IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Part 9



Di Apertemen


Sherin membaringkan tubuhnya di atas sofa sembari menonton televisi. Ia sedikit bosan dengan aktivitas seperti itu. Ia berjalan kesan-kemari menghilangkan rasa bosannya.


"Hah...." Sherina menghela napas saat sudah berdiri di balkon suaminya.


"Ternyata sudah mau sore." ujarnya menatap langit jingga. Ia mendudukkan bokongnya di atas sofa sembari menatap keindahan kota London dari atas apertemen.


Sherin mengelus perut buncitnya lembut. "Mommy sudah tidak sabar menanti kelahiran kalian. Mommy dan Daddy tidak akan memeriksa jenis kelamin kalian. Karena anak perempuan atau anak laki-laki sama saja di hati Mommy dan Daddy."


"Jadi...."


"Sehat-sehat di perut Mommy." ujar Sherin tersenyum tipis.


#


#


Sementara di sisi Stevenson


Pria itu lagi mengerjakan tugas kelompoknya bersama Rachel dan Richard di sebuah cafe. Lokasinya juga tidak terlalu jauh dari kampus mereka.


"Kita break sebentar. Gue mau ke toilet." ujar Richard meninggalkan Stevenson dan Rachel. Pria itu berlalu menuju toilet buang air besar. Entah mengapa sedari tadi Ia merasa perutnya sedikit mulas.


Sementara Rachel tersenyum puas melihat kepergian Richard. Gadis itu mengeser sedikit kursinya agar terlihat semakin dekat dengan Stevenson.


"Stevenson...."


"Coba lihat ini. Apakah jurnal ini bisa kita jadikan sebagai referensi?" tanya Rachel. Ia memperlihatkan sebuah jurnal yang baru saja gadis itu download.


Stevenson mengangkat kepalanya saat mendengar pertanyaan Rachel. Pria itu memperhatikan jurnal internasional yang terpampang di layar laptop Rachel. Tanpa pria itu sadari seorang pelayan memotret kebersamaan mereka dari jarak beberapa meter.


Pelayan itu tersenyum puas melihat hasil jepretannya.


"Nona pasti akan memberikan tips lebih atas keberhasilanku." monolog pelayan itu berlalu dari sana.


"Iya.... Jurnal ini cukup relevan menjadi refrensi karya ilmiah kita." sahut Stevenson setelah beberapa saat membaca jurnal itu. Pria itu lalu menegakkan tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Rachel.


"Baiklah. Aku akan menambahkan jurnal ini sebagai referensi kita." ujar Rachel.


Mereka sibuk dengan tugas masing-masing sembari menunggu kembalinya Richard.


#


#


Di apertemen


Sherin memejamkan matanya menikmati hembusan angin dari balkon. Getaran pesan masuk dari ponselnya mengusik pendengarannya.


Drettt drettt drettt


Sherin mengerjapkan matanya untuk memastikan penglihatannya. Ia lalu membuka pesan masuk di layar ponselnya.


Sherina mencengkeram kuat ponsel di genggamannya. Ia melempar ponsel yang ada di genggamannya ke tembok pembatas balkon.


"Sialan!!" teriaknya


Air mata mengalir deras membasahi pipi cabi-nya.


"Sakit.... Disini sangat sakit" lirihnya menepuk-nepuk dadanya. Ia merasa dunianya runtuh melihat isi pesan itu. Foto yang dilihatnya membuat rasa amarah, emosi sekaligus cemburu melingkupi hatinya.


"Ah...." ringis Sherin mencengkram kuat sofa yang Ia duduki.


Sherin merasa sesuatu mengalir dari selangkangannya. Ia menurunkan pandangannya ke bawah lantai. Ia tertegun melihat darah segar mengalir di kedua kakinya.


Gejala kecemasan yang selama ini dialaminya membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Tubuh gadis itu terlihat gemetaran melihat darah yang mengalir dari selangkangannya.


"Tuhan aku mohon jangan ambil mereka...." lirihnya sembari mengigit bibir bawahnya menghilangkan kecemasan dan ketakutannya. Ia sudah tidak sanggup berdiri lagi. Wajahnya juga semakin lama semakin pucat. Peluh keringat sebesar biji kacang tanah membanjiri dahinya.


#


#


Sementara di gedung seberang


Satu orang pengawal bayangan Lendsky berlari cepat keluar dari kamar. Pria itu sedari tadi mengamati aktivitas nona mudanya dari apertemen yang sudah di beli Bosnya.


[Cepat buka paksa kamar nona muda. Keadaannya tidak baik-baik saja.] ujar pria itu menghubungi pengawal bayangan yang tinggal di apertemen yang sama dengan Stevenson dan Sherina.


Seorang pengawal wanita langsung menghubungi kabar itu kepada atasannya. Dan satu orang lagi berusaha membuka pintu apertemen Sherin dan Stevenson.


Cklek


"Nona...." lirih mereka melihat wajah pucat Sherin.


"Tolong...." lirih Sherin dengan mata sembab.


Seorang pengawal pria langsung mengangkat tubuh lemah Sherin keluar dari apertemen. Rasa takut dan cemas ikut menghantui hati dan pikiran mereka. Mereka merasa gagal menjaga amanah dari atasan mereka.


#


#


Di rumah sakit


Sherin langsung di larikan ke rumah sakit. Sementara seorang pengawal bayangan berusaha menghubungi nomor Stevenson menggunakan nomor rumah sakit. Atasannya tidak memperbolehkan siapa pun mengetahui keberadaan mereka.


"Hallo dengan tuan Stevenson?" tanya pengawal itu.


[Iya.... Saya sendiri.] ujar Stevenson melangkah menuju parkiran.


"Datanglah ke rumah sakit C. Istri Anda di temukan pingsan di dalam apertemen dan sekarang Ia lagi ditangan oleh dokter di ruangan UGD." ujarnya sebelum menutup panggilannya.


#


#


Jantung Stevenson berdetak kencang mendengar perkataan pria itu. Rasa cemas dan takut juga melingkupi hatinya. Ia mempercepat langkahnya menuju parkiran.


Setibanya di rumah sakit, Stevenson berlari menuju ruangan UGD. Ia mondar-mandir kesana kemari menunggu dokter keluar dari ruang UGD.


Tak beberapa lama seorang dokter paruh baya keluar dari ruangan UGD.


Cklek


"Dokter bagaimana keadaan istri saya dan bayinya?" tanya Stevenson khawatir.


"Hah...." Dokter itu menghela napas panjang.


"Tuan sepertinya kecil kemungkinan untuk kita mempertahankan bayinya. Istri Anda terus-menerus mengalami pendarahan. Apa lagi usia kehamilan istri anda dikategorikan masih muda. Anda harusnya memerhatikan kondisi kesehatan istri anda. Hamil bayi kembar di usia muda sangat beresiko bagi seorang perempuan. Apa lagi istri anda mengalami anemia dimasa kehamilan pertamanya."


Deg


Jantung Stevenson berdetak kencang mendengar perkataan Dokter itu.


Apa yang sebenarnya terjadi dengan Istrinya pikirnya. Karena sewaktu Ia meninggalkan apertemen, istrinya terlihat ceria dan sehat-sehat saja.


"Bolehkah Anda berusaha lagi menolong mereka bertiga?" lirih Stevenson penuh harapan.


"Kami akan melakukan yang terbaik." ujar dokter itu. Dokter itu masuk lagi ke dalam ruangan UGD menghentikan pendarahan Sherin.


Sejam, dua jam berlalu dokter belum juga keluar dari ruangan UGD. Rasa khawatir semakin besar di hati dan pikiran Stevenson.


Namun tiga jam kemudian seorang dokter dan seorang perawat keluar dari ruangan UGD.


"Bagaimana dokter?" tanya Stevenson.


"Pendarahannya sudah bisa dihentikan." ujar dokter itu mengelap peluh keringat yang membasahi dahinya.


"Terima kasih dokter." ujar Stevenson tersenyum kecil.


"Sebelum pasien di pindahkan ke ruangan rawat jalan. Seorang perawat akan mengambil darah istri Anda. Untuk memastikan seberapa rendah kadar hemoglobin istri anda." sambung Dokter itu sebelum meninggalkan Stevenson.


Anemia yang di derita Sherin terkadang membuat Stevenson was-was. Apa lagi istrinya lagi dalam keadaan mengandung. Pria itu harus ekstra hati-hati menjaganya.


#


#


Malam semakin larut, Stevenson belum diijinkan masuk ke dalam ruangan UGD melihat kondisi Istrinya. Pria itu hanya bisa melihat kondisi Istrinya dari luar pintu.


Stevenson mendudukkan bokongnya di kursi tunggu di depan pintu ruangan UGD. Tanpa pria itu sadari seorang wanita masuk ke dalam ruangan UGD mengenakan jas dokter.


Cklek


Ia membuka pintu pelan lalu tersenyum sinis menatap wajah pucat Sherin.


"Ini akibatnya jika kau berani mengambil milikku." monolognya pelan.


Wanita itu melangkah pelan menuju selang infus yang terpasang di tangan Sherin. Ia menyuntikkan obat ke dalam cairan itu.


"Ini akan menjadi awal kehancuran mu." ujar wanita itu tersenyum puas. Wanita itu keluar dari ruangan UGD, lalu melangkah lewat lorong sebelah kiri.


......***Bersambung***......