
"Apa kamu mau melihat wajah putramu?" tanya Haykal mengelus lembut tangan dingin Livia.
Livia menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Haykal.
Dokter lalu menyerahkan bayi yang sudah perawat bersihkan ke atas dada Livia. Bayi itu terlihat ngemut-ngemut bibirnya seperti mau minta ASI.
Livia terdiam lama melihat rupa putranya. Tangisnya semakin menjadi melihat rupa putra yang selama 9 bulan ini Ia perjuangkan. Wajah itu terlihat sangat mirip seperti Steven.
"Mengapa wajah ini harus mirip dengan pria bajingan itu!" lirih Livia dalam hati.
Bayi itu cukup terusik mendengar suara tangis Livia. Ia menyipitkan sedikit matanya menatap Livia sehingga Livia bisa melihat warna mata biru langit sang putra.
"Tidak hanya wajah ini, Nak. Mata ini juga sangat mirip dengan pria itu." sambung Livia lagi.
Sementara Haykal berdecak kagum melihat warna mata sang putra. Ia belum pernah melihat rupa pria yang memperkosa Livia. Namun kalau dilihat dari rupa tampan sang putra. Kemungkinan pria yang memperkosa Livia mempunyai wajah yang tampan.
Oek Oek Oek
"Apa kau tidak mau memberinya ASI?" tanya Haykal menatap sang putra sedari tadi menangis kencang.
Livia diam tak bergeming mendengar pertanyaan Haykal. Ia menatap kosong ke arah wajah putranya.
"Setelah ini apa lagi yang akan aku lalui, dan yang akan terjadi di masa depan? menjadi seorang ibu tunggal tanpa suami?" batin Livia. Wajah itu terlihat semakin pucat.
Haykal lalu mengalihkan pandangannya menatap wajah Livia. Ia terkejut melihat wajah itu sudah dibanjiri air mata. Ia pikir Livia menangis karena terharu dan bahagia. Namun melihat wajah pucat itu, membuat Haykal sedikit cemas.
"Livia! apa kau baik-baik saja?" tanya Haykal gusar menatap wajah pucat itu. Haykal lalu mengenggam tangan Livia. Lagi-lagi pria itu terkejut merasakan tangan dingin Livia.
"Mengapa aku tidak bisa mengalihkan perhatian dan pikiranku dari pria itu. Aku tidak bisa melupakannya Haykal. Aku tidak bisa! aku---" lirih Livia meneteskan air mata.
"Sss.... Tenanglah! sekarang sudah ada aku disini bersama putra kita! pria itu akan menyesal sudah membuatmu terluka dan meninggalkan mu menanggung semua ini." bujuk Haykal menenangkan perasaan Livia. Ia takut ibu yang baru melahirkan itu mengalami baby blues.
Tiba-tiba kedua mata Livia tertutup rapat setelah mendengar ucapan Haykal.
Haykal terkejut melihat wajah pucat Livia. Dokter dan perawat bergegas melakukan pertolongan pertama memeriksa keadaan Livia.
"Tubuh pasien dingin dokter!" sahut seorang perawat menyentuh tangan Livia.
"Pasien kekurangan banyak darah. Kita membutuhkan golongan darah AB-. Tolong periksa di bank darah! apa darah AB- sudah ada?" pinta dokter itu. Keringat sebiji jagung membasahi wajahnya melihat kondisi Livia tiba-tiba drop.
Oek Oek Oek
Suara tangisan putra Livia menganggu konsentrasi dokter dan perawat. Haykal kemudian membawa bayi itu kedekapanya. Hingga tangisan bayi itu langsung berhenti.
"Dokter denyut nadi pasien melemah!" ujar seorang perawat memeriksa nadi Livia.
Dokter itu lalu mengambil alat defibrillator membantu memberikan kejutan listrik ke jantung Livia.
"Dokter golongan darah AB- sedang kosong di bank rumah sakit. Apa yang harus kita lakukan?" tanya seorang perawat membuat Haykal gusar.
Pria itu lalu meletakkan bayi Livia di boks bayi yang sudah disediakan oleh rumah sakit. Haykal lalu keluar dari ruangan itu menghubungi teman-teman dekatnya. Namun tak ada satupun dari teman-temannya memiliki golongan darah yang sama dengan Livia.
...***Bersambung***...