
Engh
Lenguhan Livia membuyarkan lamunan Steven, pria itu langsung berdiri dari duduknya.
"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Steven menatap dalam bola mata Livia. Bola mata itu terlihat sudah hidup kembali. Tidak seperti saat Livia berada di apartemennya.
Livia belum sadar kalau Ia sedang berada di rumah sakit. Ia menatap hangat kearah Steven yang berdiri di samping ranjang rawat inapnya sembari menatapnya. Terdengar jelas nada khawatir dari pertanyaan Steven.
"Aku baik-baik saja. Bukankah barusan kita lagi sarapan pagi?" tanya Livia menyeritkan keningnya mendengar pertanyaan Steven.
Ketukan pintu dari luar memotong pertanyaan Livia
Tok tok tok
Seorang perawat lalu masuk ke dalam ruangan rawat Livia.
Raut wajah Livia langsung berubah melihat perawat itu. Bukan karena Ia mengenal perawat itu, tapi karena Livia benar-benar tidak menyangka, kalau Steven akan membawanya ke rumah sakit.
"Apa kau benar-benar membawaku ke rumah sakit!!" teriak Livia menatap tajam Steven.
Lagi-lagi sorotan bola mata itu berubah menjadi tatapan kebencian, kemarahan sekaligus kesedihan.
Livia dengan cepat melepaskan selang infus yang melekat di punggung tangannya. Ia tidak memperdulikan tetesan darah mengalir dari pembuluh darahnya. Livia ingin secepatnya keluar dari rumah sakit. Ia takut akan tinggal lama disana seperti sebelum-sebelumnya.
Grep
Dengan cepat Steven mendekap tubuh Livia saat wanita itu ingin turun dari ranjang.
"Suntik obat penenang!!" bentak Steven menguatkan dekapannya.
Perawat itu dengan cepat melangkah mendekati ranjang rawat Livia. Ia kemudian menyuntikkan obat penenang ke tubuh wanita itu. Livia langsung pingsan di pelukan Steven.
Steven bernapas lega melihat wajah tenang Livia. Ia kemudian membaringkan tubuh Livia di atas ranjang. Pria itu menatap lama wajah tenang dan polos itu.
"Permisi tuan..."
Steven langsung turun dari atas ranjang saat mendengar perkataan dari perawat itu. Ia mempersilahkan perawat itu memasangkan infus Livia.
Tak beberapa lama perawat itu sudah selesai dengan tugasnya. Ia lalu keluar dari ruang rawat Livia setelah memastikan selang infus terpasang dengan benar.
Steven lalu duduk di samping ranjang Livia, pria itu menggenggam sebelah tangan wanita itu.
"Cepatlah bangun...."
"Agar kau secepatnya bisa menjalani terapi dan sembuh dari trauma mu!"
"Aku akan menemanimu melewati hari-hari menyakitkan ini mulai dari sekarang."
Perasaan Steven cukup ketar-ketir dan was-was melihat keadaan Livia seperti itu. Ia takut pekerjaannya juga akan terganggu kalau terus-menerus bolak balik kesana kemari. Steven tidak mungkin meninggalkan Livia sendiri, dan lebih tidak mungkin lagi kalau pria itu membawa Livia ke mansion klan king.
Pria itu takut disiksa seperti Papa dari sepupunya Jordan, kalau Daddynya sampai mengetahui perbuatan kejinya. Darah keturunan Douglas masing mengalir kental di tubuh Daddynya. Opa dan Daddynya kalau marah memiliki kemiripan sebelas dua belas lah. Mengingat cerita dari Mommy-nya beberapa tahun lalu membuat bulu kuduk pria itu langsung berdiri.
"Sepertinya aku langsung menikahinya saja. Apa lagi kalau Daddy tahu Livia itu anak siapa. Bisa-bisa aku makin di babat!" gumam Steven pelan.
[Hallo] sahut Robert dari seberang sana. Pria itu sedang mengawasi transaksi barang-barang terlarang klan king.
"Robert siapkan upacara pernikahan sakral besok pagi atau sore. Aku ingin kau menjadi saksi pernikahan kami."
"Jangan lupa belikan sepasang cincin simpel tapi mahal."
"Eh! jangan lupa ukurannya kau kira-kira saja." ujar Steven mematikan panggilannya. Ia tidak mau mendengar pertanyaan lanjutan dari asistennya.
Sementara diseberang sana Robert mendengus kesal mendengar perkataan tuannya.
"Bagaimana cara mengira-ngira ukuran sepasang cincin?"
"Kalau kebesaran salah, kalau kekecilan salah. Syukur-syukur kalau dapat yang pas." gerutunya menatap ponselnya.
...***Bersambung***...