IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Extra Part 8



"Bagiamana dengan makanan cepat saji yang ada di atas meja? Apa kau tidak mau memakannya?" balas Michelle menatap saudaranya dengan wajah bingung. Sebenarnya dari kecil mereka jarang makan makanan cepat saji. Karena Sherina dan Alexa setiap hari memasak untuk keluarga mereka. Jadi, akan terasa aneh rasa makanan luar ketika dimakan oleh mereka.


"Tidak, kau tahu sendiri, kalau keluarga kita jarang makan seafood. Apa lagi Albi alergi dengan seafood." ujar Gion berdiri dari duduknya dan menuntut Michelle bangkit berdiri.


"Tapi--"


"Tidak apa-apa. Biarkan dia yang memakan makan itu. Kalau pun dia mau membuangnya tidak masalah."sela Gion menarik Michelle keluar dari ruangannya.


"Apa masalahnya? kan Albi yang alergi? sementara Gion sama sekali tidak alergi dengan seafood." gumam Michelle dalam hati menatap raut wajah saudaranya.


Sementara Arabella merasa darahnya mendidih melihat Gion tidak menghargai usahanya. Namun apalah daya, Arabella tidak mungkin protes kepada sang atasan.


"Dari pada makanan ini terbuang sia-sia, lebih baik aku memberikannya kepada orang yang membutuhkannya." gumam Arabella mengumpulkan semua makanan yang tadi disajikannya.


Dia Sebuah restoran mewah Gion dan Michelle memesan sebuah ruangan VIP. Mereka tentu saja tidak mau tersorot kamera. Apa lagi wajah Michelle sangat cantik dan duplikat Alexa dan Paskal.


"Sepertinya kau tertarik dengan wanita tadi. Karena tak biasanya kau bertingkat seperti tadi. Kita selalu diajarkan untuk menghargai makanan dan menghabiskan makanan apapun yang disajikan di atas meja makan. Karena masih banyak diluar sana yang tidak mampu membeli sebiji beras pun untuk dimakan. Sementara kau memintanya untuk membuang makan sebanyak itu. Kau terlihat tidak seperti Gion yang ku kenal." ungkap Michelle terus terang.


"Benarkah? Tapi menurutku... aku masih seperti Gion yang biasanya. Pemuda baik hati dan penuh perhatian."jawab Gion tersenyum lebar.


"Cih! jangan sampai jatuh cinta. Ingat kau sudah dijodohkan dengan anaknya Papi Albi."


"Cih! kampung! sayangnya aku tidak pernah setuju dengan perjodohan itu." ujar Gion menatap datar makanan yang ada depannya.


"Tapi, apa kau tahu. Aku memiliki sebuah rahasia kecil untuk mu. Apa kau mau mendengar rahasia itu?" tanya Michelle menatap saudaranya dengan serius.


"Rahasia apa?" tanya Gion dengan wajah datar. Meskipun terselip sedikit rasa penasaran dihatinya.


"Sebenarnya gadis itu juga tidak menyukaimu. Gadis itu selama ini jatuh cinta dengan kepolosan Albiano." ungkap Michelle.


"Benarkah?"


Tak beberapa lama seorang remaja laki-laki masuk ke dalam ruangan itu dengan wajah kusutnya.


"Kenapa kau meninggalkanku? Apa kau tidak takut tersesat karena pergi sendirian?" omel anak remaja laki-laki dengan wajah cemberut.


"Hay, kak. Apa kabar." anak itu menepuk pelan pundak Gion.


"Kabarku sangat baik? bagaimana denganmu? apa gadis-gadis disana memiliki paras yang cantik-cantik?" tanya Gion menatap adik sepupunya.


"Hem.... tentu saja. Kau bisa melihat gadis yang ada di depanmu."ujar Michael tanpa mengalihkan pandangannya dari makanan yang sudah tersaji di atas meja.


"Keturunan Douglas tentu saja cantik-cantik. Lalu bagaimana dengan mu? Apa ada wanita yang menarik perhatian mu?"


"Tidak ada yang menarik. Yang ada aku malah selalu kena sial bertemu seorang gadis di sekolah ku."ujar Michael keceplosan. Entah Gadis yang mana dimaksud anak laki-laki itu. Namun, melihat senyuman Michelle, Gion bisa pastikan Gadis yang dimaksud Michael merupakan wanita yang ada di sekitar mereka.


"Sepertinya kau sudah tertarik dengan sahabatku." celetuk Michelle tersenyum lebar.


"Cih! tertarik? Aku tidak akan pernah tertarik dengan


gadis upik seperti sahabat mu itu. Aku sama sekali tidak suka dengan gadis gemuk. Aku lebih suka melihat gadis langsing, cantik dan seksi." jawab Michael tanpa sadar membayangkan tubuh langsing, wajah cantik cantik dan seksi gadis primadona di sekolahnya.


"Benarkah?"


"Aku sudah merekam perkataan mu dan mengirimnya ke Ara. Mungkin dengan rekaman ini, Ara akan menyerah dengan perasaannya." balas Michelle tanpa rasa bersalah.


"Aku tidak peduli. Karena kenyataannya aku benar-benar tidak menyukainya." jawab Michael dengan cepat. Meskipun terselip sedikit perasaan ragu dihatinya.


"Cih! dasar pria menyebalkan!" gerutu Michelle memutar bola matanya malas.