IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Extra Part 28



"Ge, sepertinya kamu mabuk, Ya?" tanya Albiano yang berpikir kalau Gefanny sedang mabuk.


"Cih!" Gefanny berdecak ketus mendengar pertanyaan Albi.


"Anggap saja aku sedang ngomong ngelantur." ucap Gefanny langsung beranjak dan melepaskan jas yang menutupi bahunya.


"Nih. Aku kembalikan jas yang tadi kau pinjamkan. Terima kasih." ucap Gefanny pergi menuju salah satu vila yang ada di sekitar pantai.


Albiano menatap bingung kepergian Gefanny. Namun, kakinya tetap melangkah mengikuti langkah Gefanny yang hampir menghilang dari pandangannya.


Di dalam vila Gefanny melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Ia hanya memiliki waktu sekitar dua jam lagi bersama Albi. Ia terlihat berkutik di dapur vila yang sebelumnya sudah Gefanny sewa. Ia ingin dinner romantis bersama Albiano sebelum hari ini usai.


"Ge, bukankah harusnya aku yang memasak untuk mu? Kamu tidak usah repot-repot memasak untukku. Biarkan aku membuatkan makan malam spesial dihari spesial mu." ujar Albiano menghentikan aktivitas Gefanny.


"Tidak perlu. Biarkan aku saja yang melakukannya." kekeuh Gefanny tidak mau beranjak dari dapur.


Albiano kekeuh meminta Gefanny untuk duduk dan menunggu nya di meja makan. Hingga akhirnya Gefanny mengalah dan melangkah menuju meja. Alih-alih duduk di meja makan. Gefanny berinisiatif mendekorasi meja makan dan menyajikan dua gelas wine di atas meja. Tidak lupa Gefanny juga menyalahkan sebuah lilin agar suasana dinner itu semakin romantis.


Beberapa menit kemudian, Albi menyajikan steak di atas dua piring bulat yang sebelumnya sudah di sediakan Gefanny sebelumnya.


Setelah selesai, Albi membawanya menuju meja makan. Ia terkejut melihat meja makan sudah di dekorasi oleh Gefanny.


"Apa kamu yang melakukannya?" tanya Albiano tersenyum tipis.


"Agar makan malam hari ini sedikit berbeda?" celetuk Gefanny tersenyum kecil.


"Ya. Aku ikut senang dengan hal yang kamu lakukan." jawab Albiano membantu memotong steak Gefanny dan meletakkan steak daging tersebut di depan Gefanny.


"Terima kasih." ujar Gefanny tersenyum tipis.


Albiano tersenyum lembut membalas ucapan Gefanny.


Mereka menikmati makan malam itu dengan tenang.


"Cheers to my birthday." ujar Gefanny tersenyum kecil.


Albiano langsung mengangkat gelas wine miliknya.


"Cheers."


Albiano tersenyum hangat menatap Gefanny.


"Maafkan aku Al. Aku tidak mau kehilangan kamu." monolog Gefanny dalam hati.


Beberapa menit kemudian Albi merasa tubuhnya tiba-tiba berkeringat. Padahal hawa dingin di pantai itu akan terasa sangat dingin di malam hari. Gefanny bisa melihat ketidaknyamanan Albiano dari seberang meja.


"Kenapa tubuh ku tiba-tiba berkeringat seperti ini?" gumam Albi dalam hati.


"Al, apa kamu baik-baik saja?" tanya Gefanny pura-pura tidak tahu.


"Ge, aku merasa ada yang aneh dengan tubuhku. Apa kau menaruh sesuatu di salah satu makanan yang kita makan?" tuduh Albiano dengan raut curiga menatap Gefanny.


"Apa kamu sedang menuduh ku meracuni mu?" tanya Gefanny pura-pura sedih.


"Ge, aku bukan menuduh mu. Tapi, aku merasa tubuh ku tiba-tiba bergairah." jawab Albiano tiba-tiba merasa bersalah melihat tatapan sedih Gefanny. Namun, saat Albiano merasa tubuhnya semakin panas. Ia dengan cepat berlari menuju kamar mandi. Ia tidak bodoh. Ia tahu Gefanny telah mencampur sesuatu di minuman yang sebelumnya mereka konsumsi.


Albiano langsung mengunci pintu kamar mandi. Ia tidak mau melakukan hal yang tidak-tidak. Ia tidak boleh merusakkan wanita yang dicintainya.


"Al! Apa kamu baik-baik saja!" tanya Gefanny mengetuk pintu kamar mandi.


Tok


Tok


Tok


"Ge! Pergilah! Aku baik-baik saja." ujar Albiano berusaha menghilangkan rasa panas di tubuhnya. Ia mengisi bathtub hingga penuh dan berendam di sana selama satu jam. Namun, kondisi tubuhnya tidak kunjung kembali normal.


"Sial! Sepertinya dosis obat perangsang di wine itu sangat banyak!" umpat Albiano memejamkan matanya menahan rasa panas di tubuhnya.


Di luar kamar mandi Gefanny berlari mencari kunci cadangan kamar mandi. Gefanny lalu membuka pintu kamar mandi dengan kunci cadangan dan membuka pintu dengan pelan.


Ceklek


Gefanny melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan memberanikan diri masih ke dalam bathtub saat Albiano masih memejamkan matanya.


"Al...." lirih Gefanny duduk di atas pangkuan Albiano.


Deg


Albiano terkejut melihat Gefanny sudah berada di dalam bathtub bersamanya.


"Ge, keluarlah! Aku tidak ingin menyakiti mu!" bentak Albiano dengan tegas berniat beranjak dari dalam bathtub.


"Aku tahu, kamu yang memasukkan obat perangsang ke dalam wine yang aku minum, Ge. Aku akan memaafkan mu, Ge. Tapi, aku tidak mau menjadi pria brengsek dan pecundang. Apa lagi harus melakukan hal licik untuk mendapatkan apa yang kuinginkan." lanjut Albiano sembari menyindir tindakan Gefanny yang keterlaluan.


"Ya! Aku memang memasukkan obat perangsang ke dalam wine yang kamu minum Al! Tapi, aku melakukan semua ini karena aku mencintaimu!" ujar Gefanny dengan suara pelan.


Albiano mengabaikan perkataan Gefanny. Ia tidak mau hanyut dalam perkataan Gefanny. Karena Albiano sadar Gefanny tidak akan pernah menjadi miliknya. Haykal tidak akan pernah merestui hubungan mereka.


Saat Albiano ingin membuka pintu kamar mandi panggilan Gefanny menghentikan langkahnya.


"Al...." lirih Gefanny menatap punggung kekar Albiano dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tulus mencintai mu sejak aku berusia 10 tahun. Dulu, Aku berpikir bahwa perasaan ku ini hanyalah perasaan semu. Namun, setiap kali aku mengingatmu. Jantungku berdetak sangat kencang. Aku ingin mengabaikan perasaan ini. Namun, aku tidak bisa Al! Aku tidak bisa! Aku sudah mencobanya! Tapi, aku tidak bisa!" teriak Gefanny meneteskan air mata.


Deg


Deg


Deg


Albiano mengepalkan kedua tangannya mendengar perkataan.


"Jika kamu melangkah keluar dari kamar mandi ini. Aku pastikan, kamu akan kehilangan ku selamanya, Al." ancam Gefanny benar-benar sudah terobsesi dengan Albiano.


"Lebih baik aku mati dari pada melihat mu bersanding dengan wanita lain." lanjutnya dengan tegas. Ia benar-benar yakin dengan perkataannya. Ia mau melihat Albiano bersanding dengan wanita lain. Ia sering kali melihat Albiano dekat dengan beberapa wanita. Meskipun status para wanita itu hanya teman masa kuliah ataupun rekan kerjanya.


Albiano langsung membalikkan tubuhnya mendengar perkataan Gefanny. Ia menatap kedua mata Gefanny yang sudah dibanjiri air mata.


"Aku serius dengan ucapan ku." tegas Gefanny saat melihat keraguan di bola mata Albiano. Ia yakin Albiano tidak percaya dengan ancamannya barusan.


"Lakukan saja. Aku tidak peduli." ucap Albiano membalikkan tubuhnya dan keluar dari kamar mandi.


Setelah satu menit keluar dari kamar mandi. Albiano mendengar suara pecahan kaca dari kamar mandi.


"Argh!!!!!!"


Prang!!


Gefanny tidak main-main dengan ucapannya. Ia meninju kaca kamar mandi dengan kuat hingga tangan kanannya berdarah.