
"Grace lepaskan tanganmu dari pria itu!" tegas Greyson tidak mau dibantah. Ia lalu berdiri dari duduknya mereka sedari tadi sudah selesai sarapan sebelum kedatangan Jordan.
"Dad!" mohon Grace menolak permintaan Daddynya. Namun melihat wajah merah padam Daddynya, Grace langsung melepaskan genggaman tangannya yang sedari tadi melingkar di lengan Albara.
"Masih dibawah umur 20 tapi sudah pacar-pacar!"
"Apa yang bisa di banggakan?" dengus Greyson menatap tajam wajah tenang Albara.
"Dad! jangan terlalu menekan Al!" dengus Grace menatap Stevi penuh permohonan agar menghentikan tindakan Daddynya.
"Apa putri bungsu kesayangan Daddy ini lebih membela orang asing ketimbang Daddynya sendiri!" tanya Greyson memincingkan matanya menatap wajah putrinya.
"Dad! Albara datang kesini hanya mau singgah sebentar menyapa kalian!" terang Grace mempertegas tujuan kedatangan Albara. Ia tidak mau Daddynya salah paham dengan kedatangan kekasihnya.
"Tapi tidak harus nempel-nempel seperti tadi! apa kamu tidak ingat usiamu masih di bawah umur!" tegas Greyson menatap tajam wajah memelas putrinya.
"Daddy! Maaf..." lirih Grace mendengar perkataan Daddynya.
"Om! maafkan saya karena datang tiba-tiba. Saya kemari karena keinginan saya sendiri, karena Grace bilang kalau kalian sedang ada di Korea. Perkenalkan nama saya Albara Oliver dan saya berkebangsaan Spanyol. Saya di Korea sedang bersekolah dan kebetulan kami menempuh pendidikan di sekolah yang sama!" terang Albara menundukkan sedikit kepalanya menyapa Greyson yang sedari tadi menatapnya tajam.
Albara sama sekali tidak taku dengan tatapan ayah kekasihnya, karena pemuda itu sudah terbiasa dengan tatapan seperti itu. Dia juga merupakan seorang pemuda yang misterius yang sedang bersembunyi di balik penyamarannya sebagai seorang pelajar.
"Cih!! kau pikir aku tidak tahu penyamaran mu!!" dengus Greyson dalam hati mengacuhkan penjelasan Albara.
"Dad!" ujar Grace penuh permohonan
"Baiklah Daddy akan menyetujui hubungan kalian! tapi jika pria itu berani melukai putri Daddy...."
Bagaimana mungkin putrinya lebih membela pemuda yang baru Ia kenal. Ketimbang Daddynya yang selama ini menimangnya sejak bayi dan memanjakannya sampai tumbuh menjadi gadis cantik seperti sekarang ini pikirnya.
"Opa juga akan melakukan hal yang sama jika pemuda itu berani melukai cucu bawel Opa ini!" ujar Opa nya tiba-tiba berdiri dari duduknya.
"Makanlah! Opa tahu kalian belum makan!" sambung King Douglas berlalu dari ruangan makan.
"Makanlah! perkataan Opa jangan di ambil hati! Hem!" ujar Rachel sebelum mengikuti langkah suaminya.
"Sayang ayo duduk! Tante dan Oma sudah masak beberapa menu sarapan pagi untuk kalian! jangan sungkan dengan keluarga Douglas!" ujar Stevi mempersilahkan kekasih putrinya duduk di seberang meja suaminya.
Grace tersenyum puas mendengar perkataan mommy-nya. Gadis muda itu lalu meletakkan koper kekasihnya lalu menarik tangan Albara duduk di kursi seberang Daddynya. Jadi Grace duduk di seberang Mommynya.
"Ayolah Dad! mukanya dikasih senyum dikit aja! entar para pemuda di luar sana malah takut mendekati putri-putri kita! Daddy mau kedua putri kita menjadi jomblo seumur hidup sementara saudara laki-lakinya sudah pada menikah, memiliki anak dan akan segera memiliki anak!" bisik Stevi pelan di telinga suaminya. Wanita paruh baya itu menarik pelan pergelangan tangan suaminya agar duduk kembali di kursi meja makan.
"Tapi Grace masih muda sayang!" dengus Greyson berbisik pelan membalas perkataan istrinya. Tapi pria itu tetap menuruti perkataan istrinya mendudukkan bokongnya di kursi meja makan.
"Sementara untuk Alexa...."
"Daddy sudah menemukan pria yang cocok untuknya!" sambung Greyson mengamati wajah tampan Albara.
Sementara Stevi termenung lama mendengar perkataan suaminya.
"Apa Greyson berniat menjodohkan Alexa?" batin Stevi menatap dalam wajah tenang suaminya.
...***Bersambung***...