
Alexa melangkah menuju lemar es yang ada di dapur apartemennya.
"Hah...." gadis itu menghela napas menatap sekilas suasana apartemennya. Ia mengompres dahinya dengan handuk kecil berisi es batu. Gadis itu meringis kecil saat balutan es itu mengenai daerah benjolan itu. Ia mengompres benjolan itu di temani kesunyian malam.
"Aku pasti akan merasa kesepian kalau Sherina dan Stevenson pergi ke kolombia." gumam Alexa pelan.
"Andaikan aku tidak sibuk dengan cita-citaku, aku tidak akan jomblo seperti ini."
"Tapi cita-cita ku lebih penting dan menantang. Hanya orang-orang pilihan yang bisa bergabung di organisasi ini." monolognya berpendapat.
"Padahal aku cantik dan sangat mengemaskan. Bukan hanya itu, aku juga berbakat dan memiliki banyak kelebihan. Pria mana yang akan menolak gadis imut sepertiku." sambungnya berbicara sendirian.
Alexa kemudian berlalu ke kamar mandi membersihkan tubuhnya. Ia merasa cukup risih mencium bau keringat berasal dari tubuhnya. Gadis itu berendam di dalam bathtub lebih dari 1 jam.
#
#
Di sisi lain
Jet pribadi keluarga Douglas yang di tumpangi Steven baru saja mendarat di ibukota negara Spanyol. Pria itu termenung lama setelah 5 tahun lalu meninggalkan kota itu.
"Madrid." monolognya menatap keluar jendela pesawat.
"Tuan kita sudah tiba di bandara internasional Madrid." ujar seorang pilot kepada Steven.
"Baiklah...."sahutnya berdiri dari duduknya. Pria menetralkan degup jantungnya. Ia merasa ada perasaan aneh yang bergemuruh di dalam dadanya. Untuk kedua kalinya Ia menginjakkan kakinya di ibukota Negera itu lagi.
Steven lalu melangkah keluar dari pesawat. Beberapa pengawal dengan sigap membukakan pintu mobil untuk Steven. Pria itu langsung masuk ke dalam mobil pribadinya.
"Kita akan pergi kemana tuan?" tanya asisten kepercayaan Steven. Pria itu juga sudah duduk di samping seorang pengawal yang bertugas mengemudikan mobil yang mereka tumpangi.
"Kita langsung pergi menuju hotel. Besok pagi aku akan pergi ke rumah sakit menemui wanita itu." sahut Steven menatap keluar jendela. Sepanjang perjalanan pria itu hanya bergelut dengan pikirannya sendiri.
"Aku mohon...."
"Lepaskan aku!!" teriak seorang gadis muda memiliki tubuh langsing berusaha melepaskan kungkungan tubuh seorang pria berbadan tinggi dan kekar di atasnya.
Bukanya melepaskan kungkungannya, pria itu malah mencumbui leher jenjang gadis itu penuh napsu.
"Aku akan merelakan sesuatu yang berharga ini untuk mu." ujar pria itu langsung melakukan penyatuan.
"Aku harus mendapatkan mu dan membuatnya merasakan bagaimana rasanya di khianat." monolognya dalam hati sembari mempercepat gerakannya.
Hiks hiks hiks
Suara tangisan gadis itu terdengar jelas di pendengaran seorang pria muda yang sedang berdiri di depan pintu kamar itu.
"Jangan salahkan aku yang membawamu masuk ke dalam rencana balas dendam ku. Salahkan dirimu yang memiliki hubungan dengan keturunan penghianat itu." gumam pria itu dalam hati. Ia meninggalkan apartemennya bergegas pergi ke kampus.
Perkataan asisten Steven membuyarkan lamunannya.
"Tuan kita sudah tiba di hotel." ucap asistennya melirik sekilas wajah Steven.
"Bawa koperku menuju kamar yang sudah kalian pesan." sahut Steven keluar dari mobil. Pria itu melangkah masuk ke dalam hotel.
#
#
Keesokan harinya pukul 4 subuh di apartemen Alexa.
Drettt drettt drettt drettt
Suara getaran ponselnya terdengar nyaring di pendengarannya. Gadis itu meraba-raba nakas di sampingnya tanpa membuka matanya.
"Hallo" jawab Alexa dengan suara parau. Gadis itu menyeritkan keningnya mendengar perkataan Mr Edward dari seberang sana.
[Mr Park sudah tewas dibunuh seseorang yang tidak dikenal.] ujar Mr Edward dengan wajah serius.
"Apa!!" teriak Alexa membulatkan matanya. Gadis itu langsung terbangun mendengar ucapan atasannya.
[Dari data CCTV yang tim lain dapatkan. Tadi pukul 2 pagi ada seorang wanita yang bertamu masuk ke ruangan rawat inap Mr Park. Sepertinya wanita itu yang membunuh Mr Park.] terang Mr Edward menatap dokter pria yang sedang memeriksa kematian pasiennya.
[Sebaiknya kau kesini sekarang juga.] tandas Mr Edward.
Mr Edward sangatlah mengangumi kejelian dan kecerdasan Alexa dalam bekerja. Pria itu sudah beberapa kali menyerahkan beberapa kasus untuk Alexa tangani.
"Baiklah Mr Edward.... 30 menit lagi saya akan tiba disana." ujar Alexa mematikan sambungan panggilan mereka. Gadis itu termenung lama memikirkan siapa kira-kira yang membunuh Mr Edward.
"Apa mungkin...." lirihnya mengingat seseorang.
"Tapi bagaimana bisa...." sambungnya. Alexa masih bergelut dengan pikirannya beberapa saat sebelum melangkah menuju kamar mandi.
......***Bersambung***......