
Arabella menyajikan wine kepada seorang pemuda selaku pelanggan VIP di Club tersebut.
"Ini tambahan pesanan Anda, Tuan." ujar Arabella tersenyum tipis.
Pemuda itu terlihat tertarik melihat wajah cantik Arabella. Apalagi Arabella mengenakan pakaian yang sedikit minim.
Sebenarnya Arabella juga tidak mau bekerja part time. Namun, keuangan mereka sudah mulai menipis. Sementara gajinya sebagai sekertaris akan Arabella dapatkan setelah sebulan penuh bekerja. Apalagi mereka harus bisa menabung untuk keperluan tak terduga di masa depan. Bila melihat kondisi Amore yang belum terlalu stabil.
"Ternyata kau cantik juga."
"Siapa namamu?" tanya pemuda itu ingin menyentuh Arabella. Namun, Arabella dengan cepat memalingkan wajahnya agar tidak disentuh oleh pemuda itu.
"Saya bekerja disini hanya untuk mengantarkan minuman ini untuk Anda, Tuan. Bukan dilecehkan seperti ini."
"Kalau begitu saya permisi." tukas Arabella berniat berlalu dari sana. Namun langkahnya terhenti ketika mendengar perkataan pemuda itu.
"Kau hanya perlu menemaniku minum hingga mabuk. Aku tentu saja akan memberikan tips 1000 dolar untukmu." tawar pria itu tersenyum menggoda.
Pria itu lalu berdiri dari duduknya. " Apa lagi jika kau mau naik ke atas ranjang ku. Aku akan memberikan 2 juta dolar dalam semalam." tambahnya meneliti penampilan Arabella.
"Sekali lagi saya tegaskan kepada Anda. Saya datang ke sini bekerja dan mengantarkan minuman itu untuk pelanggan. Bukan menjajakan tubuh saya untuk mendapatkan uang."
"Saya permisi." ujar Arabella menahan emosinya.
Saat akan keluar dari ruangan VIP itu, pemuda itu tiba-tiba mencengkram tangan Arabella dan mendorongnya ke sofa.
"Dasar wanita ******!"
"Kau bertingkah seakan-akan kau masih suci."hina pemuda itu sembari melepaskan pakaiannya.
"Mari kita lihat, apa wanita seperti mu masih bisa menjaga kesuciannya atau tidak."
"Lepas!"
"Aku bukan wanita murahan yang seenaknya kau perlakukan seperti ini!"
Arabella berusaha memberontak saat pria itu menindihnya.
Pemuda itu lalu mencengkram kuat pipi Arabella.
"Apa kau tahu, siapapun yang datang ke tempat ini bukanlah wanita suci."
"Bukankah kau sama saja dengan wanita lainnya? Datang ke tempat ini untuk menjajakan tubuhmu."
Hiks
Hiks
"Lepas!"
"Help!"
"Tidak akan ada yang mau menolong mu. Karena kejadian seperti ini tidak lagi asing untuk mereka."
"Jadi diam dan bersikap manis lah."
"Tolong, siapapun tolong aku..." gumam Arabella dalam hati berusaha melepaskan diri dari kungkungan pemuda itu.
Pemuda itu lalu merobek pakaian yang dikenakan Arabella hingga tercetak jelas kulit putih bersihnya.
Tiba-tiba pintu kamar itu dibuka paksa dari luar.
Blak!
Sekitar sepuluh orang pria berpakaian rapi masuk ke dalam kamar itu. Mereka menarik pemuda itu agar menjauh dari Arabella.
Arabella terkejut melihat Gion ada disana.
Gion langsung melepaskan jas yang dikenakannya dan menutupi tubuh Arabella.
"Tu-tuan muda..." lirih Arabella dengan mata sembab. Pakaian yang dikenakan Arabella juga sudah robek.
"Ja-jangan sentuh aku...."
"Tubuhku kotor!"
"Pria itu sudah melecehkan ku!"
Arabella berniat mendorong Gion agar menjauh darinya. "Diam Lah!" bentak Gion dengan suara dingin tiba-tiba mendekap tubuh Arabella. Ia bisa melihat Arabella terguncang mengalami kejadian yang tidak menyenangkan itu.
Ia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menenangkan orang asing. Mungkin dengan keluarganya, Gion bisa memperlihatkan kepribadiannya yang sebenarnya. Namun, tidak untuk orang asing.
Gion lalu menggendong tubuh Arabella ala bridal style. Tak ada satu orangpun yang bisa menebak jalan pikiran pemuda itu.
"Bawa bajingan itu ke markas."