
"Vania hamil, dan mereka harus segera menikah sebelum kandungan Vania membesar. Keluarga istri ku masih memegang teguh budaya timur. Jadi jangan samakan budaya mereka dengan budaya di negara kita." putus Greyson tidak mau dibantah.
Gabi terkejut mendengar penuturan Greyson. Gabi dan Jodi langsung mengalihkan pandangan mereka menatap Jordan. Mereka tidak menyangka Jordan akan bertindak senekat itu.
"Apa benar kau yang menghamili Vania?" tanya Gabi tiba-tiba berdiri dari duduknya. Air mata tiba-tiba mengalir dari kedua pelupuk matanya. Ia tidak percaya putranya akan berbuat sejauh itu.
"Apa kau tahu kekurangan terbesar Vania sebagai pasangan mu? apa kau mampu mengatasi kekurangannya itu, saat kalian sudah berumah tangga nanti? Mama bukan tidak merestui hubungan kalian! tapi Mama takut cintamu hanya kamuflase semata. Mama takut hubungan kalian tidak akan langgeng! karena sifat keras kepala, posesif dan cemburu mu. Apalagi --"
"Stttt...." Jodi menghentikan perkataannya istrinya ketika melihat wajah merah padam keluarga Thomson.
"Mama dan Papa menyerahkan semua keputusan ke tanganmu. Kami akan mendukung apapun keputusanmu. Bagaimana pun sekarang sudah hadir cucu kami di dalam rahim Vania." ujar Jodi menatap datar putranya.
"Tapi--"
"Stttt...."
"Sekarang putra kita bukan lagi anak kecil yang bisa kita atur-atur semau kita. Dukung apapun yang dia inginkan selagi itu masih di jalan yang benar. Biarkan Jordan menentukan kebahagiaannya. Mungkin bersama Vania adalah kebahagiaan putra kita."sela Jodi merangkul bahu istrinya.
"Bagaimana Jordan? keputusan seperti apa yang akan kau ambil setelah mendengar dukungan dari kedua orang mu?" tanya Greyson menatap keponakannya.
Dengan semangat empat lima Jordan langsung mengalihkan pandangannya menatap wajah pucat Vania.
"Tentu saja aku akan menikahi Vania, Uncle." ujar Jordan dengan cepat.
"Mintalah dia kepada kedua orangtuanya dengan baik-baik. Agar kau tahu bagaimana rasanya meminta restu langsung kepada calon mertua mu." kata Greyson.
"Aku sudah tidak sanggup lagi memendam perasaan ini." timpal Jordan dengan suara bergetar. Ia benar-benar mencintai Vania, nama gadis yang selama ini sudah tumbuh subur di hatinya.
Josua dan Silvia tidak tahu harus menjawab apa, sementara putri mereka terlihat masih menatap kosong ke depan. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di kedua bola mata itu. Ia terlihat seakan masih blank mendengar ucapan Jordan.
"Vania.... tidak masalah kalau kamu membenciku. Tapi satu yang ku pinta, tolong jangan tolak niat baikku." ujar Jordan mengenggam kedua tangan dingin Vania.
"Dengarkan kata hatimu Vania. Jangan ikuti pikiran gila mu. Jangan biarkan pikiranmu kosong." timpal Jordan membuyarkan lamunan Vania.
Vania menatap dalam wajah Jordan. Tidak ada tatapan mendambakan ataupun kebencian di kedua bola mata itu. Tatapan itu berubah menjadi dingin dan datar.
Vania menganggukkan kepalanya tanpa ekspresi. Ia menyetujui keinginan Jordan. Tak ada senyum kebahagiaan di wajah cantik itu.
Semua keluarga besar Vania dan Jordan bernapas lega melihat Vania menyetujui pemberkatan pernikahan mereka. Meskipun pernikahan itu harus terlaksana karena kecelakaan satu malam.
3 jam kemudian, Jordan dan Vania sudah sah menjadi suami istri.
Jordan dengan lembut mengenggam tangan istrinya, setelah acara pemberkatan. Ia bersyukur karena akhirnya keinginannya terwujud juga, menikah dengan cinta pertamanya. Ya Vania merupakan cinta pertama Jordan.
Sherina dan Alexa belum tahu mengenai pernikahan tiba-tiba Vania dan Jordan. Karena mereka masih sibuk dengan ngidam dan morning sick kehamilan trimester pertama mereka. Paskal dan Stevenson juga masih sibuk dengan kegiatan masing-masing. Paskal yang sibuk kuliah dan Stevenson yang sibuk mengelola bisnis keluarganya.
...***Bersambung***...