IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Te Quiero Mucho Livia (Aku sangat mencintaimu Livia)



Haykal lalu membelokkan arah laju mobilnya kejalur sebelah kanan, lebih tepatnya ke arah kedatangannya tadi. Setibanya di depan gedung Penthouse itu, Haykal lalu turun dari mobil setelah memarkirkan mobilnya di parkiran umum penthouse.


Pria itu masuk ke dalam penthouse mewah milik para kalangan sultan itu. Meskipun pria itu berasal dari keluarga kaya-raya, namun untuk membeli sebuah penthouse di wilayah seperti itu bukanlah pilihan yang tepat. Karena membeli penthouse di wilayah itu akan menguras gajinya selama bertahun-tahun. Pria itu tidak mungkin meminta uang kepada kedua orangtuanya hanya untuk membeli tempat tinggal mewah seperti itu.


#


Sementara di dalam penthouse


"Apa kamu lelah?" tanya Steven mengelap keringat yang membasahi dahi istrinya. Steven sebenarnya merasa sedikit lelah setelah sejam mengemudikan helikopter yang mereka tumpangi. Mereka juga langsung bergegas menuju penthouse setelah helikopter mendarat di Hotel Royal. Steven dan Livia langsung pulang ke penthouse dengan mobil yang dikemudikan langsung oleh Robert.


"Sedikit...." lirih Livia menatap lembut mata biru suaminya. Ia terkadang merasa kesulitan mengalihkan pandangannya dari mata biru memikat itu. Ia merasa tersentuh dengan tindakan dan ucapan lembut suaminya.


"Berapa hari kita di mansion mama dan papa mertua?" sambung Livia bertanya sembari meneliti wajah tampan suaminya.


"Aku belum bisa memastikan berapa hari kita disana sayang. Bawalah pakaian dan barang-barang yang menurut kamu penting. Untuk pakaianku sepertinya disana juga sudah banyak." ujar Steven mendekap tubuh istrinya, dan meletakkan dagunya di atas kepala Livia.


"Mandilah! tubuh kita sepertinya sudah bau dan berkeringat." ujar Livia mengendus bau keringat dari kemeja yang dikenakan suaminya.


"Biarkan aku mendekap tubuh mu selama sepuluh menit saja. Anggaplah ini tambahan vitamin dari kamu." ujar Steven mengelus lembut punggung istrinya.


"Apapun terjadi di masa depan, cukup percayalah denganku dan dengan hatimu. Hem!" pesan Steven melepaskan pelukannya.


Ia menatap dalam wajah cantik istrinya


"Te quiero mucho Livia"


Cup


"Aku sangat mencintaimu karena kau hadir layaknya arti namamu, Livia."


"Kau hadir sebagai cahaya menerangi hatiku yang penuh dengan dendam dan kebencian." sambung Steven menatap mata hitam istrinya.


"Aku juga mencintaimu karena aku merasa hatiku berdebar kencang saat bersamamu. Aku merasa kau adalah malaikat penolong ku."


"Terima kasih sudah mencintaiku apa adanya." ucap Livia dengan suara bergetar. Setetes air mata terjatuh dari sudut matanya.


Steven lansung menghapus air mata itu.


"Don't crying...."


"Jangan menangisi apa yang sudah terjadi di masa lalu. Mulai sekarang, berbahagialah! Hem! karena ada aku yang akan selalu menemani hari-hari mu." jawab Steven mengecup kedua mata istrinya.


"Baiklah! aku mau mandi terlebih dahulu!" ucap Steven melepaskan pelukannya. Pria itu langsung masuk ke dalam kamar mandi setelah melihat anggukan istrinya.


Sementara Livia berlalu membereskan pakaian yang akan mereka bawa saat pulang ke mansion klan king. Robert dan Jesica diperintah Steven membeli oleh-oleh khas Spanyol untuk kedua mertuanya.


Ting Tong


Suara bel dari luar penthouse membuat Livia menghentikan aktivitasnya. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke arah kamar mandi.


"Apa itu Robert dan Jesica?"


"Ternyata mereka sangat cepat kembali dari mall tempat membeli oleh-oleh." monolog Livia melangkahkan kakinya menuju pintu keluar.


Cklekk


Tiba-tiba seorang pria memeluk tubuh Livia dengan erat. Livia tentu saja terkejut dengan tindakan kurang ajar orang tersebut.


...***Bersambung***...