IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Masa lalu Sherina dan Stevenson 3



Zona Panas 21++


Warning


...****************...


"Akhirnya kau menjadi milikku." seru Sherin dalam hati menatap wajah tampan Stevenson dari samping. Mereka baru saja menyelesaikan pemberkatan sederhana di salah satu tempat ibadah di Inggris.


Kedua sepasang suami istri itu melangkah menuju Apertemen yang akan mereka tinggali. Mereka melangkah sembari bergandengan tangan. Raut wajah bahagia terlihat jelas di kedua wajah mereka.


Cklek


"Apa kita juga akan honeymoon seperti pengantin baru pada umumnya?" tanya Sherin memeluk tubuh tegap Stevenson.


"Apa kamu mau melakukannya?" tanya Stevenson menatap intens wajah bahagia istrinya.


"Tentu saja. Aku ingin secepatnya memiliki bayi mungil yang lucu dan menggemaskan." ujar Sherin tersenyum cerah. Gadis itu sudah membayangkan bagaimana rasanya merawat bayi lucu yang lahir dari rahimnya.


Stevenson tersenyum tipis melihat keantusiasan Istrinya. Mereka sekarang masih umur 18 menuju 19 tahun. Itu masih terlalu muda bagi Stevenson memiliki seorang bayi.


"Masalah memiliki bayi.... Sebaiknya kita menundanya terlebih dahulu. Aku takut memiliki bayi akan menganggu studi dan pekerjaan mu." ujar Stevenson mengelus puncuk kepala istrinya.


"Aku sangat ingin tahu bagaimana rasanya menjadi seorang ibu di usia muda. Bolehkan?" bujuk Sherin mengecup berulangkali pipi suaminya. Kecupan dari istrinya membuat tubuh Stevenson panas dingin.


"Baiklah...." pasrah Stevenson menyetujui bujukan istrinya.


#


#


Pria itu membungkukkan sedikit tubuhnya lalu melingkarkan tangan isterinya di lehernya. Stevenson lalu mengangkat tubuh istrinya tanpa melepas ciuman mereka. Pria itu membawa tubuh istrinya menuju kamar miliknya. Setibanya di kamar Stevenson meletakkan tubuh istrinya di atas kasur.


"Ney sepertinya di bawah sana ada benda besar yang bergerak-gerak." ujar Sherin menatap Stevenson polos.


Stevenson tertawa gemas mendengar perkataan polos isterinya.


"Kamu akan merasakan bagaimana rasanya bertempur dengan terong jumbo milik ku sayang." sahut Stevenson mengungkung tubuh istrinya.


Sherin tersenyum malu mendengar perkataan terakhir suaminya. Tentu saja hatinya berbunga-bunga mendengar panggilan sayang dari pria yang sudah resmi jadi suaminya.


Stevenson merasa gemas melihat wajah malu-malu istrinya. Pria itu menenggelamkan wajahnya di leher jenjang istrinya. Ia lalu meninggalkan kecupan-kecupan singkat di kulit putih istrinya.


Hembusan napas hangat Stevenson di kulit Sherin, tentu saja membuat tubuhnya menjadi panas dingin.


Stevenson melepas gaun pemberkatan yang dikenakan istrinya. Dengan rakus pria itu menikmati dua buah kelapa muda milik istrinya. Pria itu juga meninggalkan beberapa tanda cinta di kulit mulus istrinya. Suara pertempuran sepasang suami-istri itu memenuhi kamar mewah mereka. Mereka tidak peduli jika hari masih sore untuk melakukannya.


"Apa kamu sudah siap sayang...?" tanya Stevenson ngos-ngosan setelah 30 menit melakukan pemanasan. Peluh keringat membanjiri tubuh mereka.


Sherin menganggukkan kepalanya. Gadis itu tidak bisa lagi membendung gairahnya. Ia ingin melakukan lebih bersama pria yang sudah sah menjadi suaminya. Apa lagi melihat tubuh kekar dan sixpack suaminya membuat tubuhnya panas dingin.


Stevenson menanggalkan kain yang membungkus terong jumbonya. Ucapan Sherin menghentikan gerakan Stevenson, saat pria itu ingin memposisikan terong jumbonya lepas landas.


"Ney.... Mengapa milik mu sebesar itu?" tanya Sherin susah payah menelan ludahnya.


"Bukankah para wanita menyukai ukuran sebesar ini?" tanya Stevenson menatap intens wajah merona istrinya.


"Apa itu tidak akan menyakiti milikku?" tanya Sherin menatap adik kecil suaminya.


"Sakitnya cuma sebentar sayang. Aku yakin kamu akan minta tambah jika sudah merasakannya." ujar Stevenson tersenyum mesum.


Stevenson lalu memposisikan terong jumbo miliknya di gowa sempit istrinya.


"Ney.... Ini sakit...." lirih Sherin berkaca-kaca. Ia mengigit bibir bawahnya menahan sakit di bawah sana.


Stevenson membungkam bibir istrinya dengan bibirnya. Ciuman Stevenson membangkitkan gairah Sherin untuk melakukan lebih. Tak beberapa lama rasa sakitnya tenggelam begitu saja.


Saat Stevenson melihat istrinya sudah mulai tenang dan adiknya sudah beradaptasi dibawah sana. Dengan kuat pria itu mendorong terong jumbonya agar masuk lebih dalam lagi.


"Nghe...." terik Sherin saat bibirnya dibungkam dengan bibir suaminya.


Stevenson merasa sesuatu yang hangat mengalir membasahi terong jumbonya.


"Terima kasih sayang...." ujar pria itu mengecup kedua mata Sherin. Air mata mengalir deras dari kedua mata istrinya.


"Terima kasih sudah menjaganya untukku." sambung Stevenson mengecup lama dahi Sherin. Darah Sherin berdesir mendengar ucapan suaminya. Gadis itu menatap wajah Stevenson penuh cinta.


Stevenson lalu memacu penyatuannya hingga Ia menyemburkan bibit unggulnya berulang kali di rahim istrinya. Suara merdu istrinya membuat terong jumbonya bangun lagi. Lagi-lagi pria itu mempercepat tempo naik-turun miliknya tanpa menukar posisi mereka. Sejam, dua jam dan tiga jam kemudahan pria itu menyemburkan benihnya lagi.


"Huh... Terima kasih sayang" ujar Stevenson ngos-ngosan. Pria itu tersenyum cerah menatap tubuh berkeringat istrinya.


Stevenson lalu melepaskan penyatuan mereka, pria itu tersenyum puas menatap bercak merah di atas kasurnya. Ia lalu menyelimuti tubuh berkeringat istrinya.


......***Bersambung***......


...Jadi sudah terjawab kan mengapa Sherin tidak tingting lagi. 😁 Author Udah Crazy Up 😁 Dukung terus Karya Author ❀️ tinggalkan jejak kalian di bawah. Besok Author akan Crazy Up lagi. Tinggalkan komen "Tomorrow Crazy Up" sebanyak-banyaknya di bawah ini πŸ‘πŸ˜˜...