
Tak beberapa lama setelah kepergian Jack dan Rain, Stevi tiba-tiba masuk ke ruang kerja Greyson dengan wajah cemas.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Greyson menyeritkan dahinya.
"Sayang, Gion dengan Albi tidak ada dikamar." ujar Stevi sedikit gusar.
"Mereka pasti sedang bermain-main di sekitaran mansion, tidak usah cemas." ujar Greyson masih santai.
Namun suara tembakan sebanyak tiga kali membuat Greyson langsung berdiri dari duduknya. Ia langsung keluar dari ruangan kerjanya dan masuk ke ruangan komputer.
Rain bingung melihat Greyson tiba-tiba datang ke ruangan komputer. Namun matanya membulat melihat isi rekaman CCTV beberapa menit yang lalu. Disana terlihat Gion dan Albiano melangkah masuk ke dalam sebuah lorong. Tentu saja lorong itu tidak bisa dimasuki oleh orang sembarangan. Stevi saja tidak pernah diijinkan masuk kedalam oleh Greyson, bagaimana bisa Gion dan Albiano masuk ke dalam lorong itu pikir mereka.
"Benar-benar diluar dugaan." ucap Rain dalam hati.
"Sial! mengapa anggota klan king tidak memasang alat peredam suara pistol itu." dengus Greyson merasa kesal.
Greyson langsung keluar setelah mengetahui keberadaan kedua cucunya. Pria setengah baya itu melangkah tergesa-gesa masuk ke dalam lorong.
Rain mengikuti langkah Greyson dari belakang
Tap
Tap
Tap
Hingga
BRAK
Greyson membuat pintu lorong secara paksa, lalu berkata. "Apa kau melihat kedua cucuku?" tanya Greyson menatap tajam kearah anggota klan king. Greyson belum menyadari keberadaan Gion dan Albiano, karena tubuh Greyson lumayan tinggi. Pandangannya hanya fokus menatap seorang anggota klan king.
"Cucu?" tanya pria itu dengan lirih. Ia merasa jantungnya tiba-tiba berhenti berdetak mendengar ucapan Greyson.
"Iya, Cucuku!!" bentak Greyson.
"Tuan...." ucap pria itu terbata-bata
"Mereka ada di depan saya. Anda bisa melihat mereka di depan Anda."
Ia tidak tahu, apakah hari ini terakhir dia bernapas atau tidak. Namun yang pasti, nyawanya sedang terancam. Apa lagi melihat aura yang dikeluarkan Greyson. Tentu saja membuat hati pria itu semakin cemas.
Greyson langsung menurunkan pandangannya ke bawah. Matanya membesar melihat salah satu cucunya memegang senjata api.
"Sayang, apa yang kamu lakukan? itu sangat berbahaya, kalau digunakan oleh anak kecil." tukas Greyson mengambil senjata api itu dari tangan Gion.
"Apa kau yang memberikan senjata ini kepada cucuku?" tanya Greyson menatap tajam kearah pria itu.
"T-tuan--"
"Bukan, aku yang mengambilnya dari tangan Paman itu." potong Gion dengan jujur. Ia tahu pria itu takut kepada kakeknya.
"Bagaimana caramu mengambilnya?" tanya Greyson sedikit penasaran.
"Dengan cara mengelabui musuh dengan pergerakan sedikit cepat dan gesit." ujar Gion tersenyum lebar.
"Cih, seperti penerus klan king selanjutnya bakal dari keturunan Stevenson." ucap Greyson dalam hati.
"Mengapa kalian masuk ke sini?" tanya Greyson melembutkan suaranya.
"Kami penasaran dengan suara tembakan. Bukankah tembakan ku sangat keren. Coba lihat itu...." tunjuk Gion kearah tiga orang mata-mata. Gion tersenyum puas menatap ketiga mata-mata itu sudah tewas. Ia merasa tembakannya benar-benar tepat sasaran.
Lagi-lagi Greyson terkejut mendengar perkataan cucunya. Ia mengalihkan pandangannya menatap anggota klan king. Anggukan pria itu membuktikan perkataan cucunya. Greyson langsung berjongkok di hadapan cucunya. Sementara Albiano masih takut terlalu masuk ke dalam. Ia merasa mual melihat genangan darah di depan sana.
...***Bersambung***...