IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Albina dan Haykal End



Saat berjalan tergesa-gesa masuk ke dalam penthouse pria yang tadi menghubunginya. Livia mengehentikan langkahnya saat mendengar suara pria yang sangat familiar di telinganya.


"Aku hanya ingin membalaskan dendam ku pada keturunan penghianat itu. Agar dia tahu bagaimana rasanya dikhianati."


"Apa yang akan pria itu lakukan saat melihat kekasihnya sudah tidur dengan pria lain." ujar pria itu menyeringai tipis keluar dari penthouse miliknya.


Hari ini pria itu berniat berangkat ke Inggris melanjutkan studinya bersama adiknya.


"Apa itu tidak terlalu keterlaluan tuan?" tanya asisten pria itu dengan serius. Ia datang ke negara itu untuk menjemput tuannya sesuai perintah pria itu tadi malam.


"Tidak.... Ini tidak sebanding dengan apa yang penghianat itu lakukan di masa lalu."


Deg


Bagai ditusuk ribuan pisau dan menggores luka di sekujur tubuhnya. Livia benar-benar merasa hatinya sakit saat mendengar perkataan yang kelua dari mulut pria yang dicintainya.


Ia ingin cepat-cepat datang kesini karena ingin memberitahukan kabar kehamilannya. Ia juga ingin pria itu bertanggung jawab atas kehamilannya. Namun apa yang Ia dengar benar-benar membuat hatinya hancur berkeping-keping.


Livia berusaha menahan air matanya untuk tidak keluar dari matanya. Namun Ia tidak bisa melakukannya. Ia tidak tahu mengapa akhir-akhir ini Ia sangat cengeng dan sensitif.


"Jadi aku hanya wanita yang Ia jadikan sebagai jalur balas dendamnya?"


"Apa hanya aku yang terlalu berharap, Ia akan mencintaiku seperti aku yang selama ini diam-diam mencintainya." lirihnya membalikkan tubuhnya masuk kembali ke dalam lift.


Livia berlari keluar dari penthouse pria itu tanpa berniat menyapa ataupun menemuinya. Ia menatap kosong ke jalan raya. Ia belum sadar kalau kakinya sudah melangkah melewati jalan trotoar.


Di kepala Livia masih terngiang-ngiang perkataan menyakitkan yang keluar dari mulut pria yang diam-diam Ia cintai.


Teriakan Haykal sama sekali tidak terdengar di pendengarannya. Ia terus melangkah sambil melamun dan meratapi nasibnya yang menyedihkan.


Tin tin tin


Suara klakson mobil membuat kesadaran Albina kembali, Ia merasakan cengkeraman kuat tangan seseorang di bahunya.


"Apa kau ingin mati!!"


"Apa kau tidak ingat kedua orang tuamu sudah bersusah payah mengasuh mu, agar kau bisa berguna untuk orang lain!!"


Teriak Haykal marah sekaligus geram melihat tindakan berani Albina. Ia tidak menduga kalau Albina memiliki niat untuk bunuh diri.


"Aku...."


"Aku tidak berniat bunuh diri...."


"Karena...."


"Karena dia sudah hadir di rahim ku." lirih Albina terbata-bata menatap perutnya.


Sementara Haykal terkejut mendengar perkataan Albina.


"Ap-apa?"


"Aku...."


"Aku baru tadi mengetahuinya."


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Albina memejamkan matanya meratapi nasibnya. Ia tidak tahu bagaimana nasib mereka kedepannya.


"Si-siapa pria yang menghamili mu! jawab!!!" bentak Haykal mencengkeram kedua bahu Albina.


"Apa hari itu terjadi saat pertemuan terakhir kita?"


"Apa pria itu memperkosa mu!!" bentak Haykal semakin mencengkeram kuat kedua bahu Albina.


"Sakit Haykal" lirih Albina berusaha melepaskan cengkeraman Haykal di bahunya.


"Ma-maafkan aku...."


"Aku terlalu emosi mendengar perkataan mu." terang Haykal melepaskan cengkraman nya.


"Dia tidak akan bertanggung jawab atas semua ini, karena pria itu melakukannya tanpa cinta." gumam Albina pelan.


"Walaupun dia tidak mencintaimu! tapi pria itu harus bertanggung jawab Albina!" dengus Haykal mendengar perkataan Albina.


"Dia hanya ingin balas dendam Haykal! Dia tidak akan mau bertanggung jawab meskipun aku mengatakannya!" teriak Albina menangis tersedu-sedu. Wanita itu menepuk-nepuk dadanya untuk mengurangi rasa sesak di dadanya.


Haykal tertegun melihat sorotan mata Albina dipenuhi dengan tatapan terluka, kesakitan, kebencian dan kesedihan.


Pria itu dengan cepat menarik tubuh ramping Albina dan memeluknya dengan erat.


"Tenanglah...."


"Aku akan menjaga kalian." bujuk Haykal berusaha menghentikan tangisan Albina.


Sementara seorang pria semakin murka dan benci melihat apa yang Haykal dan Albina lakukan di tempat umum. Ia sedari tadi melihat adegan itu dari area parkiran bangunan penthouse-nya.


Sebenarnya pria itu tadi berniat menemui Albina langsung ke apartemennya. Namun pemandangan itu membuatnya mengurungkan niatnya.


"Ayo kita langsung berangkat ke bandara saja. Jet pribadi sudah menunggu kita di bandara." ujarnya masuk ke dalam mobilnya.


Sementara asistennya menyeritkan keningnya mendengar perkataan tuannya.


"Bukankah tuan tadi berniat bertemu dengan wanita itu terlebih dahulu sebelum ke bandara?" batinnya melirik sekilas wajah tuannya.


Pria itu melihat tuannya yang duduk di kursi penumpang seperti sedang menahan amarahnya. Rahang tegas pria itu terlihat ikut mengeras menahan amarahnya agar tidak meledak.


Asistennya lalu melajukkan kendaraan roda empat itu menuju jalur bandara. Mobil itu berlalu meninggalkan parkiran penthouse mewah itu hingga tidak terlihat lagi.


"Ternyata kau sangat mencintai pria itu." batin pria yang duduk di kursi penumpang sembari menatap keluar jendela mobil.


...***Bersambung***...