
Haykal melangkah menuju ruangan ayahnya. Ia tahu putranya sangat ingin bertemu dengan kakeknya.
"Apa kau sangat merindukan kakek?" tanya Haykal saat melangkah menuju lantai atas rumah sakit tempatnya bekerja.
"Tentu Pi. Albi sangat merindukan Grandpa."ujarnya tersenyum manis.
Setibanya di depan ruangan ayahnya, Haykal langsung mengetuk pintu ruangan itu.
Tok tok tok
"Masuk." sahut seorang pria paruh baya dari dalam. Ia sedang duduk di kursi kebesarannya sembari menatap layar komputernya.
Cklek
"Ternyata Grandpa masih ada sibuk...." ucap Haykal menatap wajah cemberut putranya.
Pria paruh baya itu mengalihkan pandangannya saat Ia mendengar suara putranya.
"Eh ada Albi" ujar pria itu tersenyum hangat menatap cucunya.
"Grandpa masih sibuk ya? padahal Albi minta diajak jalan-jalan keluar bersama grandpa."
"Papi juga pasti sibuk." ujar Albi cemberut.
Kedua pria itu tersenyum gemas melihat ekspresi Albiano. Anak kecil cerdas, lincah dan memiliki aura memikat. Siapa pun akan terpesona melihat rupa tampan dan bola mata birunya.
"Baiklah...."
"Khusus untuk kali ini, Grandpa akan meluangkan waktu Grandpa untuk cucu kesayangan Grandpa." ujar pria itu berdiri dari kursinya.
"Bagaimana? apa kalian sudah menemukan pelaku yang membunuh pasien itu?" tanya pria itu kepada Haykal.
"Belum Yah...."
"Agen rahasia yang menangkapnya sedang melakukan penyelidikan untuk menangkap siapa pembunuhnya." ujar Haykal.
Mereka kemudian duduk di kursi tamu yang ada di ruangan itu.
Albiano langsung melangkah menghampiri kakeknya. Sementara pria itu dengan sigap mendudukkan tubuh cucunya di pangkuannya.
Sementara Haykal tersenyum kecil melihat tingkah Albiano.
"Apa kau sudah menjenguk ibunya bulan ini?" tanya pria itu menatap Haykal.
Deg
Haykal terkejut mendengar pertanyaan ayahnya. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya sehingga lupa dengan kondisi terkini ibu dari putra-nya.
"Apa kau tidak mengenali keluarga wanita itu sama sekali?" tanya pria itu sembari mengelus kepala cucunya.
"Tidak...."
"Kami saling mengenal karena kami sama-sama kuliah di kampus yang sama. Dia merupakan salah satu adik tingkatku. Kami mengambil jurusan yang sama." ujar Haykal menatap wajah Albiano.
Putranya sama sekali tidak mirip dengan mantan kekasihnya itu.
"Bagaimanapun Albiano merupakan putranya. Ia memiliki hak atas putranya." ujar pria itu.
Haykal mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar perkataan ayahnya. Ia juga sangat kasihan melihat kondisi terakhir kali mantan kekasihnya itu.
"Apa kita memiliki cara lain untuk menyembuhkannya?" tanya Haykal menatap ayahnya.
"Kita bisa melakukan terapi secara perlahan. Namun bila wanita itu tidak mau, apa boleh buat?" ujar pria itu menjawab pertanyaan putranya.
"Apa mungkin hanya pria itu yang bisa menyembuhkannya Yah?" tanya Haykal dengan suara pelan.
"Bisa jadi.... Tapi kau hanya bisa mengetahui detailnya melalui dokter psikolog. Kau tahu sendiri ayah bukanlah ahli psikologi." jawab pria paruh baya itu.
Obrolan mereka harus terhenti saat pendengaran mereka mendengar suara ketukan pintu dari luar.
Tok tok tok
"Masuk." ujar pria paruh baya itu tanpa mengalihkan pandangan dari cucunya.
Cklek
Tak beberapa lama seorang wanita paruh baya ikut masuk ke dalam ruangan itu.
"Sayang...."
"Aku membawakan makan siang untuk kamu." ujarnya melangkah menuju dapur ruangan itu.
"Grandma...."
"Apa Grandma melupakan Albi dan papi juga ada disini?" ujar Albiano berusaha turun dari pangkuan Grandpa-nya.
Wanita paruh baya itu menghentikan langkahnya saat mendengar suara cucunya.
"Eh...."
"Bukannya kalian berniat jalan-jalan hari ini?" tanya wanita itu membalikkan tubuhnya. Ia lalu melangkah mendekat kearah ruang tamu.
Memang ruangan itu sangat luas, terdapat dapur mini, ruang tamu dan juga kamar beristirahat untuk pemegang saham penting rumah sakit. Ibu Haykal merupakan salah satu pewaris rumah sakit itu. Tidak hanya di California, mereka juga memiliki cabang medical center di Inggris."
Grep
Dengan cepat Albiano melingkarkan tangannya di kedua kaki wanita itu.
Wanita itu tersenyum tipis memandang wajah mengemaskan cucunya.
"Apa kalian sudah makan?" tanya wanita itu lembut.
"Belum Grandma...."
"Apa yang Grandma masak hari ini?" tanyanya antusias.
Sementara yang lain tersenyum tipis mendengar pertanyaan Albiano.