
Beberapa menit lalu keluarga Haykal sudah selesai makan makanan yang dibawakan ibunya. Mereka berbincang sebentar sebelum keluar dari ruangan ayahnya.
"Apa hari ini papi akan pergi ke taman bersama Albi??" tanya Albi mengelus perutnya.
"Hari ini kita akan pergi bersama Grandma dan Grandpa. Apa kau senang?"
"Tentu saja. Lalu kita akan pergi ke mall me
beli oleh oleh untuk Mommy dan main untuk Albi" ujarnya melompat-lompat kegirangan.
"Jangan melompat-lompat! Albu baru saja selesai makan." ujar ibu Haykal menatap wajah bahagia cucunya.
"Ops...." Albi menutup mulutnya dan menghentikan gerakannya. Anak itu tersenyum manis menatap wajah ibu Haykal.
"Albi lupa Grandma." ujarnya mendudukkan tubuhnya di samping Haykal.
"Apa kita akan ke taman bermain yang bisanya?" tanya ayah Haykal menatap hangat cucunya.
"Tentu saja Grandpa.' ujar Albi antusias. Meskipun anak itu kekurangan kasih sayang dari ibu kandungnya. Namun tidak dengan kasih sayang dari kedua orang tua Haykal.
Selama ini Albi tinggal bersama mereka saat putranya sibuk menempuh pendidikan spesialisnya. Kedua orang tua Haykal memberikan kasih sayang lebih untuk Albiano. Itulah mengapa Albiano sangat dekat dengan kedua orang tua Haykal.
"Ayo kita berangkat ketempat itu. Grandma dan Grandpa sudah tidak memiliki jadwal penting hari ini." ujar ayah Haykal berdiri dari duduknya.
"Papi akan menyusul kalian ke bawah. Papi mau ke ruangan papi terlebih dahulu." ujar Haykal menatap putranya.
"Baiklah Pi. Albi akan pergi duluan ke parkiran bersama Grandpa dan Grandma.
Haykal kemudian keluar dari ruangan ayahnya. Ia berniat memberitahukan asistennya terlebih dahulu bahwasanya Ia akan keluar beberapa jam menemani putranya.
#
#
Sementara kedua orangtuanya melangkah menuju lift dan turun kebawah. Sementara Albi terlihat anteng berada di gendong ayah Haykal. Saat akan berniat keluar menuju lobi rumah sakit. Sepasang mata biru menatap intens ke arah mereka. Ia merasa sangat familiar dengan wajah seseorang dari ketiga orang itu.
Kedua orang tua Haykal melanjutkan langkahnya tanpa menyadari tatapan orang itu. Mereka lalu masuk ke dalam kursi penumpang mobil Haykal.
"Albi mau duduk di depan bersama Papi." Seru Albi berusaha melepaskan pelukan ayah Haykal.
"Hati-hati" ujar ayah Haykal membantu cucunya melangkah ke depan. Anak itu lalu duduk di bangku samping kemudi.
15 menit kemudian Haykal membuka pintu mobilnya. "Maaf lama." ujarnya menghidupkan mobilnya.
Tak beberapa lama Alexa juga melangkah keluar dari rumah sakit menuju parkiran mobilnya. Gadis itu lalu mengemudikan mobilnya keluar dari rumah sakit menuju apartemen Stevenson.
#
#
Di parkiran apartemen Stevenson
Alexa duduk di depan kemudi tanpa menghidupkan mobilnya. Ia dengan serius mendengarkan perkataan Sherina sembari menatap lurus ke depan.
"Mulai sekarang berhati-hatilah saat kau berniat keluar. Mereka pasti akan mencari keberadaan mu." ujar Alexa mengingatkan sahabatnya.
"Aku akan berusaha menutup akses mu." ujar Alexa
[Baiklah adik ipar. Terima kasih untuk perhatianmu.] ujar Sherin tersenyum tipis dari seberang sana.
"Hey.... Apa kau merasa bahagia sekarang? pangeran kutub itu sudah menjadi milikmu. Apa sekarang nama panggilanmu berubah dari Sherina, sahabat, lalu menjadi kakak ipar?" goda Alexa.
[Hahahaha....] Sherina tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Alexa.
[Kau tahu? aku sangat bahagia. Meskipun luka di hatiku masih membekas. Namun rasa cintaku tidak akan pernah pudar untuknya. Aku tidak akan melepaskan saudara kembarmu, untuk malam ini dan malam-malam selanjutnya.]
"Wow...."
"Apa Sherina pemalu sudah berubah menjadi wanita agresif dan liar?" gurau Alexa tertawa cekikikan.
[Manusia bisa berubah Alexa....]
.......***Bersambung***......