
Alexa melangkah menuju kamarnya setelah seharian mengudara. Ia merasa tubuhnya sedikit pegal dan lelah. Sementara Paskal menghentikan langkahnya saat melihat Alexa bergegas menuju kamarnya.
"Ah sial! kelamaan!" dengusnya membalikkan langkahnya keluar mansion.
Setibanya di luar mansion Paskal bertemu dengan Ayahnya. Rain baru saja datang dari arah lab penelitian.
"Mengapa kau ada disini?" tanya Rain menyeritkan keningnya menatap wajah kesal putranya.
"Nona muda baru saja datang ke mansion klan king Pa."
"Bolehkah aku berandai-andai menjadi suaminya?" bisik Paskal mendekati ayahnya.
"Kita tidak mungkin bisa melampaui keluarga Douglas! jangan berharap terlalu jauh!" ujar Rain menepuk lembut bahu putranya sebelum masuk ke dalam mansion belakang tempat tinggal mereka.
Sementara Paskal terdiam lama menatap kosong punggung Ayahnya yang terlihat semakin kecil di pandangannya.
Pemuda itu menghembuskan napasnya menatap balkon kamar Alexa.
"Sepertinya akan sulit menaklukan hatinya! apa lah dayaku hanya seorang anggota klan king! aku bukan seorang pengusaha ataupun mafia penguasa!" dengusnya kepada dirinya sendiri.
Sementara Alexa menatap dalam punggung lebar pemuda itu dari atas balkon kamarnya. Gadis itu tersenyum kecil mendengar perkataan pria itu.
"Setidaknya kita memiliki hobi yang sama pria tengil!" monolognya kembali masuk ke dalam kamarnya.
#
#
Di Bandara
Haykal dan Albiano baru saja keluar dari bandara kedatangan internasional kota Madrid.
"Pi! apa Mommy akan bahagia bertemu denganku?"
Albiano tersenyum bahagia mengamati suasana di luar bandara. Apa lagi terlihat banyak orang-orang dan kendaraan yang berlalu lalang disana. Anak itu terlihat sudah tidak sabaran bertemu dengan ibunya.
"Tentu saja! Mommy mu pasti bahagia melihat putranya sudah tumbuh sebesar ini." sahut Haykal menanggapi pertanyaan putranya.
"Ke kediaman saja dulu. Saya sendiri yang akan pergi ke rumah sakit!" sahut Haykal mendudukkan tubuh putranya di atas pangkuannya.
"Papi!"
"Coba lihat itu!"
Tunjuk Albiano kearah pesawat terbang yang mau landing di bandara internasional Madrid. Anak itu terlihat antusias menatap ukuran pesawat itu.
"Bukankah kita tadi naik di pesawat sebesar itu juga?" tanya Haykal mengamati mimik wajah putranya.
"Benar! tapi Albi tidak melihat rupa pesawat itu dari luar." ujarnya mengalihkan pandangannya ke arah depan.
"Suatu hari kamu pasti akan memilikinya jika mau bekerja keras!" balas Haykal mengelus kepala putranya.
#
#
Setibanya di kediaman keluargannya
Haykal langsung turun dari mobil yang mereka tumpangi sembari mengendong putranya. Sementara supir pribadi pria itu langsung mengeluarkan koper bawaan mereka dan memasukkannya ke dalam kediaman Haykal.
"Bibi!!" teriak Haykal memanggil ART yang bertugas membersihkan dan menjaga kediaman kedua orangtuanya.
"I-iya Aden!" sahut seorang wanita paruh baya berjalan tergesa-gesa menghampiri Haykal dan Albiano yang masih tertidur pulas.
"Bibi! nanti jaga Albiano ya! saya mau ke rumah sakit memeriksa sesuatu! jika Albi lapar berikan makanan kesukaannya.!" ujar Haykal melanjutkan langkahnya menuju kamarnya.
Pria itu membaringkan tubuh Albiano di atas ranjang dengan hati-hati agar tidak menggangu tidur pulas nya.
Setelah melihat putranya tidur dengan nyaman, Haykal lalu menyelimuti tubuh putranya. Pria itu lalu keluar dari kamar setelah menghidupkan AC kamarnya.
"Bibi, dengar-dengar kalau Albiano merengek saat bangun nanti! jika dia bertanya saya dimana! katakan saja saya sedang membeli makanan!" tegas Haykal keluar dari kediaman keluargannya.
...***Bersambung***...