IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Berbaikan



"Tapi.... Bukankah itu hanya sebatas pekerjaan? dia tentu akan memakluminya." cetus Sherin lagi sadar dari pikiran anehnya.


"Aku tahu apa yang kau ucapkan di dalam hatimu. Aku akan menghukum mu atas tingkahmu sewaktu di Club. Kau pikir aku tidak melihat tingkah genit mu!" kesal Stevenson melirik tajam wajah istrinya.


"Itu hanya sebatas pekerjaan Ney!" tandas Sherina mendengus kesal mendengar ucapan suaminya. Ia sudah tahu hukuman apa yang akan Ia dapatkan. Tentu saja begadang semalaman dan melakukan hal yang seharusnya suami istri lakukan.


"Hukuman mu tetap jalan." ujar Stevenson tidak mau di bantah.


"Dan untuk kejadian tadi...." ujar Stevenson mengehentikan perkataannya saat melihat mata berkaca-kaca istrinya.


"Aku tahu pria itu belum menyentuhmu. Dia hanya melakukan kekerasan padamu karena penolakanmu." sambung Stevenson mengecup kepala istrinya.


"Aku akan selalu berpikir positif tentangmu. Karena kita sudah menikah dan kita juga sudah bersumpah saat mengucap janji pernikahan di depan Tuhan. Kita hanya perlu saling terbuka dan saling percaya satu sama lain." ujar Stevenson mendekap erat tubuh istrinya. Pria itu sangat merindukan sentuhan intens seperti itu.


"Ney...." lirih Sherin di dalam dekapan suaminya.


"S.... Diam-lah. Aku ingin memelukmu dan menghilangkan rasa rindu yang sudah menumpuk ini." ujar Stevenson memotong perkataan istrinya.


"Aku sangat mencintaimu Ney...."


"Dulu.... Sekarang maupun nanti." ucap Sherin melingkarkan kedua tangannya di pinggang suaminya.


Mereka saling mendekap menyalurkan rasa cinta, sayang dan rindu yang terlalu menumpuk di jiwa raga mereka selama bertahun-tahun.


"Sherina Meyer Lendsky...."


"Aku Stevenson Neymar Lorens...."


"Sangat.... Sangat mencintaimu." ujarnya pelan. Pria itu melonggarkan pelukannya. Ia menatap hangat wajah malu-malu Istrinya.


"Hey.... Apa kamu malu?"


"Hahaha" Stevenson tertawa gemas melihat wajah merah merona istrinya.


Cklek


"Hah...." Alexa menghela napas melihat kemesraan sepasang suami istri itu.


"Apa kalian akan terus berpelukan mesra seperti itu dan menghiraukan keberadaan ku." dengus Alexa melangkah masuk ke dalam kamar saudara kembarnya. Ia mendudukkan bokongnya di atas sofa dekat jendela di kamar Stevenson.


"Cih.... Menganggu saja." dengus Stevenson melepas pelukan mereka.


"Alexa bagaimana keadaan Davin?" tanya Sherin penasaran sekaligus menghawatirkan kondisi Davin. Sementara Stevenson merasa cemburu mendengar pertanyaan sekaligus kekhawatiran istrinya kepada pria lain.


"Davin masih di rawat di rumah sakit. Pria Italia itu mengalami luka cambukan bergerigi yang cukup serius" lirih Alexa pelan. Gadis itu cukup prihatin melihat kondisi rekannya itu.


"Ingatlah Sherina. Sekarang kau sudah menjadi istri seorang pria pencemburu. Jangan menanyakan keadaan pria lain di depannya." sambung Alexa menatap wajah cemberut saudara kembarnya.


"Tetapi Davin kan hanya rekan kerja kita. Bukankah aku hanya bertanya seperti seorang rekan kerja yang sedang bersimpati. Menanyakan keadaan timnya yang baru saja terkena musibah." cetus Sherin menatap polos wajah cemberut suaminya.


"Sayang.... Kalau kau melanjutkan perkataanmu maka hukumanmu sebentar lagi akan aku tambah." dengus Stevenson memalingkan wajahnya ke samping.


Mata Sherin membesar mendengar ucapan suaminya. Apa pria ini pikir dia tidak lelah seharian memata-matai si bajingan itu.


"Cih.... Mentang-mentang sudah menikah jadi bebas. Apa lah daya, aku yang sampai sekarang masih jadi jomblo ngenes seperti ini." cetus Alexa berdiri dari duduknya.


"Aku tahu kalian ingin melepas rindu di atas ranjang. Baiklah...." ujar Alexa menepuk-nepuk bokongnya agar celana yang gadis itu kenakan tidak terlalu kusut.


"Aku mau kembali dulu. Jangan lupa buat keponakan untuk ku." ujar Alexa tersenyum tipis meninggalkan kamar saudaranya.


"Hah...." lega Stevenson melihat kepergian saudarinya.


"Sedari tadi kek! kan bagus." dengus pria itu.


"Apa kau masih ingat dengan hukumanmu sayang?" tanya Stevenson menaik-turunkan alisnya menatap mesum istrinya. Pria itu lalu mengungkung tubuh istrinya. Ia menatap Sherina penuh cinta.


"Ney.... Aku sangat merindukan putra kita. Sudah lama aku tidak kembali ke kolombia." ujar Sherina dengan suara bergetar. Ia tiba-tiba ingat dengan putranya saat mendengar perkataan Alexa.


"Kita besok terbang ke kolombia. Aku juga ingin bertemu dengan putra kita." ujar Stevenson mengecup kedua mata tertutup istrinya. Ia juga mengecup air mata yang menetes dari kedua mata isterinya.


Dengan gemas Stevenson mencumbu leher jenjang istrinya. Dan terjadilah perang dunia ketiga di atas ranjang antara sepasang suami-istri itu. Mereka berharap perang itu akan membuahkan hasil untuk siap di panen.


🤣😂😂


#


#


Sementara di sisi Alexa


Alexa mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Gadis itu berharap secepatnya bisa tiba di apartemennya. Namun....


Bruk


...***Bersambung***...