
"Ehem! Ehem!! apa kami menganggu keromantisan kalian, hingga tidak menyadari kedatangan kami." kata Greyson berdehem dua kali. Semua keluarga mereka ternyata sudah berdiri di dekat pintu kamar rawat Alexa. Tentu saja mereka mendengar obrolan romantis sepasang suami istri itu. Stevi, Theresia dan Rain tersenyum bahagia mendengar ungkapan cinta tulus dari Paskal kepada Alexa.
Ternyata putraku sudah dewasa.
Rain dan Theresia menatap putra dan menantunya secara bergantian.
Nak, ternyata kamu benar-benar mendapatkan pria yang tepat.
gumam Stevi dalam hati tersenyum hangat menatap Papa dan Mama muda itu.
"Eh... ternyata Dad, Mom, Pa, Ma.... ternyata kalian sudah datang...." kata Alexa cengengesan dengan wajah merah merona.
"Ternyata putri kecil Daddy bisa tersipu malu juga ya." goda Greyson melangkah mendekati boks bayi.
"Apa kalian akan tetap berdiri di situ, tanpa ada niat melihat bagaimana tampan dan cantiknya cucu kalian." sambung Greyson setelah melihat wajah putra dan putri Alexa dan Paskal.
"Pa...." panggil Paskal membuat langkah Rain terhenti.
"Paskal ingin berhenti kuliah dan berniat mencari pekerjaan sampingan." ujar Paskal membuat semua orang terdiam.
"Apa kuliah disini tidak menyenangkan?" tanya Greyson menatap menantu dan putrinya. Meskipun sebenarnya Greyson sudah tahu mengenai kesalahpahaman antara putri dan menantunya.
"Paskal tidak mau jauh-jauh dari Alexa, Michael dan Michelle." ujar Paskal dengan cepat.
"Kami menghargai niat baikmu. Tapi bagaimana dengan masa depanmu? apa kau tidak malu memiliki istri mengecap gelar magister. Sementara kau hanya lulus SMA."seru Greyson menimang cucu laki-lakinya. Sementara Stevi langsung mengendong cucu perempuannya bergantian dengan Theresia.
"Jadilah laki-laki yang memiliki pendirian. Jangan hanya karena wanita gampang, kau mengabaikan masa depanmu."
"Cucu perempuan kita juga sangat cantik dan mengemaskan. Aku benar-benar terpikat dengan tatapannya." seru Stevi tak kala antusias memuji cucu perempuannya.
Theresia setuju dengan pendapat Stevi. Tatapan biru milik Michelle benar-benar mampu membuat orang-orang yang menatapnya larut dalam tatapan tenang itu. Jika Michael memiliki manik mata berwarna hitam pekat seperti Paskal, maka Michelle memiliki manik mata berwarna biru seperti Alexa.
Stevi menyerahkan cucu perempuannya kepada Theresia. Ia tahu Theresia juga ingin mengendong cucu perempuannya.
"Aku tahu kamu juga ingin merasakan bagaimana rasanya mengendong cucu kita. Sekarang gantian kamu yang mengendong cucu kita." ujar Stevi tersenyum tulus.
Dengan senang hati Theresia mengambil Michelle yang mulai tertidur pulas di lengan Stevi.
Stevi lalu melangkah mendekati putrinya. "Apa kamu sudah makan? dan bagaimana dengan ASImu? apa ASI mu banyak?" tanya Stevi.
"Aku belum terlalu lapar Mom. Rasa lapar ku langsung hilang setelah melihat wajah tampan dan cantik putra-putriku. Dan untuk ASI.... rasanya sedari tadi dadaku sedikit nyeri." sahut Alexa.
"Nak.... carikan bubur atau makanan sehat dan bergizi di sekitar rumah sakit. Istrimu harus banyak makan, agar ASI miliknya semakin lancar." pinta Stevi kepada menantunya. Paskal langsung keluar dari ruangan rawat istrinya setelah berpamitan.
Di luar rumah sakit
"Bella?" panggil Paskal dengan wajah datar.
"Paskal! apa kau disini juga?" sahut wanita itu pura-pura terkejut. Namun jauh di dalam lubuk hatinya, wanita itu cukup senang melihat Paskal.
...***Bersambung***...