IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Extra Part 27



Saat sedang sibuk dengan makan siangnya. Arabella melihat kedatangan seorang pemuda berwajah tak kalah tampan dari sang atasan.


"Apa Abangku ada di dalam?" tanya Albi dengan wajah ramah dan sopan.


"Ya Tuan. Tuan muda ada di dalam dengan..."


"Okey terima kasih." potong Albi melanjutkan langkahnya masuk ke dalam ruangan CEO.


Arabella mengabaikan kepergian Albi. Ia kemudian melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Ceklek


"Ada apa Abang memanggilku ke sini?" tanya Albi dengan wajah tenang. Ia belum menyadari keberadaan Gefanny yang sedari tadi duduk di sofa sembari menatap sendu kearahnya.


"Ckckck ternyata kau masih sadar dengan ancaman ku." ketus Gion berdiri dari kursi.


"Apa kau sudah tahu kesalahan apa yang sudah kau lakukan dibelakang keluarga Douglas!" geram Gion menatap tajam adiknya.


Albi yang tidak mengerti dengan maksud dari perkataan Gion.


"Apa maksud Abang?" tanya Albi cengengesan.


"Apa kau sadar telah menghamili wanita yang bukan istri mu!" bentak Gion dengan sangat marah.


Deg


Albi terkejut melihat Gion membentaknya. Untuk pertama kalinya ia melihat Gionino semarah itu padanya.


"Menghamili wanita yang bukan istriku?"


Seketika ingatan Albi kembali ke dua Minggu yang lalu.


"What! Jangan-jangan...."


"Itu tidak mungkin!" lirih Albi dengan tubuh gemetar. Ia benar-benar takut melukai hati kedua orangtuanya.


"Bagaimana jika keluarga besar Douglas tahu bahwa aku yang terkenal baik, penurut dan tidak pernah neko-neko menghamili wanita yang akan menjadi istri saudaraku?"


"Bukakan kelakuan ku ini benar-benar gila?" monolognya mengingat kejadian beberapa Minggu yang lalu.


*Flashback*


2 Minggu yang lalu


"Maukah kau membahagiakan ku sebelum hari ini berlalu?" Tanya Gefanny penuh harapan.


"Kita masih memiliki waktu selama 3 jam sebelum hari ini usai." lanjut Gefanny.


"Hah... entah mengapa kali ini aku mengharapkan sesuatu yang berbeda." jawab wanita itu dengan suara lirih melangkah mendekati Albiano.


"Ayo..." Wanita itu menarik tangan Albiano menuju mobilnya.


Albiano mengikuti langkah Gefanny begitu saja. Setidaknya Albi berharap hari ini pemuda itu bisa membahagiakan Gefanny untuk terakhir kalinya. Karena setelah hari ini, Albiano ingin menghilang dan melanjutkan pendidikannya di negara lain. Ia ingin melanjutkan pendidikannya mendapatkan gelar profesor muda. Apa lagi Albi tidak sanggup melihat Gefanny akan segera menikah dengan Gionino.


"Ge, kamu mau bawa aku ke mana?" tanya Albiano setelah masuk ke dalam mobil Gefanny.


"Kau akan tahu setelah tiba disana." jawab Gefanny tanpa menatap lawan bicaranya.


Setengah jam kemudian, mereka tiba di sebuah vila megah di dekat pantai. Dari vila tersebut Albi bisa mendengar dengan jelas suara ombak dari arah bagian barat vila.


Alih-alih melangkah menuju vila, Gefanny malah membawa Albi ke arah pantai. Ia tidak peduli bulu kuduk di kulit putihnya berdiri akibat sapuan angin malam. Karena kebetulan gadis itu hanya mengenakan dress tipis diatas lutut.


Gefanny langsung duduk diatas pasir dan menatap lurus kearah gelapnya malam kearah laut.


"Mengapa kamu membawaku kesini, Ge?"tanya Albiano masih berdiri tegap di samping Gefanny.


"Duduklah. Aku hanya ingin membawa mu kemari." jawab Gefanny dengan pandangan kosong ke depan.


Albiano yang melihat Gefanny sepertinya kedinginan. Langsung melepaskan jas dan meletakkannya di bahu Gefanny. Ia duduk di samping Gefanny dan menatap wajah gadis itu dari samping.


"Apa kamu kedinginan? Sebaiknya kita menyewa satu vila di sekitar sini agar kamu bisa istirahat." ujar Albiano dengan lembut. Ia tidak ingin Gefanny kedinginan duduk di pantai yang minim penerangan itu. Apa lagi angin malam sangat dingin hingga membuat bulu-bulu halus yang ada di kulit mereka berdiri.


Gefanny langsung tersadar dari lamunannya. Ia menatap Albiano dengan mata berkaca-kaca.


"Mengapa kamu tidak pernah mengerti dengan perasaan ku? Mengapa kamu hanya peduli dengan kebahagiaan orang lain sementara kamu sama sekali tidak bahagia dengan keputusan mu! Dan mengapa aku harus berharap dengan pria kaku seperti mu!"


Hiks


Hiks


Hiks


"Mengapa aku harus menaruh hati kepada pria tidak peka seperti mu!" ucap Gefanny dengan suara lirih.


"Albi! Aku mencintaimu! Tidak kah kau sadar dengan perasaan! Aku tidak pernah mencintai Gion! Aku hanya ingin membuatmu cemburu dan membuat mu sadar dengan perasaan mu? Tapi apa! Kau malah pura-pura kuat merelakan ku bersama pria lain!"


Deg


Deg


Deg