
Sementara Steven sedikit gugup mendengar pertanyaan beruntun Livia. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Sebab Ia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi setelah kepergiannya ke Inggris.
Terakhir kali Ia melihat Livia, saat wanita itu didekap kekasihnya di trotoar jalan yang tidak jauh dari penthouse miliknya.
Steven menarik tangan Livia dan mendudukkan istrinya diatas pangkuannya. Steven memeluk hangat tubuh tinggi istrinya. Pria itu terkadang takut kalau semisalnya ingatan istrinya kembali. Apa istrinya akan memaafkan nya saat ingatannya kembali atau tidak. Apa lagi Steven sudah melakukan kesalahan besar yaitu meniduri Livia dalam keadaan mabuk.
"Apa pun yang terjadi! kamu harus ingat satu hal! aku mencintaimu sejak lima tahun lalu hingga sekarang!" ujar Steven menenggelamkan wajahnya di dada istrinya.
Livia semakin curiga dengan tingkah berlebihan suaminya. "Apa Dia menyembunyikan sesuatu dariku?" monolognya dalam hati sambil menyeritkan keningnya.
Meskipun Livia curiga dengan tingkah Steven hari ini, namun wanita itu tidak bisa menutup mata dan telinganya mendapatkan perilaku yang baik dari Steven. Kalaupun Steven berniat jahat kepadanya, mana mungkin pria itu mengungkapkan perasaan cintanya berulangkali pikirnya.
Livia mengelus lembut kepala suaminya sembari menatap langit sudah mulai sore. Wanita itu tersenyum kecil menatap keindahan sunset dari balkon rumah yang mereka tempati.
#
#
Sementara seorang pemuda baru saja mendarat di bandara setelah mengudara seharian. Pemuda itu menyeret koper kecilnya melangkah keluar pintu kedatangan. Pemuda itu berusaha mencari-cari kekasihnya diantara kerumunan orang-orang. Karena terlalu sibuk dengan pencariannya, Ia tidak sadar sedari tadi seorang gadis muda sudah berdiri di belakangnya sembari menutup mulutnya menahan tawanya.
Gadis itu lalu menutup kedua mata pria itu dari belakang.
"Apa anda sedang mencari seseorang Mr Al?" bisiknya pelan membuat bulu kuduk pemuda itu berdiri.
"Sayang...."
"Apa kamu sedang mengerjaiku?" tanya pemuda itu tersenyum kecil merasakan aroma parfum familiar kekasihnya. Dari wangi parfum yang digunakan gadis itu saja, pemuda itu langsung mengenalinya.
"Grace apa kau tidak lelah berdiri dan menghalangi langkah orang-orang?" ujar Albara.
Sementara Grace langsung melepaskan tangannya saat mendengar perkataan kekasihnya. Ia merasa malu melihat orang-orang mulai menatap tajam kearah mereka.
Albara tersenyum kecil mendengar ucapan kekasihnya. Pemuda itu lalu membalikkan tubuhnya menghadap kekasihnya. Ia tersenyum hangat menatap wajah bersalah kekasihnya.
"Tenanglah...."
"Orang-orang tentu saja memaklumi tingkah kamu barusan. Namanya juga pengantin baru lagi bertemu setelah satu kurang lebih satu minggu tidak bertemu." ujar Albara menghibur kekasihnya.
"Ayo kita pulang"
"Aku sudah membawa oleh-oleh pesanan kamu." sambung Albara merangkul pinggang kekasihnya sembari menyeret kopernya keluar dari bandara.
"Apa kamu yang membawa mobil?" tanya Albara menghentikan langkahnya.
"Enggak dong sayang...."
"Mommy dan Daddy ada disini. Mereka tentu saja melarang ku membawa mobil dibawah umur."
"Aku datang kemari bersama sopir pribadi Opa dan Oma." sambung Grace tersenyum kecil menatap wajah tampan kekasihnya.
"Dimana mobilnya?" tanya Albara mengamati mobil-mobil yang terparkir di parkiran bandara.
"Itu!" tunjuk Grace mengarahkan jari telunjuknya kearah mobil yang biasanya mengantar jemputnya kalau lagi sekolah. Mereka lalu melangkah mendekati mobil yang di tunjukkan Grace. Tak beberapa lama seorang pria turun dari mobil mengangkat koper Albara.
Sementara Albara dan Grace langsung masuk ke dalam mobil di kursi penumpang.
"Apa kamu mau bertemu dengan Mommy dan Daddy?" tanya Grace tiba-tiba.
"Aku mau mengenalkan kamu kepada Mommy dan Daddy sebelum mereka kembali ke mansion klan king." sambung Grace menatap wajah terkejut Albara.
...***Bersambung***...