
"Livia terlalu lemah menjadi pendamping pemimpin klan king." sambung Greyson berdiri.
Telapak tangan Steven terkepal kuat mendengar perkataan Daddynya.
"Dad, Livia--" ucapan Steven harus terpotong karena ucapan Daddynya. Padahal pria itu ingin membela istrinya.
"Rain, panggilan dokter hewan memeriksa keadaan pinky. Aku tidak mau tubuhnya kesakitan karena tendangan putraku." timpal Greyson menatap hacker kepercayaannya.
"Baik, Tuan." ucap Rain berlalu dari sana.
"Livia, kemarilah." ujar Greyson dingin menatap kearah menantunya.
"Kau punya tiga pilihan.... pilihan pertama, kau bisa mendengarkan putra ku, pilihan kedua, kau mau bertemu putramu atau pilihan ketiga, kau menuruti perkataan ku." sambung Greyson.
"Kalau kau melangkah kemari, kau meminta tiga hadiah dariku. Kau tidak perlu takut, karena pinky tidak akan menyakitimu." timpal Greyson.
"Dad, come on.... jangan melakukan itu. Livia takut dengan hewan itu. Jangan samakan mafia dengan manusia lemah seperti Istriku." ucap Steven berusaha menghentikan rencana Daddynya.
"Apa kau tidak mau mendengarkan ku Livia?" tanya Greyson menatap tajam mata menantunya.
Livia tidak bisa menolak ataupun mengiyakan pertanyaan Greyson. Ia merasa mulut dan kakinya terkunci. Ia tidak tahu harus mendengarkan perkataan mertuanya atau suaminya. Namun air mata sudah membanjiri wajahnya. Iya sangat takut sampai tubuhnya gemetaran. Livia tidak ada pilihan lain, ia tidak mau kehilangan pria yang dicintainya dan juga putranya. Tiga hadiah itu sangat berarti untuk Livia. Ia akan menukar tiga hadiah itu dengan putra dan suaminya.
Livia melangkah mendekati mertuanya meskipun tubuh kurus itu gemetaran.
"Livia, berhenti!!" bentak Steven.
"Apa kau mau mencari mati mendekati hewan buas itu!" sambung Steven tidak bisa meredam emosinya.
Alih-alih mendengarkan perkataan suaminya, Livia malah melanjutkan langkahnya menuruti ucapan mertuanya. Tapi.... tarikan tangan Steven mengehentikan langkahnya.
"Apa kau gila! tidak bisakah kau mendengarkan ku!" bentak Steven mencengkram pergelangan tangan istrinya.
"Iya, kau benar! aku ingin mati! rasanya aku ingin mati sekarang juga. Itu semua karena perbuatanmu! aku membencimu! kau hanya mementingkan perasaanmu!" teriak Livia menghempaskan tangan suaminya. Ia kesal mendengar kemarahan Steven.
Mereka tidak sadar kalau seseorang tersenyum menyeringai mendengar pertengkaran mereka. Itu adalah rencananya, membuat mereka bertengkar hebat.
"Apa yang kau katakan, Livia. Bukankah aku sudah minta maaf! mengapa kau malah mengungkit-ungkit masa lalu?" hardik Steven.
"Kau menyembunyikan keberadaan putra kita, dan kau juga tidak pernah merawatnya. Apa kau pikir aku tidak tahu semua itu? Ha!" timpal Steven terpancing emosi mendengar perkataan sang istri.
"Mengapa kau terus-menerus memarahi ku, Steven...." ujar Livia dengan suara bergetar.
"Aku-- aku hanya ingin membuktikan kepada ayahmu, kalau aku bukanlah wanita yang lemah. Aku hanya ingin membuktikan itu." sambungnya menangis tersedu-sedu.
"Aku tidak mau kehilanganmu, dan juga.... putra kita sepertinya sudah ada di tangan ayahmu.... tidak bisakah kau memahami ku sekali ini saja. Mengapa aku harus menuruti semua kemauanmu. Bukankah kau terlihat seperti suami egois. Aku hanya ingin membuktikan kepada ayahmu, kalau aku merupakan wanita yang tepat menjadi pendamping hidupmu." timpal Livia.
"Lagi-lagi kau melukaiku Steven! dua tamparan tidak berarti apa-apa untukku. Tapi-tapi kehilanganmu dan putra kita.... aku tidak bisa!" ujar Livia lagi.
"Tapi mendekati hewan itu bukan pilihan yang baik Livia. Apa kau tidak melihat luka menganga di lenganku?" ucap Steven memelankan suaranya.
Livia tetap kekeuh dengan keputusannya, ia lanjutkan langkahnya mendekati hewan itu. Ia tidak mau menunggu berlama-lama. Livia sudah pasrah kalaupun semisalnya hewan itu mencabik-cabik tubuhnya. Yang terpenting Livia sudah membuktikan bahwa ia bukanlah wanita yang lemah.
"Livia...." lirih Steven tak bisa berkutik. Ia tidak mungkin melawan Daddynya.
Sementara Greyson tersenyum puas melihat keberanian menantunya. Selangkah lagi Livia akan tiba di samping cheetah kesayangannya.
Dan...
...***Bersambung***...