
Alexa mengemudikan mobil sport mewahnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Gadis itu mengemudi sembari mengunyah permen karet di mulutnya.
Tak beberapa lama, Ia tiba di parkiran rumah sakit. Banyak pasang mata memandang kearah mobilnya.
Gadis itu lalu keluar dari mobilnya sembari mengunyah permen karet. Alexa melangkah melewati orang-orang yang berlalu lalang di rumah sakit Medical Center itu.
BRAK
Tiba-tiba Alexa membuka pintu kamar mayat yang di tempati Mr Park dengan kuat.
Orang-orang yang berada di dalam tentu saja terkejut mendengar suara keras banting pintu.
"Apa kau tidak punya etika sama sekali. Apa kau lupa jika kita sedang berada di rumah sakit." kesal Mr Edward menatap bawahannya.
"Sorry Mr Edward...."
"Saya pikir di ruangan ini tidak ada orang." ujar Alexa cengengesan mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Dasar gadis bar-bar." dengus Haykal. Pria itu merupakan dokter yang dipilih Mr Edward untuk menangani kasus kematian Mr Park. Apa lagi Haykal merupakan salah satu dokter bedah muda terbaik. Tentu mudah bagi pria itu menemukan penyebab kematian Mr Park.
Sementara Alexa menatap sinis kearah Haykal. "Kenapa gue dari kemaren ketemu cowok resek ini lagi sih." monolognya dalam hati.
"Tuan dugaan sementara saya, sepertinya seseorang menyuntikkan sesuatu ke tubuh korban." ujar Haykal menatap Mr Edward.
"Saya sudah memeriksa jaringan pembuluh darah korban. Hasilnya akan keluar beberapa jam lagi setelah hasil dari sampel darah korban keluar." ujar Haykal.
"Bagaimana menurutmu tentang dugaan dokter ini?" tanya Mr Edward menatap Alexa. Pria itu tahu Alexa akan menghasilkan analisis yang lebih tepat dan relevan.
"Saya juga akan menyelidikinya terlebih dahulu Mr Edward." ujar Alexa tidak mau gegabah.
#
#
Di Apartemen Stevenson
"Sayang...." panggil Stevenson mencari-cari keberadaan istrinya. Pria itu baru saja bangun setelah berulangkali melakukan penyatuan dengan Istrinya tadi malam.
Sementara Sherina tersenyum puas menatap bayangannya di pantulan cermin kamar mandi suaminya. Tak beberapa lama gadis itu keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya.
"Sayang...." ujar Stevenson menatap tubuh langsing istrinya. Pria itu lalu melangkah mendekati Istrinya.
"Apa kita jadi berangkat ke kolombia?" tanya Sherin menatap wajah bantal suaminya.
"Nyamannya...." gumamnya bermanja ria di pelukan Istrinya.
"Mandilah...."
"Aku akan menyiapkan pakaian santai untuk kamu." ujar Sherin mencoba melepaskan pelukan suaminya.
"Sayang sebentar lagi." dengus Stevenson semakin mengeratkan pelukannya.
"Sayang..... Jangan sampai kamu minta jatah untuk kesekian kalinya. Dibawah sana sudah mulai berdiri Ney!" tandas Sherin mendengus kesal. Ia sungguh merasa lelah hari ini. Apa lagi Ia baru saja menyelesaikan misinya membalas pria bajingan itu.
"Kalau bangun boleh dielus dikit." ujar Stevenson tak memperdulikan perkataan istrinya.
"Benarkah?" bisik Sherina sembari mengelus-elus lembut dada bidang suaminya.
Stevenson tersenyum manis menikmati sentuhan lembut tangan Istrinya.
"Apa kamu tidak mau menyerah dan melepaskan ku?" tanya Sherin terus mengelus dada bidang suaminya.
"Enggak mau!" tegas Stevenson mengeratkan pelukannya.
Sherina menyeringai tipis mendengar ucapan keras kepala suaminya. Ia lalu menurunkan tangannya dari dada bidang suaminya. Tangannya lalu berpindah kebawa sana. Ia mengelus lembut adik kecil Stevenson yang sudah mulai berdiri di balik bokser yang dikenakan suaminya.
Stevenson tentu saja panas dingin merasakan elusan lembut istrinya dibawah sana.
"Apa kau berniat menggodaku sayang?" tanya Stevenson memejamkan matanya menikmati elusan lembut tangan Istrinya. Tentu saja Ia terangsang menikmati usapan halus tangan istrinya. Apa lagi hari masih subuh dan gelap.
Sherina tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi merem melek suaminya. Ia tahu Stevenson sedari tadi menikmati elusannya dan mencoba menahan hasratnya.
Sherina terlalu menikmati tawanya hingga tanpa sadar Ia meremas kuat terong ungu milik suaminya.
"Ah.... Sayang...." lirih Stevenson dengan wajah merah padam.
"Kamu harus tanggung jawab!" dengus Stevenson membopong tubuh istrinya masuk ke dalam kamar mandi.
Suara indah percintaan terdengar nyaring di dalam kamar mandi mereka. Dan hanya mereka yang bisa menikmati suara-suara indah itu.
Author hanya bisa menutup telinga dan menutup mata agar tidak berdosa karena belum cukup usia. 🙈 🙉
......***Bersambung***......