
"Tidak bisa." sela Steven dengan cepat. Ia tidak mau Albara dekat-dekat dengan istrinya. Apa lagi posisinya Livia sedang menyusui putri mereka.
"Kakak ipar sedang menyusui Ayana. Lebih baik Abang aja yang mengendong Albiano. Ia juga ingin melihat bagaimana rupa saudarinya." saran Grace duduk di sofa ruangan itu.
Steven menyetujui saran Grace. Ia langsung mengendong tubuh berisi putranya.
"Bagaimana menurut mu? bukankah saudarimu terlihat sangat mengemaskan?" tanya Steven tersenyum lebar.
"Ya. Dia sangat cantik dan imut. Ia terlihat sangat mirip dengan Daddy." kata Albiano menyetujui pendapat Daddynya.
"Daddy berharap kalian akan menjadi garda terdepan untuk saudara dan saudari kalian suatu hari nanti." ujar Steven menatap Albiano dan Gionino bergantian.
"Kami pasti akan menjaganya Dad. Aku akan menyeleksi para pemuda yang ingin mendekati Ayana." sahut Gionino tersenyum lebar.
Semua orang yang ada di sana tersenyum tipis mendengar penuturan Gionino.
Livia mengalihkan pandangannya kesamping memperhatikan pipi cabi putra pertamanya.
Ia tiba-tiba tertegun melihat Albara ada disana.
"Al...." gumam Livia dengan suara pelan, namun masih bisa di dengar oleh Steven. Sementara Albara menggelengkan kepalanya agar Livia tidak mengungkapkan identitasnya.
"Al? siapa Al?" tanya Steven tiba-tiba cemberut.
"Albiano sayang...." ujar Livia membuat wajah Steven berubah ceria.
"Apa kalian sudah makan malam?" timpal Livia bertanya.
"Belum. Kami sangat antusias menyambut kelahiran Ayana. Rasa lapar kami tiba-tiba hilang melihat wajah cantik putri kita." tutur Steven dan disetujui oleh semua orang.
Livia tersenyum manis mendengar perkataan suaminya. Ia cukup senang melihat beberapa keluarga mereka bisa hadir ditengah-tengah kebahagiaan mereka.
"Lebih baik kamu istirahat dulu, putri kamu juga terlihat mulai memejamkan kedua matanya."kata Stevi menyuruh semua yang ada di ruangan itu keluar dan membiarkan Livia istirahat.
Semua orang terlihat menikmati makan malam mereka masing masing. Tiba-tiba Albara berdiri dari duduknya dan ijin ke toilet. Pemuda itu benar-benar merindukan saudarinya.
"Apa ada toilet di sekitar sini?" tanya Albara berbisik pelan.
"Ada, di dapur belakang. Namun toilet yang dibelakang sepertinya sedang digunakan pelayan." kata Grace menghentikan kunyahan-nya.
"Aku kebelet ingin Buang air kecil." ujar Albara seperti sedang menahan sesuatu.
"Kami bisa menggunakan kamar mandi di kamarku." sahut Grace. Mereka tidak menyadari tatapan penuh tanda tanya dilayarkan semua orang kearah mereka.
"Apa kamu baik-baik saja?"tanya Greyson dengan dingin.
"Biarkan seorang pelayan mengantar kalian." kata Grayson memerintahkan seorang pelayan menemani Grace mengantar Albara ke kamarnya. Ia tentu saja tidak mau kekasih putrinya melakukan hal yang tidak -tidak.
"Baiklah. Terserah Daddy saja." Grace menuruti perkataan Daddynya.
Seorang pelayan mengikuti langkah Albara dan Grace dari belakang. Ia cukup terkejut melihat Grace sudah berani menunjukkan bagaimana rupa kekasihnya kepada keluarganya. Iya sangat yakin, kekasih sang nona kecil juga berasal dari keluarga kaya raya.
Cklek
"Masuklah. Kamar mandi di kamarku ada di sebelah kanan pojok." ujar Grace tersenyum manis. Ia duduk di atas tempat tidurnya sembari bermain handphone.
Di kamar mandi
Albara berjalan kesana kemari memikirkan bagaimana caranya menemui saudarinya. Karena kediaman klan king dijaga ketat. Dimana-mana ada mata yang mengawasi gerak-geriknya.
Albara menghembus napasnya menatap wajahnya di pantulan cermin.
Di luar kamar mandi, Grace melirik sekilas ke jam yang melingkar di tangannya. Ia merasa tingkah Albara sedikit aneh setibanya di kediamannya. Tak biasanya pria itu bertingkat mencurigakan seperti itu.
Tok
Tok
Tok
"Sayang.... apa kamu masih lama di dalam. Kalau kamu masih lama, aku mau duluan ke bawah." ujar Grace dengan sedikit nyaring.
Albara tersenyum senang mendengar perkataan Grace. Seketika ide kecil muncul di otak kecilnya.
"Sayang.... sepertinya perutku masih sedikit mules. Sebaiknya kamu duluan turun ke bawah. Aku sepertinya masih sedikit lama."sahut Albara dengan suara dibuat-buat untuk lebih menyakinkan Grace.
"Baiklah.... aku suruh pelayan tunggu di luar pintu." kata Grace berlaku dari kamarnya. Ia tidak mau memikirkan hal yang tidak-tidak mengenai Albara. Karena bagaimanapun mereka sudah saling mengenali cukup lama.
Grace berlalu dari kamarnya menuju lantai bawah berkumpul dengan keluarganya. Ia melihat semua keluarganya sudah berkumpul di ruang tamu sembari mengobrol.
"Dimana pria itu?" tanya Greyson menatap putrinya.
"Albara sedang sakit perut. Aku menyuruh pelayan menunggunya hingga selesai" sahut Grace duduk di sebelah Stevi.
Greyson menaikkan sebelah alisnya mendengar perkataan putrinya. Entah mengapa ada sedikit rasa curiga di hatinya setelah kedatangan Albara ke kediaman mereka. Apa lagi identitas Albara sangat rahasia dan susah di gali.
...***Bersambung***...