
Di dalam Kamar
Drettt drettt drettt
Dering ponselnya menghentikan langkah pemuda itu saat berniat berjalan menuju balkon.
[Hallo!! Albara Oliver!!]
[Mengapa kau lama sekali mengangkat panggilan telepon dariku!!] teriak seorang gadis dari seberang sana.
"Maafkan aku my girl. Aku habis dari luar dan ponselku tertinggal di kamar. Aku sedang memiliki sedikit masalah." ujar pemuda itu menghembuskan napasnya.
[Are you okey?] tanya gadis itu melembutkan suaranya.
"I am okey Grace!"
"Tapi tidak dengan kedua orangtuaku." lirihnya pelan.
[Bukankah aku sudah menjadi kekasihmu sekarang pria tengil. Jadi mengapa kau tidak mau terbuka kepadaku!] dengus gadis itu kesal dengan sifat kekasihnya yang suka memendam kesedihan dan kesusahannya sendiri.
"Ini masalah mengenai kakak perempuanku yang sudah aku ceritakan beberapa hari yang lalu saat kita bertemu setelah pulang sekolah." ujar Albara berusaha sabar dengan kecerewetan gadis kecilnya.
[Aku percaya kakak mu pasti baik-baik saja diluar sana. Aku berharap kakakmu akan segera ditemukan.] ucap gadis itu memenangkan hati kekasihnya.
"Terima kasih sayang...."
"Betapa beruntungnya aku memiliki kekasih cerewet seperti mu." ujar Albara berusaha menahan tawanya.
[Hey!! apa kau tidak bahagia memiliki kekasih cerewet seperti aku!]
[Kalau begitu lebih baik kita putus!] dengus Grace mematikan panggilannya. Ia tersenyum tipis menatap layar ponselnya.
"Aku yakin beberapa detik lagi Albara akan menghubungi ku kembali dan membujukku agar memaafkannya." ujar Grace percaya diri.
#
#
Sementara di sisi Albara
Tut
Tiba-tiba panggilan ditutup sepihak oleh Grace dari seberang sana.
Albara kembali menghubungi nomor kekasihnya, kalau tidak besok-besok gadis itu tidak akan mau memaafkannya.
Tut tut tut
"Ayolah Grace! aku hanya bercanda!"
"Apa kau sedang datang bulan? sehingga hari ini kau terlihat sedikit sensitif." decak-nya tidak sabar berulangkali menghubungi nomor kekasihnya.
#
#
#
#
Albara tersenyum lega melihat panggilan teleponnya diangkat oleh kekasihnya.
"Hallo...."
"Sayang maafkan aku...."
"Aku tadi hanya bercanda...." ujar Albara penuh harapan agar kekasihnya memaafkannya. Namun tidak ada sahutan dari seberang sana, hanya terdengar suara keheningan.
"Baiklah...."
"Besok aku akan kembali ke Korea. Apa kamu mau aku belikan sesuatu?" tanya Albara berusaha meluluhkan hati kekasihnya.
Hening sebentar hingga sahutan Grace terdengar di pendengarannya.
[Aku mau oleh-oleh dari sana. Pokoknya oleh-oleh yang bisa membuat hatiku tersentuh.] sahut gadis itu tiba-tiba.
"Apa yang enggak buat kekasihku." ujar Albara bernapas lega.
[Janji besok liburan di Korea! pokoknya harus bawa oleh-oleh!] ucap Grace dari seberang sana.
"Aku selalu menuruti apa yang kamu mau. Asalkan aku juga mendapatkan hadiah yang manis dari kekasihku." balas Albara menunggu jawaban kekasihnya.
[Baiklah.... Aku akan membuatkan makanan kesukaan kamu. Kebetulan Mommy dan Daddy sedang ada di Korea.] jawab Grace.
"Baiklah selamat istirahat sayang...."
"Aku mencintaimu." ujar Albara
[Me too pria tengil.] sahut Grace langsung menutup panggilan Albara. Pemuda itu tersenyum manis mendengar perkataan kekasihnya.
"Gadis manja anak Mr Prince." gumamnya pelan meletakkan ponselnya di atas nakas.
Albara lalu membaringkan tubuhnya di atas ranjang saat mendengar kalimat penutup kekasihnya. Pria itu sudah tidak sabar bertemu dengan kekasihnya.
Albara menyentuh lama detak jantungnya
"Ternyata gadis cerewet itu mampu mengalihkan duniaku. Betapa manisnya Grace kalau lagi malu-malu bila bertemu secara langsung." decak-nya tidak sabar bertemu dengan Grace.
Pemuda itu melupakan sejenak masalah yang sedari tadi membebani pikirkannya.
...***Bersambung***...