
"Pa-panggilan telepon dari Daddy anda Tuan." ucap Robert sedikit gugup.
"Tidak usah diangkat! kita berangkat ke mansion klan king setelah istriku sadar!" ujar Steven meninggalkan ruangan tamu.
"Apa tadi kau juga mendengar perkataan pria tadi?" tanya Jesica setelah kepergian Steven.
"Perkataan yang mana?" tanya Robert menyeritkan keningnya tidak mengerti arah ucapan Jesica.
"Pria itu berkata kalau Dia dan Nona muda memiliki seorang putra. Apa mereka sudah memiliki anak? bagaimana mungkin Tuan muda melakukan hal sebejat itu kepada istri orang!" celetuk Jesica tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Apa kau juga tidak mendengar perkataan sebelumnya pria itu?" tanya Robert memincingkan matanya menatap ekspresi bingung Jesica.
"Pria itu berkata kalau Nona muda adalah kekasihnya di masa lalu! bukan istrinya!" ucap Robert penuh penekanan.
"Jadi, ada kemungkinan anak itu putra Tuan dan Nona muda?" tanya Jesica memastikan dugaannya.
"Aku harus memberitahukan kabar bahagia ini kepada Nyonya muda." sambung Jesica antusias mengeluarkan ponselnya. Namun ucapan Robert menghentikan tangannya.
"Jangan! apa kau sudah lupa dengan perkataan Tuan muda! kita akan berangkat ke sana setelah Nona muda sadar!" ujar Robert berlalu dari sana.
"Ta-tapi, apa Tuan dan Nona muda tidak mau membawa putra mereka ikut serta?" tanya Jesica menghentikan langkah Robert.
Robert terdiam lama mendengar perkataan Jesica.
"Sepertinya membawa Tuan kecil akan sangat sulit. Apa lagi kondisinya Nona muda sedang amnesia disosiatif." ucap Robert terdiam lama.
"Bagaimana kalau kita menculik Tuan kecil saja?" celetuk Jesica tiba-tiba memberikan saran kepada Robert.
#
#
Sementara di kamar
Steven membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Pria itu termenung lama menatap langit-langit kamar yang mereka tempati.
Enghh
Lenguhan Livia membuyarkan lamunan Steven
Livia lalu mengerjapkan matanya memperjelas pandangannya. Ia lalu mengalihkan pandangannya kearah samping kirinya. Pandangannya dan Steven saling bertemu beberapa saat hingga Livia memutuskan pandangan mereka.
Livia lalu bangun dari tempat tidur melangkah menuju balkon tanpa berbicara sepatah katapun kepada suaminya.
Steven cukup bingung dengan perilaku Livia. Ia lalu turun dari tempat tidur mengikuti langkah istrinya. Pria itu membalut tubuh Livia dengan selimut tipis agar tidak masuk angin.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Steven mendekap tubuh istrinya dari belakang.
Tubuh Livia gemetaran saat di peluk oleh Steven, namun Livia tetap berusaha menahan rasa takutnya.
Livia melepaskan tangan suaminya dengan halus.
Steven bisa merasakan tubuh gemetaran istrinya. Ia bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Penolakan Livia membuat darah pria itu mendidih, karena perilaku Livia seperti itu mengingatkannya akan kejadian lima tahun yang lalu.
"Apa kau sudah mengingat semua?" tanya Steven perlahan memundurkan tubuhnya.
Livia diam tak bergeming sama sekali mendengar pertanyaan suaminya.
"Mengapa kau kembali setelah lima tahun berlalu?" tanya Livia tanpa membalikkan tubuhnya.
"Apa karena dendammu sudah terbalaskan?" sambung Livia membalikkan tubuhnya.
"Apa kau tahu bagaimana hancurnya hatiku saat mendengar kalimat yang keluar dari mulutmu lima tahun lalu?" tanya Livia lagi dengan suara bergetar.
"Aku--"
"Stop!! jangan sentuh aku dengan tangan kotor mu!!" teriak Livia
"Livia, aku--"
"Namaku Albina!! bukan Livia! kau tidak memiliki hak sama sekali memanggil namaku!!"
"Apa salahku hingga kau tega menghancurkan hidup ku lima tahun yang lalu?"
...***Bersambung***...