
Di Sebuah pulau kecil
Beberapa jam yang lalu Livia sudah selesai melakukan terapi bersama dokter yang sebelumnya Steven bawa untuk membantunya mengatasi kesehatan mental Livia.
Dokter itu melakukan pengobatan amnesia disosiatif dengan terapi psikoanalisis dan Cognitive Behavioral Therapy (CBT) yang berfokus pada pendekatan mendalam penyebab timbulnya amnesia disosiatif dan perubahan pola berpikir, perilaku dan perasaan Livia.
"Bagaimana?" tanya Steven kepada putri asisten ayahnya yang berprofesi sebagai dokter psikiater.
"Nona muda mengalami amnesia disosiatif, sehingga Ia tidak bisa mengingat hal-hal tertentu. Namun semakin hari sepertinya nona muda mulai ingat lagi mengenai kilasan traumatis nya. Hal tersebut mempengaruhi perubahan kesehatan mentalnya."
"Proses penyembuhannya tidak akan lama tuan asalkan Anda menjaga suasana hati dan pikirannya agar tetap stabil. Lengkapi hari-harinya dengan kebahagiaan, agar Ia merasa lebih tenang mengungkapkan isi hatinya kepada anda. Melihat pria dengan mata yang sama dengan orang yang terlibat dengan masa lalunya tentu saja ikut mempercepat proses pemulihan Ingatannya."
Steven menganggukkan kepalanya saat mendengar penjelasan dari dokter psikiater istrinya.
"Baiklah kurasa aku akan membutuhkan bantuanmu untuk beberapa hari ke depan." ujar Steven menatap wajah bahagia istrinya. Livia sedang bermain pasir di pinggir pantai mengenakan dress selutut.
"Terima kasih untuk kepercayaannya tuan." ujar Jesica Williams membungkukkan sedikit kepalanya.
"Ayahmu adalah asisten kepercayaan ayahku, tidak perlu sungkan. Hanya saja...."
"Jangan sampai masalah ini sampai ke Daddy." sambung Steven menatap tajam mata Jesica.
Gadis itu merasa bulu kuduknya merinding melihat bola mata bercahaya Steven. Bola mata itu seakan-akan mempertegas sebuah ancaman kepadanya.
"Pergilah...." usir Steven memperhatikan aktivitas istrinya. Ia tersenyum tipis melihat senyum ceria di wajah tirus istrinya.
"Mengapa hanya melihat senyum manis itu jantungku selalu bergetar hebat." monolognya melangkah menuruni tangga.
"Apa kamu tidak kepanasan bermain di bawah terik matahari?" tanya Steven tiba-tiba muncul di belakang Livia.
Livia tersenyum kecil mendengar pertanyaan suaminya.
"Aku merasa sangat familiar dengan aktivitas seperti ini. Ini terlihat seperti rutinitas sehari-hari ku." ujar Livia membalikkan tubuhnya.
"Apa kamu mau mencoba diving bersama ku?" tawar Steven. Kebetulan pria itu memiliki hobi menyelam menggunakan snorkeling. Diving yang sering pria itu gunakan adalah free diving namun Ia tidak mungkin melakukannya disaat kondisi Livia masih belum stabil.
"Benarkah? aku mau." sahut Livia berdiri dari duduknya. Ia langsung berlari ke arah Steven dan mendekap tubuh kekar pria itu.
"Sedari tadi aku sangat ingin masuk ke dalam air itu! Aku seperti mendengar ombak seakan-akan memanggil ku!" ujar Livia meletakkan wajahnya di depan dada bidang Steven.
"Baiklah kita diving di ke dalaman beberapa meter saja." sahut Steven tidak mau mengambil resiko mendengar ucapan Livia.
Karena terlalu bahagia mendengar perkataan suaminya, Livia meninggalkan sebuah kecupan manis di bibir Steven.
"Terima kasih...." ucapnya mengalungkan tangannya di leher Steven. Wajahnya sudah terlihat lebih ceria dan agresif.
Steven tertegun dengan tindakan spontan istrinya, Ia merasa akhir-akhir ini perilaku Istrinya sudah tidak normal. Karena membuat hatinya berdebar kencang dengan tindakan spontan-nya.
"Sepertinya aku harus memeriksa kondisi kesehatan jantungku, kalau terus-menerus mendapatkan serang tiba-tiba seperti ini." monolognya dalam hati menatap wajah bahagia Istrinya.
...***Bersambung***...