
Greyson mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti dengan ucapan istrinya. Bagaimana pun saat itu posisi istrinya masih amnesia pikirnya. Setidaknya dari cerita istrinya, Greyson bisa tahu apa yang dialami istrinya dan putra-putrinya selama 9 tahun ini.
"Sayang.... Lanjut ceritanya" seru Greyson. Ia meletakkan laptopnya di atas nakas yang ada di samping kasur.
"Di hari ulangtahun ketiga putra-putri kita, kakak dan kakak ipar datang kembali ke Brazil. Mereka membawa serta putra-putrinya. Saat itu, yang aku tahu mereka datang kesana karena ada urusan dengan keluarga Robert. Tanpa aku tahu kalau mereka memang sedari awal ingin menemui kami."
"Saat usia putra-putri kita kurang lebih jalan 3 tahun, kami memutuskan untuk ikut terbang ke Indonesia menemui mama dan papa. Namun saat itu aku hanya bisa membawa putra kita. Karena saat itu Alexa tidak mau jauh dari Sherina. Aku dan Dena memutuskan untuk menyewa baby sitter untuk menjaga mereka saat Dena pergi bekerja." sambung Stevi
"Pantas saja." gumam Greyson mengingat-ingat perkataan Jack beberapa hari yang lalu.
"Setelah itu kami tidak datang lagi ke Indonesia. kakak dan kakak ipar memutuskan saat si kembar uang tahun, mereka akan datang langsung ke Brazil. Dari sanalah awal mulai keakraban kami. Setiap hari kami saling bertukar kabar. Aku juga bertemu dengan mama dan papa disana." lanjut Stevi mengingat-ingat lagi kilasan Ingatan beberapa tahun lalu.
#
#
"Saat putra-putri kita berusia 7 tahun. Tanpa sengaja aku terpeleset saat bekerja di peternakan. Saat itu juga ingatanku tentang masa lalu berputar-putar di kepalaku. Setiap malam peristiwa itu menjadi mimpi buruk sekaligus sebagai ketakutan bagiku." sambung Stevi meneteskan air matanya.
"Setiap malam aku akan menangis tanpa sebab, merasa takut, cemas dan khawatir yang berlebihan. Terkadang aku tiba-tiba merasa bersalah, mudah marah dan sensitif." ujar Stevi mengingat kejadian setahun lalu. Sampai-sampai Silvia dan kedua orangtuanya merasa khawatir dengan kesehatan mental putri bungsunya.
Mata Greyson dan putra-putrinya berkaca-kaca mendengar ucapan Stevi. Tanpa sadar setetes air mata keluar dari sudut mata mereka.
#
#
Lalu pandangan Stevi beralih ke arah putranya "Setengah tahun Mommy menjalani terapi hingga sembuh. Setelah sembuh, mommy memutuskan untuk kembali. Namun karena merasa tidak tega meniggalkan Dena dan putrinya, Mommy memutuskan untuk menetap disana. Mommy tahu, Mommy telah mengambil keputusan yang cukup egois tanpa mempertimbangkan perasaan kalian...." lirihnya dengan mata berkaca-kaca menatap suami dan putranya bergantian.
"Namun lagi-lagi Mommy berpikir, jika tanpanya mungkin Mommy tidak akan ada bersama kalian saat ini. Mungkin tidak akan ada si kembar bersama kalian juga" sambung Stevi menangis sesenggukan. Lagi-lagi rasa bersalah itu terus-menerus menganggu pikiran dan hatinya.
"Berkat dukungan dan motivasi orang-orang yang menyayangi mommy, kami bisa bersama dengan kalian hari ini." Lirih Stevi menghapus air matanya.
Greyson sudah tidak sanggup lagi mendengar suara sesenggukan istrinya. Pria itu langsung beranjak dari atas tempat tidurnya. Ia mendekap erat tubuh istrinya.
"Tenanglah...."
Kata Greyson mengelus lembut puncuk kepala istrinya agar Ia lebih tenang.
...***Bersambung***...