
[Dari baik menjadi buruk, dari cinta menjadi benci dan begitu pula sebaliknya.] ujar Sherina menatap keluar jendela.
"Kau benar. Jadi mulai sekarang berhentilah diam-diam menangis setiap malam." ujar Alexa tiba-tiba.
Mata Sherin membesar mendengar perkataan Alexa.
[Apa kau mengetahuinya?]
"Tentu saja...."
"Apa kau lupa, aku memilih pendengaran yang cukup tajam." ujar Alexa tersenyum kecil mendengar respon Sherina.
Setiap malam Ia akan menangis tersedu-sedu sembari membekap mulutnya menatap selembar foto pernikahan nya. Alexa belum pernah melihat foto apa yang ditatap sahabatnya. Sehingga membuat Sherina menangis tersedu-sedu setiap malam.
Namun beberapa hari yang lalu semuanya sudah terbongkar. Ternyata Sherina sudah menikah lima tahun lalu dengan saudara kembarnya. Alexa yakin kedua orangtuanya sudah tahu mengenai pernikahan saudara kembarnya.
[Saat itu aku sedang dalam keadaan tertekan dan tidak terlalu paham dengan kehidupan yang ku lalui. Aku merasa hampa, kesepian dan hatiku terasa kosong saat itu.]
[Terima kasih Alexa....]
[Terima kasih sudah menemani hari-hariku.]
[Aku berdoa semoga adik iparku ini, secepatnya akan menemukan kebahagiaannya juga.]
Sherina tersenyum lega mengucapakan kalimat itu. Dia sangat bersyukur 2 tahun lalu bisa dipertemukan dengan Alexa. Jika tidak, Ia kemungkinan akan benar-benar merasa kesepian dan tertekan tanpa adanya dukungan dari orang terdekatnya.
Karena saat itu Sherina masih labil dan Ia datang sendiri ke negara yang belum pernah Ia kunjungi sebelumnya.
Apa lagi Sherina belum tahu dimana lokasi perusahaan Stevenson saat itu. Ia juga tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana saat bertemu dengan suaminya nanti.
Namun sekarang semuanya sudah kembali seperti harapannya. Stevenson benar-benar kembali ke pelukannya. Ia tidak akan kecolongan untuk kedua kalinya. Kali ini Sherina memaafkan tingkah gila papanya. Namun tidak untuk lain kali! Gion sudah mulai tumbuh menjadi anak cerdas dan aktif. Anak mereka juga pastinya sudah mulai mengerti dengan keadaan lingkungan sekitarnya.
"Baiklah, terima kasih untuk doanya kakak ipar. Nikmati malam panjang kalian untuk membuat keponakan yang lucu-lucu!"
"Aku mau pulang dulu."
"Bye" ujar Alexa mematikan panggilannya.
Gadis itu menghidupkan mobilnya dan mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran umum apartemen Stevenson.
#
#
Sementara di kolombia
Sherina tersenyum tipis menatap wallpaper ponsel suaminya. Ia lalu membalikkan tubuhnya melangkah menuju kamarnya.
Di kamar
Stevenson membaringkan tubuhnya mendekap tubuh tinggi putranya.
Cup
Stevenson mengecup lama kening putranya.
"I love you my son." ujarnya menatap hangat wajah putranya.
Tak beberapa lama terdengar suara pintu dibuka dari luar.
Cklek
Sherina terlihat masuk ke dalam kamar yang akan mereka tempati.
"Ini sayang...." ujar Sherina menyerahkan ponsel suaminya.
"Letakkan saja di atas nakas" sahut Stevenson memeluk putranya.
Gion merasa nyaman dengan dekapan Daddy-nya. Anak kecil itu melingkarkan kedua tangannya di lehernya kekar Stevenson.
Stevenson bisa mendengar suara napas teratur yang keluar dari Indra pernapasan putranya.
Sherina lalu ikut naik ke atas ranjang. Ia juga membaringkan tubuhnya di belakang putranya.
"Dia lebih merindukan Daddy ketimbang Mommy yang melahirkannya." ujar Sherin pura-pura cemberut.
Stevenson terkekeh geli melihat wajah cemberut istrinya. "Karena dia putraku. Tentu saja Gion merasa nyaman tidur di pelukan Daddy. Kami juga memiliki ikatan batin yang kuat sayang." ujar Stevenson mengenggam tangan istrinya.
"Tidurlah...."
"Kalau tidak...."
"Adik kecilku akan meminta jatah." bisik Stevenson mengedipkan sebelah matanya menggoda istrinya.
Sementara Sherina menyeringai kecil melihat tingkah suaminya. "Apa Daddy lupa dengan hukuman Daddy sebelum berangkat ke kolombia?"
"Daddy kan enggak dapat jatah selama 3 bulan. Mommy akan menghabiskan waktu Mommy merawat diri dan beristirahat." ujar Sherin tersenyum puas. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi putra dan suaminya.
"Tidak untuk besok sayang." ujar Stevenson tersenyum licik.
Kamar itu seketika sunyi senyap. Stevenson memperhatikan punggung kurus Istrinya. Namun tubuh Sherin sudah tidak bergerak lagi, mungkin Istrinya sudah tidur pikirnya. Stevenson memejamkan matanya memeluk hangat tubuh putranya.
Tak beberapa lama setelah Stevenson tidur, Sherina membalikkan tubuhnya menghadap suami dan punggung putranya. Ia lalu merapatkan tubuhnya agar semakin dekat dengan putra dan suaminya. Sherina melingkarkan tangannya di pinggang suaminya. Ia kemudian memejamkan matanya meresapi kehangatan tidur bersama keluarga kecilnya.
Stevenson tersenyum tipis tanpa membuka matanya merasakan rangkulan lengkap tangan istrinya.
......***Bersambung***......
...Note Beda jam California dengan Kolombia itu 3 jam, sementara California dengan Spanyol beda 9 jam. Jadi kalau di California masih siang kemungkinan di Spanyol sudah malam. Kalau kolombo dan California ibaratkan jam Papua dan Jakarta....