IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Part 11



Setibanya di depan ruang rawat inap Sherin. Stevenson menghentikan langkahnya lalu menghembuskan napasnya agar emosinya stabil.


Cklek


Stevenson melihat Sherin masih menutup kedua matanya. Pria itu berusaha menahan diri untuk tidak menghampiri Istrinya. Pria itu melangkah menuju sofa yang tersedia di ruangan rawat inap istrinya.


Stevenson lalu mendudukkan bokongnya di atas sofa. Pria itu menyenderkan punggungnya sembari menatap langit-langit kamar rawat inap istrinya.


Pria itu termenung lama hingga panggilan Sherin membuyarkan lamunannya.


"Ney...." panggil Sherin mengerjapkan matanya berulangkali.


Stevenson berdiri dari duduknya kemudian Ia melangkah mendekati ranjang rawat inap istrinya.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Stevenson menatap datar istrinya.


Sherin merasa bingung melihat ekspresi suaminya. "Bukankah harusnya aku yang marah atau cuek dengan apa yang Ia lakukan dengan gadis itu?" monolog Sherin pelan.


Sementara Stevenson ikut merasa bingung mendengar ucapan istrinya.


"Apa maksudmu?" tanya Stevenson menyeritkan keningnya.


"Kemaren sore kau ada dimana Ney?" tanya Sherin memincingkan matanya menatap bola mata suaminya.


"Aku mengerjakan tugas kuliah bersama Richard dan Rachel." jujur Stevenson.


"Benarkah?" tanya Sherin lirih menatap tajam bola mata suaminya.


"Apa aku pernah berbohong kepadamu? atau malah sebaliknya! kau yang berbohong kepadaku!!" kesal Stevenson. Tanpa sengaja pria itu mengeluarkan perkataan yang membuat Sherin semakin bingung. Apa lagi Stevenson belum pernah berbicara dengan intonasi seperti itu kepadanya.


"Ney.... aku...."


Perkataan Sherin terhenti ketika melihat bola mata tajam Stevenson berubah menjadi merah darah.


"Sebelum kita menikah...."


"Kau berkata kalau kau sangat ingin memiliki bayi di usia muda. Tapi mengapa saat Tuhan memberikan kita kesempatan.... Ka--kau menolaknya!" sentak Stevenson. Setetes air mata mengalir dari sudut kelopak matanya.


"Apa maksudmu?" tanya Sherin. Ia semakin bingung dengan perkataan melantur suaminya.


"Dokter menemukan kandungan misoprostol di dalam darahmu. Bukankah saat kita memeriksa keadaan mu.... Dokter mengatakan kalau kau hanya mengalami anemia? lalu mengapa ada kandungan misoprostol di dalam darahmu?"


"Apa kau berniat menggugurkan kandungan mu?"


"Jawab!!" teriak Stevenson menatap tajam kedua bola mata istrinya. Teriaknya membuat hati Sherin terluka. Biasanya suaminya akan berbicara lembut dan menuruti semua yang Ia minta. Tapi hari ini semuanya terlihat berubah.


Sherin cukup terkejut mendengar bentakan suaminya. Ia masih belum mengerti kemana arah pembicaraan suaminya. Bukankah suaminya sangat senang mendengar kehamilannya dulu? pikirnya.


Lagi-lagi gadis itu tertegun melihat setetes air mata mengalir keluar dari sudut mata suaminya.


"Kandungan misprostol?"


"Sepertinya aku tidak pernah mengonsumsi obat itu. Aku hanya meminum vitamin dan makanan bergizi yang selalu kamu buatkan." ujar Sherin menahan gerumuh di hatinya mendengar teriakkan suaminya.


Bukankah harusnya Ia yang marah melihat suaminya duduk berdua dengan wanita lain.


"Lalu apa yang terjadi saat aku pergi meninggalkan mu di apartemen?" tanya Stevenson menatap sinis istrinya.


Lagi-lagi hati Sherin sakit mendapat tatapan sinis dari suaminya.


"Bukankah harusnya aku yang marah kepadamu? kau nongkrong di restoran bersama Rachel tanpa ijin padaku?" ujar Sherin lirih tanpa tahu kenyataan yang sebenarnya.


"Bukankah aku sudah mengatakan kalau aku akan mengerjakan tugas kuliah? apa kamu juga harus memilih dengan siapa aku mengerjakan tugas kelompok itu?" tanya Stevenson memincingkan matanya menatap ekspresi sedih istrinya. Ia memang pergi bersama Rachel dan tentu saja Richard juga ada disana. Namun mengapa istrinya hanya menyebutkan nama Rachel tanpa ada nama Richard pikirnya.


"Ney.... Aku...." ucapan lirih Sherin terhenti saat melihat Stevenson membalikkan tubuhnya.


"Kau mau pergi kemana? apa kau mau menemui wanita itu?" teriak Sherin menahan sakit di perutnya.


Sherin menangis tersedu-sedu melihat kepergian suaminya.


"Mengapa kau tidak mau mendengar penjelasan ku Ney...." lirihnya memejamkan kedua matanya menahan luka di hatinya. Gadis itu belum merasakan rasa sakit di tubuhnya. Karena efek obat bius masih bekerja di dalam tubuhnya. Sherin kembali memejamkan matanya menahan tangisnya.


Tak beberapa lama terdengar suara pintu terbuka di pendengarannya. Sherin lalu menghentikan tangisnya. Ia mengira jika suaminya kembali dan berusaha membujuknya. Namun lagi-lagi Ia harus kecewa. Bukan suaminya yang datang tapi seseorang yang selama ini gadis itu rindukan.


"Are you okey?" tanya seorang wanita paruh baya padanya.


"Ma...." lirihnya menatap ibunya.


"Dari mana Mama tahu Sherina ada di rumah sakit?" tanya Sherin menghapus air matanya.


Dena melangkah mendekati ranjang rawat inap anaknya. Sementara suaminya masih mau menemui dokter untuk memastikan kondisi putrinya.


"Pengawal Papa." ujar Dena. Ia mengelus lembut kepala putrinya.


"Benarkah? apa Papa juga ada disini?" tanyanya lagi.


"Tentu. Papa akan selalu memprioritaskan anak kesayangannya ini." ujar Dena mencubit gemas pipi cabi putrinya.


"Ma.... Sherin...."


"S.... Diam-lah. Mama dan Papa sudah tahu semuanya. Harusnya anak Mama bahagia mendapatkan pria yang selama ini Ia impikan." ujar Dena tersenyum hangat menatap wajah sedih putrinya.


"Apa mereka baik-baik saja?" tanya Dena menatap perut putrinya yang masih ditutup dengan selimut.


Deg


Sherina tertegun mendengar pertanyaan dari Mamanya. Gadis itu langsung teringat dengan ucapan melantur yang keluar dari mulut suaminya.


Sherin lalu menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Gadis itu melihat perutnya di balut dengan perban tebal.


"Ma apa yang terjadi dengan Sherin?" tanyanya cemas. Ia bingung mengapa perutnya di perban seperti ini.


"Semuanya baik-baik saja.... Tunggulah sampai Papa kembali dari ruang dokter." bujuk Dena menenangkan kekhawatiran putrinya.


Cklekk


Pintu ruang rawat inap Sherin dibuka oleh Tuan Lendsky. Ia tersenyum hangat melihat putrinya.


"Apa kamu sudah merasa lebih baik sayang?" tanya pria itu kepada putrinya.


"Sherina tidak merasa sakit sama sekali Pa." ujarnya tersenyum tipis menatap kedatangan Papanya.


"Ikutlah Mama dan Papa kembali ke Kolombia." bujuk Tuan Lendsky penuh harapan.


"Papa dan Mama cukup khawatir meninggalkan mu disini." sambung Tuan Lendsky menatap sendu kearah putrinya.


"Come On Pa.... Ada Neymar di samping Sherina." ujar Sherin cemberut.


"Ya.... Papa tahu ini. Tapi keadaannya tidak seperti yang kamu pikirkan sayang." sahut Tuan Lendsky.


"Tunggulah sampai pria itu menyelesaikan urusannya. Papa akan mengijinkan mu kembali bersamanya." bujuk Tuan Lendsky melihat wajah sedih putrinya.


"Tapi Sherin mau bersama Neymar Papa. Lalu bagaimana dengan bayiku? mereka pasti butuh sosok ayah mereka." sahut Sherin kekeh mau tinggal di London bersama Stevenson.


"Tapi pria itu tidak akan datang." seru Tuan Lendsky.


Sherin menyeritkan keningnya mendengar perkataan ayahnya. "Dia pasti akan datang Pa. Papa harus tahu.... Neymar selalu memanjakan Sherin dan perhatian dengan kesehatan Sherin. Sherin yakin sebentar lagi Ia akan datang membawa makanan kesukaan Sherin." ujar Sherin penuh keyakinan.


Seharian Sherin menunggu kedatangan suaminya. Namun Stevenson tidak kunjung datang menjenguknya ke rumah sakit. Sherin menangis dalam diam di dalam selimut. Ia berbaring terlentang menutupi seluruh tubuhnya agar suara tangisnya tidak terlalu terdengar.


...***Bersambung***...