
Sementara Steven tidak mungkin membalas Haykal, karena Ia sadar semua itu karena kesalahannya dimasa lalu. Namun melihat wajah Haykal membuat darah Steven ikut mendidih. Wajah pria itu selalu mengingatnya dengan penghianat ayah pria itu dimasa lalu.
Steven lalu membalikkan posisi mereka, dan duduk di atas perut Haykal. Ia lalu menatap tajam kedua bola mata Haykal, dan mencengkeram kuat dagu pria itu.
"Apa kau tahu seberapa brengseknya ayahmu di masa lalu?"
"Penghianat itu yang menyebabkan banyak anggota klan king tewas."
"Betapa buruknya kau terlahir dari benih seorang penghianat." ucap Steven beruntun.
Jantung Haykal berdetak kencang mendengar perkataan Steven. Pria itu sama sekali tidak mengetahui masa lalu kedua orangtuanya.
"Cih! apa karena masa lalu ayahku, kau melampiaskan dendammu kepada kekasihku?"
Haykal tidak bisa menyembunyikan kesedihannya mendengar perkataan Steven.
"Hahaha...."
"Kekasih?"
Steven tertawa terbahak-bahak mendengar kata terakhir yang keluar dari mulut Haykal.
"Hey bro!! bangun dari mimpimu!! dia sudah menjadi istriku sekarang!" ucap Steven tersenyum puas.
"Jangan terlalu bermimpi tinggi!" sambung Steven menatap tidak suka dengan kata kekasihku yang keluar dari mulut Haykal.
Lagi-lagi Haykal terkejut mendengar perkataan Steven. Ia lalu mengalihkan pandangannya menatap Livia mencari-cari kebohongan dari kedua bola mata itu. Namun pria itu tidak menemukan kebohongan disana.
Tanpa sadar setetes air mata mengalir dari sudut matanya. "Aku berjuang agar kau bisa sembuh dan menjalani hari-hari mu seperti semula. Tapi kau malahan pergi dari rumah sakit sehingga membuatku cemas dan khawatir mencari keberadaan mu kesana-kemari." ucap Haykal menatap kecewa ke arah Livia.
"Apa kepolosan selama kita pacaran hanya sandiwara semata? kau meninggalkanku dan putra kita untuk bisa bersama pria brengsek ini!!!" teriak Haykal.
"Kau terlihat sangat murahan Albina!!!" teriak Haykal marah tidak mampu menahan rasa sakit hatinya.
"A-ku---"
"Arghhh!!!!" teriak Livia melepaskan pegangan Jesica. Ia lalu membentur-benturkan kepalanya ke dinding penthouse disampingnya.
"Aku harus mengingatnya!!" teriak-nya lagi.
Sementara keempat orang yang ada di penthouse itu cukup terkejut dengan tingkah Livia. Steven langsung berdiri dari tubuh Haykal, dan berlari memeluk tubuh Livia untuk menenangkannya.
"Sayang...."
"Berhenti!!" teriak Steven
Alih-alih mendengar perkataan Steven, Livia semakin membenturkan kepala ke dinding hingga darah mengalir dari dahinya. Tak hanya itu, air mata juga ikut mengalir deras membasahi pipi Livia. Ia berusaha menahan rasa nyeri dan sakit yang mulai dirasakannya.
Steven langsung membalikkan tubuh istrinya, dan mendekap tubuh Livia agar istrinya tenang.
"Jangan lakukan itu! Hem!" ucap Steven lembut menenangkan istrinya.
"Ambilkan P3-K di ruangan kesehatan!!" perintah Steven tanpa melepaskan dekapannya.
Jesica langsung berlari menuju ruangan kesehatan setelah mendengar perintah Steven.
"Ap-apa kau membohongi ku? apa yang sebenarnya terjadi dimasa lalu?" tanya Livia menangis tersedu-sedu.
"Aku kekasihmu lima tahun lalu Albina!! kita sudah memiliki putra! pria itu adalah pria bajingan!! pria yang sudah tega memperkosa mu, lalu mencampakkan mu!!" teriak Haykal berdiri.
"Sadarlah Albina! pria di depanmu itu adalah seorang monster!" sambungnya mengingatkan Livia tentang kilasan masa lalu mereka.
Berhenti berbicara omong kosong!! kalau kau tidak mau mulutmu itu ku robek!!" ancam Steven menatap tajam kearah Haykal. Aura dan suhu di ruangan itu tiba-tiba berubah menjadi dingin dan mencekam.
...***Bersambung***...