
Di ruangan bawah tanah
Stevi menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara sejuk yang ada di ruangan itu "Apa aku sedang bermimpi? Aku belum pernah melihat ada ruangan bak istana seperti ini di bawah tanah" batinnya mengamati ruangan megah itu.
"Bukankah itu terdengar seperti suara air mengalir dan burung-burung yang sedang berkicau" batinnya melangkah ke arah sebuah pintu cukup tinggi dan besar. Stevi mendekatkan telinganya ke pintu besar itu untuk memperjelas pendengarannya. "Aku rasa diluar sana masih ada sesuatu yang lebih indah lagi" batinnya menegakkan tubuhnya mengamati ruangan itu lagi. Stevi benar-benar merasa ruangan itu terlihat seperti istana di negeri dongeng.
Stevi berusaha mendorong pintu itu sekuat tenaga, namun usahanya hanya sia-sia “Kenapa pintunya sebesar ini?” kesalnya, mengalihkan pandanganya meneliti ruangan megah itu, hingga tatapannya terpaku dengan sebuah lampu antik diatas nakas.
Stevi mengelus lama lampu itu, hingga matanya terpaku pada sebuah tombol di bawah lampu yang langsung terhubung juga dengan sebuah nakas“Tombol apa ini?” batinnya bertanya-tanya.
Dia merasa orang yang mendesain furniture ruangan ini cukup unik, mungkin orang yang mendesain suka dengan barang-barang antik, elegan dan mewah pikirnya.
Stevi kemudian menekan tombol itu, hingga pintu besar itu terbuka "Astaga ternyata ini tombol untuk membuka pintu itu" gumamnya melangkah kearah pintu besar.
Matanya melotot melihat pemandangan indah di luar sana "What!! Bagaimana mungkin??" batinnya melihat keindahan alam di luar ruangan itu.
Stevi belum pernah sekalipun melihat ada sebuah taman asri di bawah tanah. Taman itu juga di desain dengan interior megah dan mewah. Beberapa pendopo juga terlihat dibangun di sekitar air mancur dan air terjun yang langsung terhubung dengan sungai. Menurut Stevi semua terlihat alami, air mancur patung rubah ekor sembilan juga ikut berdiri di tengah-tengah taman.
"Aku merasa lebih tenang jika tinggal disini" gumam Stevi membaringkan tubuhnya di atas rumput. Dia memejamkan matanya menikmati suasana di taman itu. Rasa sejuk di taman yang terlihat asri itu membuat rasa ngantuk melingkupinya. Perlahan kedua matanya terpejam, dia lupa jika diluar sana masih terjadi kericuhan, yang akan merubah hidupnya.
#
#
#
#
Di Laboratorium Klan King
"Hancurkan mesin itu..!! Ledakan Mansion ini menggunakan bom nuklir!! Aku juga ingin mansion ini hancur dalam sekejap!!" sentak Meyer penuh kebencian. Seketika anak buahnya langsung bergerak menjalankan perintah Meyer selaku ketua mereka. Mereka meletakkan satu bom nuklir di dekat mesin itu itu sembari mengulur waktu hingga mereka menghabisi anggota Klan King yang tersisa. Meyer Lendsky merupakan seorang ketua mafia Amerika. Dia terkenal dengan keserakahan dan kekejamannya. Dia tidak akan pernah puas dengan apa yang dia miliki sekarang.
Matanya beralih menatap Dean "Apa kau tidak takut sedikitpun Dean..." ucapnya datar memandang wajah merah Dean. Dia tahu Dean sedang menahan amarahnya melihat situasi sekarang ini.
"Jangan terlalu lama berpikir Dean... Aku tahu kau sedang mengulur waktu! Namun satu yang harus kau tahu! seluruh anggota Klan King sudah habis di tanganku!!" sambung Meyer tersenyum mengejek
"Hahahaha...." tawa menggema Meyer memenuhi laboratorium itu. Dia puas dengan keberhasilannya kali, ini semua berkat wanitanya. Mengingat-ingat tentang wanitanya "Dimana dia?" batin Meyer bertanya-tanya.
...***Bersambung***...