
Di Kolombia
Sepasang suami istri masih tertidur pulas di atas ranjang saling mendekap. Mereka masih belum terusik dengan cahaya matahari yang masuk menembus gorden jendela kamar mereka. Panas cahaya matahari yang semakin tinggi tidak bisa membangunkan mereka dari tidur lelap Stevenson dan juga istrinya Sherina. Mata mereka masih terpejam, saling menyalurkan rasa hangat dan sentuhan ternyaman di dalam dekapan masing-masing.
Sementara Gion tertawa cekikikan melihat tingkah mesra kedua orangtuanya. Saat tadi pagi terbangun dari tidurnya, Anak itu merasa suasana pagi hari terasa berbeda untuk pertama kalinya.
Anak itu sangat senang melihat kedua orangtuanya tertidur lelap di samping kiri-kanannya. Biasanya saat Anak itu bangun, Ia hanya akan melihat wajah kakek dan neneknya. Namun tidak dengan hari ini! tentu saja hari ini sangat berbeda dari sebelumnya! Ia bisa menikmati hari-harinya bersama Mommy dan Daddynya mulai dari sekarang.
Ia mengamati wajah terlelap kedua orang tuanya, hatinya menghangat melihat pemandangan asing itu.
Gion mengecup pipi Sherina berulangkali untuk membangunkannya. Bukannya bangun Sherina malah menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
Gion tidak mau menyerah membangunkan kedua orangtuanya. Matanya lalu beralih ke wajah terlelap daddynya. Dengan hati-hati Gion turun dari ranjang karena tidak bisa menjangkau kepala daddynya. Ia lalu melangkah melewati kaki ranjang.
Anak itu lalu naik lagi ke ranjang dengan posisi Stevenson membelakangi Gion. Ia melingkarkan kedua tangannya di leher Stevenson. .
Stevenson langsung membuka kedua matanya saat pria itu merasa tangan anak kecil melingkarkan di lehernya. Stevenson merasa geli dengan tindakan tiba-tiba putranya.
Stevenson lalu membangunkan istrinya setelah mengecup kepala isterinya.
Cup
"Good morning my wife."
"Ayo bangun, apa kamu tidak malu kepada mama mertua? dihari pertama disini, kita malah bangun kesiangan." ceramah Stevenson melepaskan pelukannya.
"Enghh...."
"Alexa aku masih ngantuk. Tunggu sebentar lagi." gumam Sherina tanpa membuka matanya. Ia semakin menenggelamkan wajahnya ke dalam dada bidang suaminya.
Gion cekikikan mendengar gumaman pelan Mommy Nya. Ia menatap ekspresi jahil daddynya.
"Adik kecilku akan masuk ke sarangnya kalau kamu tidak mau bangun sekarang juga!" bisik Stevenson dengan nada mengancam.
Sherina langsung terbangun dari tidurnya. Ia menatap lama dada bidang Stevenson hingga tersadar dari ingatanya.
"Sherina...."
"Mengapa Lo jadi pelupa begini sih." ujarnya dalam hati lalu melepaskan tangannya dari pinggang suaminya.
Pipi wanita itu langsung berubah menjadi merah merona. Ia malu dengan tingkahnya, apa lagi ekspresi tersipu-sipu itu diperlihatkan langsung di depan putranya.
"Ma-maafkan aku." lirih Sherina menjauh dari tubuh suaminya.
Stevenson tersenyum kecil melihat wajah malu-malu istrinya.
"Mengapa wajahmu masih terlihat malu-malu seperti itu. Bukankah kita sudah menikah selama lebih dari 5 tahun? harusnya kamu sudah terbiasa dengan suasana seperti ini." ujar Stevenson membelakangi istrinya. Pria itu tersenyum hangat menatap wajah putranya yang sedari tadi tertawa cekikikan melihat tingkahnya dan istrinya.
"Apa kamu bahagia bisa tidur dengan daddy dan mommy?" tanya Stevenson mendudukkan tubuhnya. Ia lalu mengangkat tubuh putranya ke atas pangkuannya.
"Tentu saja. Gion berharap setiap hari bisa tidur bersama kalian." cetus putranya antusias meletakkan kepalanya di dada bidang Daddynya dan menatap wajah malu-malu Mommynya.
"Tapi kamu harus belajar tidur sendiri mulai dari sekarang kalau kamu mau adik bayi." cetus Stevenson tanpa malu.
Sementara Sherina membulatkan matanya mendengar perkataan suaminya. Ia mendelik tajam menatap kearah suaminya.
"Jangan berbicara mengenai hal seperti itu di hadapan putra kita!" dengus Sherina memutar bola matanya jengah.
"Benarkah dad?"
"Gion ingin adik kecil agar mansion penuh dengan suara tangisan adik bayi. Gion akan mengajari mereka bagaimana cara menembak, memanah, berburu dan juga berkuda."
"Gion berharap bisa mendapatkan sepasang adik kembar agar mansion semakin rame." celetuknya tiba-tiba mengenggam kepalan tangan Daddynya.
Deg
...***Bersambung***...