
Ayah Stevi menghembuskan napas terakhirnya beberapa hari yang lalu setelah mendengar berita kehamilan cucunya. Ia tidak menyangka kalau Vania memiliki pergaulan diluar batas. Sementara ibu Stevi terlihat sangat terpuruk. Kedua mata wanita paruh baya itu terlihat kosong, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.
"Ma? apa Mama baik-baik saja? bagaimana kalau Mama ikut Stevi ke Mansion klan king. Mungkin saja perasaan Mama akan lebih tenang setelah kepergian Papa." ujar Stevi dengan lembur.
"Kenapa? kenapa Papa meninggalkan Mama sendirian? kenapa Papa meninggal secepat ini?" ujar Nyonya Lorens dengan suara bergetar.
"Ini semua terjadi karena suratan takdir, Ma. Kita tidak bisa menentukan kapan kita akan meninggalkan, karena semua yang ada di dunia ini hanya sementara." sahut Stevi menguatkan orang tuanya.
"Lebih baik kita tinggal bersama, disana juga ada cucu dan cicit Mama. Mama tidak akan kesepian." timpal Stevi. Sementara Silvia ikut sedih melihat Mamanya terpuruk atas kepergian Papa nya. Ia tidak menyangka kalau ayahnya akan pergi secepat ini.
"Ma.... maafkan aku, aku mungkin gagal menjaga putriku." seru Silvia dengan suara bergetar. Ia tahu Papanya meninggal karena mengetahui kabar kehamilan putrinya. Cucu perempuan yang selama ini di sayangi tuan Lorens. Karena hanya Vania yang tinggal di dekatnya. Sementara Alexa dan Grace tinggal di negara yang berbeda.
Tak ada jawaban yang terucap dari bibir Nyonya Lorens, wanita itu hanya menangis terisak-isak setelah kepergian suaminya. Ia cukup kesepian setelah kepergian suaminya. Perasaannya seakan ikut mati bersama suaminya.
"Ma, apa Mama tahu, Alexa cucu Mama dan kedua cucu menantu Mama juga sedang mengandung. Bukankah anak itu sebuah anugrah? mengapa kita harus berlarut-larut dalam kesedihan? sementara kebahagiaan sedang menanti kita. Ikhlas adalah salah satu jalan untuk membuat hati Mama lebih tenang. Ikhlaskan kepergian Papa, agar Ia juga tenang di sorga." ujar Stevi mendekap tubuh rapuh ibunya.
Nyonya Lorens menangis tersedu-sedu mendengar perkataan Stevi, sementara Silvia juga sangat sedih mendengar suara tangisan Mamanya.
Keesokan harinya
Stevi membawa Nyonya Lorens ke mansion klan king. Vania masih asik mengurung diri di dalam kamar, tanpa berniat menampakkan wujudnya. Ia terlihat menatap kosong kearah halaman rumah, dimana Stevi membawa Nyonya Lorens menuju mobil yang sudah menjemput mereka.
"Ma-maafkan aku.... maafkan aku. Aku tidak tahu mengapa semua ini bisa terjadi." ujar Vania menangis terisak-isak. Ia juga tidak tahu, kenapa Ia bisa hamil. Setahunya dan seingatnya, ia belum pernah melakukan hubungan terlarang itu dengan lawan jenisnya.
Vania membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, dan air mata tidak berhenti mengalir dari kedua pelupuk matanya.
Sementara di halaman rumah
Silvia tak kuasa menahan air matanya melihat Mama nya dibawa pergi oleh adiknya. Setelah bertahun-tahun tinggal bersama, sekarang Mama nya memiliki tinggal dengan adiknya.
"Ma.... jaga diri Mama baik-baik. Semoga Mama bisa ikhlas melepas kepergian Papa. Dan Mama juga bisa lebih tenang lagi setelah tinggal bersama Stevi. Aku yakin, disana pasti bakal rame anak kecil yang bisa menemani kesepian Mama." ujar Silvia menghapus air matanya.
...***Bersambung***...