IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Penthouse Steven



Steven terkejut dengan tindakan wanita itu. Yang Ia dengar dari asistennya, Livia mengalami gangguan psikis. Namun mengapa sekarang gadis ini bertingkah seperti orang yang waras dan amnesia secara bersamaan?. Pria itu terdiam lama menetralkan perasaan aneh yang muncul di tubuhnya.


Tanpa sadar Steven mengelus punggung kurus wanita itu.


"Mari kita pergi.... Aku sangat ingin keluar dari tempat ini." ujar wanita itu menenggelamkan wajahnya di leher Steven. Gadis itu miliki tinggi 170 cm sementara Steven memiliki tinggi 185 cm. Jadi tinggi mereka hanya selisih 15 cm.


Lagi-lagi Steven merasa aneh dengan perasaannya saat berdekatan dengan wanita itu.


"Livia lepaskan pelukanmu! bagaimana caranya kita keluar, kalau kau terus menempel seperti ini." ujar Steven berusaha melepaskan pelukan Livia.


Bukannya menuruti perkataan Steven, Livia malah semakin melingkarkan tangannya di leher Steven.


Sementara Steven semakin tidak nyaman dengan tingkah agresif wanita itu. Pria itu menghela napas panjang menetralkan degup jantungnya.


"Baiklah.... Kali ini aku mengalah! namun tidak untuk lain kali." ujarnya mengendong tubuh Livia ala bridal style.


Sementara Livia dengan cepat meletakkan kepalanya di depan dada bidang Steven. Wanita itu tersenyum manis merasa nyaman berada di pelukan Steven yang Ia anggap sebagai suaminya.


#


#


Di Penthouse Steven


Setibanya di Penthouse mewah milik Steven, pria itu dengan cepat melangkah menuju kamar tamu untuk membaringkan tubuh Livia. Sepanjang perjalanan wanita itu merasa nyaman tidur di pelukan Steven. Dibangunin pun, wanita itu tidak mau bangun.


Saat Steven membaringkan tubuh Livia di atas ranjang, lagi-lagi wanita itu tidak mau melepaskan lingkaran tangganya di lehernya. Sementara Steven merasa panas dingin dengan sentuhan wanita itu. Livia malah menarik leher Steven agar ikut berbaring di sampingnya.


"Hey...."


"Bangunlah...."


"Dan lepaskan tanganmu." ujar Steven berusaha membangunkan Livia.


Livia mengerjapkan matanya memperhatikan wajah Steven beberapa detik. Ia merasa terusik mendengar suara bas Steven. Namun tiba-tiba air muka wanita itu berubah menjadi merah padam. Terlihat jelas tatapan kebencian, ketakutan, kekhawatiran dan kemarahan di dalam bola matanya.


"Pergi!!!"


"Lepaskan!!"


"Aku mohon jangan!!"teriaknya nyaring.


Teriakan Livia terdengar sangat nyaring di pendengaran Steven. Ia terdiam lama menatap tingkah Livia. Wanita itu meringkuk seperti seorang bayi di dalam kandung di atas ranjang.


Steven lalu naik ke atas ranjang dan mendekap tubuh wanita itu dari belakang. Steven menarik tubuh ramping Livia dan membalikkannya sehingga berhadapan dengannya.


Sementara wanita itu merasa tidak asing dengan pelukan Steven. Ia merasa sangat nyaman dengan pelukan itu.


"Mengapa matamu sangat mirip dengan matanya?" ujarnya tiba-tiba menatap dalam mata Steven.


"Karena yang kau lihat adalah mata yang sama." ujar Steven dalam hati menatap dalam wajah cantik Livia.


"Hahaha...."


Tiba-tiba Livia tertawa cekikikan melihat tatapan dalam Steven. Namun tiba-tiba wanita itu berhenti tertawa.


"Hiks.... hiks....hiks"


Wanita itu tiba-tiba menangis tersedu-sedu dan menatap kosong kearah dada bidang Steven yang masih terbungkus dengan pakaian.


"Mengapa dia pergi meninggalkan ku?" tanyanya.


"Apa kau tahu?"


"Setiap malam aku bermimpi tentang seorang pria yang memiliki mata biru seperti mu. Pria itu mengungkung tubuhku dan mengambil sesuatu yang aku jaga selama bertahun-tahun. Kemudian...."


"Hiks.... hiks.... hiks"


"Pria itu menghilang begitu saja."


Wanita itu lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang Steven. Ia menangis tersedu-sedu di pelukan pria itu.


"Maafkan aku Livia." batin Steven membalas dekapan wanita itu.


......***Bersambung***......