
Sudah jalan dua bulan pernikahan tersembunyi mereka. Stevenson tetap melakukan rutinitasnya seperti biasa begitupun dengan Sherin. Wanita itu juga melakukan rutinitas yang sama. Setelah selesai kuliah, Ia akan bekerja di cafe miliknya. Suaminya akan datang menjemputnya dua jam sebelum cafe miliknya tutup.
Hoek Hoek Hoek
Suara muntahan terdengar nyaring di dalam toilet ruangan Sherin. Ia merasa akhir-akhir ini Indra penciumannya sedikit sensitif.
"Apa aku masuk angin lagi akibat suka mandi malam-malam?" monolognya memijit dahinya.
Sherin melangkah menuju kursi kebesarannya. Ia memutuskan untuk tidak bekerja part time lagi di cafe miliknya. Ia cukup lelah setiap malam harus melayani suaminya diatas ranjang.
Tok tok tok
"Nona sejam lagi cafe akan tutup. Apa anda belum dijemput?" tanya Jenny menatap wajah pucat Sherin.
"Apa anda baik-baik saja Nona?" tanya Jenny lagi saat melihat Sherin memijit dahinya.
"Aku tidak tahu mengapa Indra penciumanku sedikit sensitif akhir-akhir ini. Kepala ku juga sedikit pening." lirih Sherin pelan.
"Bagaiman jika kita memeriksa keadaan Nona ke rumah sakit. Saya takut anda mengalami gejala anemia." ujar Jenny mencemaskan keadaan Sherin.
"Masak iya sih?" tanya Sherin mengerutkan keningnya.
"Bisa jadi Nona." ujar Jenny polos.
"Baiklah. Tolong pesankan taksi sekarang juga. Tutup cafe sekarang juga." ujar Sherin mengemasi barang-barangnya.
#
#
Di rumah sakit
Sherin dan Jenny melangkah menuju ruangan dokter melakukan pemeriksaan. Saat melangkah menuju ruang pemeriksaan Sherin seperti melihat sekilas seorang pria yang memiliki poster tubuh yang sama seperti suaminya.
"Bukankah dia mengatakan jika dia sedang mengemudi dan segera menjemput ku di cafe?" gumam Sherin sembari melangkah menuju ruangan dokter. Ia tidak mau berpikir yang tidak-tidak terhadap suaminya.
Cklek
"Silahkan Nona. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang dokter paruh baya kepadanya.
"Dokter akhir-akhir ini Indra penciuman saya sangat sensitif. Barusan juga saya mengalami gejala muntah-muntah." ujar Sherin pelan
"Baiklah. Silahkan gunakan alat ini di toilet sebelah kiri." ujar dokter itu memberikan satu testpack kepada Sherin. Sherina tentu saja tahu apa maksud dari dokter itu.
Sherina lalu melangkah menuju toilet. Ia memasukkan testpack di dalam tabung kecil. Ia menunggu beberapa menit mendapatkan hasil testpack yang Ia gunakan.
Sherina kemudian keluar dari toilet membawa testpack yang Ia gunakan tadi.
"Bagaimana hasilnya?" tanya dokter itu.
Sherina menyerahkan testpack itu kepada dokter paruh baya itu.
"Selamat Nyonya.... Anda positif hamil." ujar dokter itu tersenyum manis menatap wajah terkejut Sherina.
"Benarkah. Aku hamil? tidak lama lagi aku akan menjadi seorang ibu?" monolognya dalam hati. Jantungnya berdetak kencang mendengar perkataan dokter itu. Ia tadi cukup was-was dengan hasil testpack itu. Hingga Sherin tidak mau melihat hasilnya. Ia mengelus perutnya dengan lembut.
"Apa kamu sudah ada disini? " batinnya tersenyum cerah.
Sementara Jenny tersenyum bahagia melihat wajah bahagia atasannya. Sebenarnya Ia cukup terkejut dengan kehamilan atasannya. Karena setahunya atasannya belum menikah. Ia hanya dekat dengan Stevenson. Bisa gadis itu simpulkan anak yang dikandung atasannya merupakan anak Stevenson.
Tak beberapa lama mereka keluar dari ruangan dokter. Mata Sherin terpaku melihat keberadaan suaminya. Ia dengan cepat mengikuti langkah suaminya dari belakang.
"Nona apa kita tidak jadi ke ruangan dokter kandungan?" tanya Jenny belum menyadari keberadaan Stevenson. Gadis itu juga mengikuti langkah Sherin. Ia takut Sherin tersandung atau pingsan tiba-tiba.
Sherin menghentikan langkahnya. Lagi-lagi Ia tertegun melihat keberadaan Rachel bersama suaminya.
"Ney...." lirih Sherin mengepalkan telapak tangannya.
Pandangan Jenny mengarah ke arah pandangan atasannya. Gadis itu ikut tertegun melihat Stevenson berada di rumah sakit yang sama.
"Apa anda tidak mau menghampiri mereka, Nona?" tanya Jenny pelan.
Setetes air mata keluar dari sudut mata Sherin. Entah mengapa akhir-akhir ini perasaannya sangat sensitif.
Sementara Stevenson ikut tertegun melihat keberadaan istrinya berdiri di lorong rumah sakit bersama karyawannya.
"Aku mau balik dulu. Tolong jaga Richard selama aku pergi." ujar Stevenson kepada Rachel.
Stevenson di rumah sakit untuk mengantar Richard teman satu kampusnya. Saat pria itu ingin menjemput istrinya, tiba-tiba panggilan masuk muncul di layar ponselnya. Pria itu mendengar kabar jika Richard dilarikan ke rumah sakit akibat keracuna alkohol. Kebetulan Rachel juga berada di rumah sakit yang sama. Makanya mereka bisa ada disana bersama-sama. Pria yang di lihat Sherin di apotek rumah sakit adalah suaminya. Pria itu baru saja keluar dari apotek rumah sakit setelah menyerahkan resep obat jalan milik Richard.
Stevenson lalu menghampiri istrinya. Tentu saja Ia terkejut melihat keberadaan istrinya ada di rumah sakit. Terselip sedikit rasa bersalah di hatinya karena lupa mengabari Sherin mengenai kejadian tak terduga hari ini.
"Sayang...." panggil Stevenson memeluk tubuh istrinya.
"Kamu ngapain di rumah sakit?" tanya pria itu mengecup berulangkali pucuk kepala istrinya.
Sherin diam tak bergeming mendengar pertanyaan suaminya. Ia menenangkan perasaan sensitif yang sedari tadi melingkupi relung hatinya.
Jenny berinisiatif menjawab pertanyaan Stevenson. Gadis itu menjelaskan apa yang dialami atasannya saat di cafe. Namun Ia tidak menjelaskan mengenai kehamilan atasannya. Karena itu merupakan ranah atasannya memberitahukan suaminya.
"Apa jangan-jangan kamu sudah isi?" tanya Stevenson melepas pelukannya. Ia menatap wajah kecewa sekaligus terluka Istrinya.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Stevenson mengelus pipi cabi istrinya.
"Aku merasa akhir-akhir ini kamu suka bersikap aneh deh." sambungnya lagi
"Apa kamu akan diam saja tanpa menjawab pertanyaan ku?" tanya Stevenson memincingkan matanya.
"Sebaiknya kita ke dokter kandungan untuk memastikan apa yang aku pikirkan benar atau tidak." ujar Stevenson antusias merangkul pinggang istrinya.
Sementara Rachel menatap kepergian mereka dengan perasaan kesal dan cemburu.
.......***Bersambung***......