
6 Bulan kemudian
Stevi menjalani hari-harinya dengan bahagia. Dia memilih mengasingkan dirinya ke Negara yang paling terpencil. Dia ingin melupakan semua kenangan pahit yang telah dilaluinya.
Setelah mendengar berita menyakitkan lima bulan yang lalu. Stevi menutup diri dengan hal-hal yang akan membuat nya stress. Dia ingin kandungnya baik-baik saja, menjaganya seumur hidupnya.
"Hey Stevi. what are you doing there?" tanya seseorang yang sedang mengamati tetangga barunya yang duduk termenung di bangku taman.
Stevi yang mendengar pertanyaan tetangganya seketika melihat ke samping kanan pagar. Disana sudah berdiri seorang pria dengan poster tubuh tinggi dan tampan. Mata biru keabu-abuan itu mengingatkannya dengan seseorang.
"Aku hanya ingin berjemur Rinc. Berjemur di pagi hari sangat membantu kesehatan tubuh" terangnya dengan mengangkat kedua tangannya ke atas dan menghirup udara sejuk di pagi hari.
"Oiya. Perkataan mu benar Stevi. Berjemur-lah, itu baik untuk bayi di dalam kandungan mu tapi jangan terlalu lama. Itu terlihat tidak baik untuk kulitmu" setelah mengatakan itu Rinc berlalu masuk ke dalam rumahnya. Dia baru pindah kesini setelah sembuh dari sakit yang di deritanya. Dia memilih mengasingkan diri jauh dari dunia kejam yang membuatnya sakit berbulan-bulan.
...🌷🌷🌷...
Sementara Stevi yang mendengar ucapan Rinc membenarkan ucapan pria itu. Stevi lalu masuk ke dalam rumahnya dan melakukan rutinitasnya. Dia hidup sendiri, sekali-kali kakaknya nanti datang kesini. Namun untuk sekarang kakaknya belum bisa datang. Terkadang dia iri melihat kakaknya sudah hidup bahagia. Di cintai seorang suami dengan tulus tanpa ada sedikitpun niat menyakitinya.
Stevi mengelus perutnya yang sudah membesar. Dia tersenyum merasakan pergerakan bayinya. Dia sudah mengetahui jenis kelamin bayinya saat di USG bulan ke 6. Dia sudah tidak sabar menanti kelahiran bayi yang akan membuat hidupnya lebih berwarna lagi.
Disini dia hanya bekerja sebagai karyawan biasa di salah satu pabrik kecil yang tidak jauh dari tempat tinggalnya. Hidup di daerah perbukitan ini membuatnya bahagia. Terkadang jika libur, dia menghabiskan waktunya untuk berkebun.
Dreet...
📞 Papa calling
Dengan raut antusias Stevi mengangkat panggilan telepon dari papanya.
"Hallo Papa" Stevi mengangkat telepon dengan mendudukkan tubuhnya di sofa ruang tamu
Sementara ayahnya di seberang sana saling memandang dengan istrinya ketika mendengar suara antusias putrinya. Mereka meletakkan Handphone itu diatas meja dan menghidupkan loud speaker.
[*B*agaimana kabarmu sayang? Baby boy apa baik-baik saja? Jangan terlalu lelah! Ingat selalu makan makanan yang bergizi.] ceramah Nyonya Lorens dari seberang telepon.
Mereka cukup terkejut saat mengetahui kehamilan putri bungsu mereka beberapa bulan lalu. Ia dan suaminya merasa gagal menjaga putri bungsunya. Mereka ikut mendukung kehamilan putrinya saat melihat Stevi bahagia dengan kehamilan pertamanya.
"Kami bak-baik saja Kakek, Nenek" sahut Stevi meniru suara anak kecil.
Ia tersenyum bahagia mendapatkan kasih sayang lebih dari orang tuanya. Orangtuanya selalu ada dan selalu menjadi support sistem di masa kehamilannya.
Bulan ketiga kehamilannya merupakan masa sulit baginya. Dimana Ia merasa pikirannya dihantui kematian Greyson. Ada hal aneh yang mengganjal di hatinya yang tidak bisa Ia deskripsikan melalui kata-kata saat mendengar kematian ayah dari anaknya.
Tuan Lorens dan Nyonya Lorens merasa senang mendengar perkataan putrinya. Mereka tidak sabar menanti kelahiran cucu pertama keluarga Lorens.
[Kapan kamu akan melahirkan sayang ?] tanya tuan Lorens.
"1 bulan 10 hari lagi Pa" ujar Stevi lembut. Ia senang mendapat orang tua yang hangat seperti kedua orangtuanya.
[Satu Minggu sebelum melahirkan Mama dan Papa akan berangkat ke sana.] tutur Nyonya Lorens cepat. Mereka ingin ada disana menemani putri bungsu mereka saat melahirkan nanti.
[Apa ada yang kamu inginkan sayang? Mama akan mengirimkannya jika kamu ingin sesuatu.] ujar Nyonya Lorens. Ia tahu kalau akhir-akhir ini putrinya mulai merasakan ngidam lagi. Walaupun hanya sekali-sekali, Ia cukup bersyukur karena putrinya tidak mengalami morning sick.
"Tidak ada Ma. Stevi hanya ingin mendengar Mama menyanyikan lagu twinkel little start dan Papa bergoyang di depan Mama" ujar Stevi antusias.
"Aduh Pa...."
"Ayo cepat berdiri. Papa yang bergoyang dan Mama yang bernyanyi" ujar Nyonya Lorens menahan tawanya melihat wajah merah padam suaminya.
Stevi senang mendengar suara ajakan Mamanya. Walaupun Ia tidak bisa menikmati permintaannya secara langsung namun terselip rasa senang di dalam hatinya. Karena kedua orangtuanya bersedia mengabulkan permintaannya. Disini tidak ada jaringan untuk 2/3/4GB ataupun WiFi. Karena daerah ini masih ada di daerah pelosok yang berisikan pabrik dan pertambangan.
Nyonya Lorens mulai bernyanyi di seberang telepon di ikuti Tuan Lorens yang bergoyang di hadapan istrinya.
🎶Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are
Up above the world so high
Like a diamond in the sky
Twinkle, twinkle, little star
How I wonder what you are
Song 🎵: Jane Taylor
Stevi menyandarkan tubuhnya di sofa dengan posisi tangan mengelus perut buncitnya saat mendengar suara nyanyian Mamanya. Perlahan kedua matanya semakin memberat seakan ingin tertutup. Beberapa menit kemudian Stevi tertidur pulas di atas sofa. Ia tertidur untuk kedua kalinya di pagi hari yang sejuk itu.
Berkali-kali Nyonya Lorens menyanyikan lagu itu sampai akhirnya Stevi tertidur.
"Sayang Papa udah capek." ujar Tuan Lorens ngos-ngosan. Pria itu terlalu lama berjoget di depan istrinya.
Nyonya Lorens juga merasakan hal yang sama dengan suaminya. Ia lalu berkata. "Ya sudah Pa. Sepertinya Stevi juga sudah tertidur lelap." ujarnya. Ia menghapus peluh keringat yang membanjiri wajah suaminya.
"Selamat bobok sayang" ujar Nyonya Lorens. Ia lalu mematikan panggilan teleponnya. Mereka tahu Stevi sering susah tidur jika di malam hari. Mereka tidak heran lagi jika Stevi langsung tertidur jika sudah dinyanyikan lagu nina bobok itu. Mungkin keinginan cucunya pikir mereka.
...🌷🌷🌷🌷...
Seorang pria cukup terkejut mendengar suara ledakan BOOM di dekatnya. Ia lalu melompat cepat masuk ke dalam tong air besar yang ada di sampingnya.
BOOM
Duar
"Sial! Gue di jebak" ujar seorang pria. Tubuhnya ikut terlempar ke tembok gedung bersama tong air besar yang dimasukinya.
"Aaaaa...."
Teriak seorang pria terbangun dari mimpinya
...***Bersambung***...
...Sebenarnya author juga mau buat cerita Gabi disini. Hanya saja ada cerita pemeran utama selanjutnya ya lebih lebih.. (Masih rahasia) ya bgitu lah 🙃...