
"Abang.... jangan melamun! pria itu sedang memegang senjata api."
Gion tersenyum hangat mendengar kekhawatiran saudari kembarnya.
"Aku hanya penasaran Xaviera. Sebenarnya apa alasan pria ini menculik ku? Dan keuntungan apa yang akan pria ini dapatkan." balas Gion melihat sebuah bayangan melangkah mendekati ruangan itu.
Terdengar tiga kali tembakan dilayangkan seseorang kearah pria itu.
Dor
Dor
Dor
"Hore! Daddy datang, Abang." Xaviera melompat senang melihat kedatangan Stevenson.
"Cih! Akhirnya kau datang juga! Apa istrimu tidak ikut datang bersamamu?" tanya pria itu dengan wajah angkuh.
"Cih! sebentar lagi nyawamu akan melayang! Tapi kau masih saja bertingkah angkuh!" sindir Stevenson menatap tajam pria itu.
"Edward...."
"Apa kau tidak malu akan penghianat mu kepada negara?" tanya Stevenson tersenyum menyeringai.
"Menculik seseorang merupakan tindakan kriminal. Dengan menculik putraku, bukankah kau sudah melanggar hukum"
"Atasan yang harusnya menjadi panutan malah memberi contoh yang tidak baik kepada bawahannya." ejek Stevenson sembari memberikan kode kepada putranya.
"Cih! aku hanya ingin membalas dendam atas kematian Mr Park! karena tindakan istrimu! rencana besar ku jadi berantakan!"
"Bukankah tugas kalian memberantas kejahatan dan menjadi informan untuk mendamaikan dunia?"
"Jadi, istriku tentu saja tidak salah menghabisi nyawa pria bajingan itu." jawab Stevenson tanpa rasa takut sedikitpun.
"Ah... aku tahu sekarang... Apa kalian selama ini merupakan sepasang kekasih? Dilihat dari usiamu, kau terlihat sudah cukup mateng untuk menikah. Tapi, aku tidak melihat kau memiliki kekasih ataupun teman dekat." kata Stevenson menduga-duga.
"Hahaha."
"Xaviera, tolong ambil senjata apa yang ada di tangan pria itu." bisik Gion dengan cepat.
Xaviera terlihat melangkah mendekati pria itu. Xaviera dengan celah mencubit lengan pria itu dengan kuat.
"Aw!" pria itu terdengar meringis pelan, sehingga menjatuhkan senjata api miliknya. Di penglihatan pria itu dan Stevenson, pistol itu melayang-layang di udara. Karena mereka tidak bisa melihat mahkluk tak kasat mata. Sementara dari jarak jauh, Dean, dan Jack sudah siap siaga melayangkan sebuah tembakan jarak jauh. Kejadian ini mengingatkan mereka akan masa lalu.
"Bukankah kejadian ini ingin mengingatkan kita akan masa lalu." celetuk Dean tiba-tiba mengamati situasi di dalam gedung kosong itu dengan teropong senjata api miliknya. Dean memiliki kemampuan menembak jarak jauh. Tentu saja kemampuan itu dia latih selama bertahun-tahun lamanya.
"Ya, kau benar." jawab Jack.
"Tapi, kali ini kita tidak boleh kalah." lanjut Jack menunggu instruksi dari Greyson untuk melakukan penembakan.
[Sekarang!Tembak!]
"Dean tembak!" instruksi Jack setelah mendengar perintah dari Greyson.
Dean langsung melayangkan dua kali tembakan kearah jantung pria itu. Tak ada suara letusan dari senjata apa itu. Hingga tidak akan menimbulkan kecurigaan pria itu.
Sebelum menembak pria itu, pria itu ternyata sudah tumbang ke lantai. Darah segar mengalir deras membasahi pakaian yang dikenakannya.
Gion mengalihkan pandangannya keluar jendela. Ia melihat anak buah kakeknya sudah ada disana.
Sementara Stevenson dengan cepat melangkah mendekati putranya.
"Apa pria itu menyakiti mu?" tanya Stevenson meneliti pakaian putranya. Ternyata Gion baik-baik saja.
"Syukurlah kamu baik-baik saja. Mommy mu sangat menghawatirkan keadaan mu." sambung Stevenson mengacak-acak rambut putranya.
Tak beberapa lama,. Greyson dan Steven tiba di ruangan itu. Ia melihat Edward sudah tergeletak tak bernyawa.
Mereka melangkah mendekati mayat itu.
"Dia sudah mati. Bukankah pria ini salah satu orang penting di negara ini. Bukankah kematian pria ini akan menggemparkan dunia." gumam Steven menatap datar genangan darah di lantai.