
Meskipun Gion kaya, tapi pemuda itu tentu saja terkejut dengan nominal tagihan rumah sakit adik gadis itu.
"Ya, adik saya membutuhkan biaya 1 Miliar mulai dari biaya operasi hingga sembuh total." cicit gadis itu takut-takut. Gadis itu mengira Gion tidak bisa membantunya.
Gadis itu tiba-tiba berlutut di depan Gion saat pintu lift terbuka. Para pengunjung rumah sakit yang melihat situasi itu terkejut. Mereka melihat gadis itu berlutut dengan mata sembab.
Gion merasa tidak nyaman berada dalam keadaan seperti itu. Pemuda itu langsung menuntun gadis itu berdiri. "Jangan pernah melakukan hal seperti ini di depan umum." bisik Gion tanpa sadar mencengkram bahu gadis itu.
"Aku akan melunasi tagihan rumah sakit adikmu. Tapi, itu semua tidak gratis. Aku akan menagihnya suatu saat nanti." lanjut Gion menarik tangan gadis itu menuju bagian administrasi rumah sakit.
Benar saja. Gion melunasi semua tagihan rumah sakit adik gadis itu hingga sembuh total.
Saat Gion akan melangkah meninggalkan tempat itu. Pertanyaan gadis itu menghentikan langkah Gion.
"Tuan, nama Anda siapa?"
"Kau bisa memanggilku Gion." jawab Gion dengan wajah datar.
"Arabella. Nama saya Arabella." tukas gadis itu dengan cepat.
"Saya tidak akan melupakan kebaikan Anda." lanjut Arabella tersenyum tulus.
"Hiduplah dengan baik. Karena hidup ini keras." celetuk Gion sebelum meninggalkan tempat itu. Entah kenapa baru kali ini pemuda itu mau banyak ngobrol dengan orang asing.
"Gion." gumam Arabella tersenyum kecil.
Sementara Gion melanjutkan urusannya menemui George.
Ceklek
"Bisakah kau membuka pintu ruangan ku dengan sedikit santuy." ujar George dengan wajah malas.
"Cih! Jangan pernah dekati saudariku lagi. Meskipun kita beda Alam. Tapi, kau benar-benar tidak pantas menjadi pendamping hidup saudariku."ujar Gion dengan wajah marah.
"Karena hanya cinta laki-laki yang menjadi cinta sejatinya yang bisa membangunkannya dari tidur panjangnya." lanjut Gion dalam hati.
"Dari beberapa tahun yang lalu aku selalu bertanya-tanya. Kenapa sedari awal kita bertemu, kau sama tidak pernah menyukaiku. Apa kau memiliki dendam kepadaku?" tanya George tiba-tiba.
***Flashback On***
George merupakan anak yang terlahir dengan kemampuan istimewa. Sejak kecil George bisa melihat peristiwa yang akan terjadi di masa depan. Bukan hanya itu, George juga bisa melihat makhluk halus tak kasat mata.
Suatu hari kedua orangtuanya membawanya berkunjung ke mansion keluarga Douglas. Tanpa sengaja George bertemu dengan arwah Xaviera. George terkagum-kagum melihat kecantikan gadis imut itu. Karena untuk pertama kalinya, hanya Xaviera yang bisa membuat George terkagum-kagum seperti itu. Xaviera tumbuh menjadi gadis yang sangat cantik. Kecantikan Xaviera merupakan hasil perpaduan ketampanan Stevenson dan kecantikan Sherina. Gadis itu juga memiliki bola mata sebiru laut, diantara lautan samudera Pasifik.
Xavier baru saja keluar dari sebuah ruangan kosong yang di sediakan untuknya. Itu semua Greyson lakukan atas permintaan kedua cucunya. Albiano dan Gionino meminta kamar mereka disatukan saja. Dan kamar yang satunya lagi didekorasi ulang dengan nuansa pink, khusus untuk anak perempuan.
Hanya Stevi yang mengetahui keberadaan putri dari putranya. Sementara ketiga buyut mereka sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Buyut yang mereka maksud adalah Ibu Stevi dan kedua orang tua Stevenson.
Kesehatan Stevi akhir-akhir ini kian semakin memburuk, begitu juga dengan kondisi kesehatan Greyson. Kondisi pria setengah baya itu juga ikut memburuk melihat kondisi Istrinya. Ia ingin meninggal dan dikubur bersama istrinya. Ia tidak akan sanggup ditinggalkan sendiri. Apa lagi putra-putri mereka sudah memiliki keluarga masing-masing.
George datang ke kediaman George karena pekerjaan ayahnya. Ayahnya merupakan seorang dokter spesialis bagian dalam. Pria itu merupakan rekan kerja Haykal, putra dari Tom Cruise Matthew penghianat klan king dimasa lalu.
Xaviera melengos begitu saja melewati George. Ia mengira jika George tidak bisa melihatnya, dan mengira George berdecak kagum menatap mansion klan king. George tertegun melihat Xavier melewatinya begitu saja. Ia langsung membalikkan tubuhnya dan mengikuti langkah Xavier.
"Hei! apa kau tidak melihatku? apa kau mengira aku seorang hantu?" tanya George dengan perasaan kesal. George mengira Xavier merupakan manusia sungguhan.
Xaviera tertegun mendengar pertanyaan George. Ia benar-benar mengira George tidak melihatnya. "Apa pria kecil ini sedang menyindirku? apa dia pikir aku seorang manusia hingga berkata seperti itu." gumam Xaviera sebelum membalikkan tubuhnya.