tanya salah satu petugas itu sembari mengamati kondisi dalam rumah yang ditinggali Amore dan Arabella.
"Benar, Pak. Apa ada masalah?" tanya Amore sedikit penasaran.
"Kami hanya ingin meminta keterangan Nona Arabella atas kasus kematian seorang pria yang belum diketahui identitasnya."ujar pria itu dengan wajah tenang.
Amore mempersilahkan kedua petugas itu masuk ke dalam kediaman mereka.
"Tunggu sebentar, saya akan memanggil Kakak saya." ujar Amore melangkah menuju kamar.
"Kak, jangan takut. Mereka hanya ingin bertanya beberapa hal mengenai kematian pria itu." kata Amore memenangkan perasaan gelisah Arabella.
"Silahkan duduk, pak."
Arabella mempersilahkan kedua petugas itu duduk di kursi ruangan tamu.
"Dari beberapa rekaman cctv dan pernyataan beberapa saksi. Kami mendengar Tuan Abram terakhir datang berkunjung ke salah satu Club di kota ini. Para saksi disana berkata jika Tuan Abram telah berselisih paham dengan Anda. Hingga keesokan harinya, seorang warga melihat jasad Tuan Abram hangus terbakar. Apa anda ada kaitannya dengan kejadian ini? Atau Anda bisa memberikan kesaksian atas peristiwa yang sebenarnya terjadi disana."
Dengan tubuh bergetar, Arabella memberanikan diri menatap kedua petugas itu. "Saya melihat seorang pria menghajar pria tersebut dan membawanya entah kemana."
"Apa anda mengenal pria tersebut?" tanya petugas itu lagi sembari merekam kesaksian Arabella.
"Ya, pria tersebut merupakan atasan saya." cicit Arabella dengan suara pelan.
"Tapi, beliau hanya berniat menolong saya dan memberi pelajaran kepada pria itu." kekeh Arabella membela Gion.
"Apa ada kesaksian lain yang ingin Anda sampaikan?" tanya petugas itu menatap wajah gelisah Arabella.
"Ti-tidak, Pak."
"Baiklah... terima kasih atas kesaksian Anda Nona Arabella. Kami pamit undur diri."
Kedua petugas itu beranjak dari kursi dan melangkah keluar dari tempat tinggal Arabella dan Amore.
Arabella tiba-tiba menghela napas lega setelah kepergian kedua petugas tersebut.
"Kak, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Amore dengan wajah serius, bercampur cemas.
"Jangan khawatir.... Lebih baik kamu istirahat. Jangan banyak pikiran. Kakak mau ke dapur menyiapkan sarapan pagi."
Arabella buru-buru meninggalkan Amore sendiri. Ia takut Amore bertanya banyak mengenai kejadian kemaren malam.