IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Part 15



"Bagaimana kalau kau memberikannya waktu selama beberapa tahun untuk meluluhkan hati mu. Aku tahu hatimu tidak akan pernah luluh kepada Rachel. Tapi berikan Ia kesempatan untuk mengekpresikan perasaannya." saran Richard menetap Stevenson penuh harapan. Pria itu tahu rasa cinta Stevenson sangat besar untuk istrinya. Apa lagi sejak pria itu tahu bahwa istrinya sedang mengandung. Rasa cinta pria itu semakin hari semakin besar.


"Iya.... Papa setuju dengan saran temanmu Stevenson. Kau hanya menjanjikan sesuatu tanpa harus menepatinya. Janji tidak harus di tepati kalau janji itu akan membawa malapetaka untuk hubungan mu dan putriku Sherin." ujar Meyer tiba-tiba berdiri di samping Stevenson.


"Maksudnya?" tanya Stevenson bingung.


"Kau cukup menuruti permintaannya tanpa berperan di dalamnya." ujar Meyer kepada Stevenson.


"Apa kau menyukai putriku?" tanya Meyer kepada Richard.


Wajah pria itu merah merona mendengar pertanyaan ayah dari gadis yang membuatnya tertarik.


"Diam mu berarti iya." sahut Meyer.


"Dia yang akan menjalankan janji itu. Hanya saja kau ikut membantunya memuluskan semuanya."


"Dan untukmu.... Ketika putriku sudah sadar dengan tingkah buruknya. Maka jagalah Ia seperti seorang pria menjaga Ibunya. Limpahkan kasih sayang untuknya." pesan Meyer.


Tak beberapa lama dokter keluar dari ruangan UGD.


Cklekk


"Bagaimana keadaan putri saya dokter?" tanya Meyer.


"Syukurlah.... Putri Anda sudah melewati masa kritisnya. Perawat dan petugas akan memindahkan pasien ke ruangan rawat inap." ujar dokter itu berlalu dari sana.


Meyer merasa lega mendengar perkataan dokter itu. Ia lalu menatap menantunya. "Pergilah temui Sherin untuk terakhir kalinya." ujar Meyer.


"Baiklah." ujar Stevenson berlaku dari sana.


#


#


Di ruangan UGD sebelah Rachel.


Stevenson membuka pelan ruangan yang dihuni istrinya. Ia melangkah mendekati ranjang rawat Sherin.


Stevenson lalu mendudukkan bokongnya di kursi samping ranjang istrinya. Pria itu mengenggam lama tangan hangat istrinya. Ia mengecup tangan mulus itu berulang-ulang untuk menyalurkan rasa cinta dan sayangnya.


"Sayang...."


"Maafkan aku...."


"Aku harus mengambil keputusan ini untuk menjaga kalian dari ambisi saudara kandung yang belum pernah kamu temui.


"Tapi.... Satu yang harus kamu tahu...." ujar Stevenson menghentikan ucapannya.


"Disini...." sambung pria itu mengarahkan telapak tangan ke arah dadanya.


"Disini hanya ada gadis ceroboh. Gadis yang selalu terlihat mengemaskan di mata pangeran kutub." ucapnya mengecup tangan Istrinya.


"Untuk malam ini. Kita tidur bersama okey. Aku ingin malam ini tidur bersama kamu dan calon bayi kita." ujar Stevenson. Pria itu mengeser sedikit tubuh istrinya ke pinggir ranjang rawat inap. Ia membaringkan tubuhnya dengan menyamping di samping istrinya agar tubuh istrinya tidak tertimpa tubuhnya.


Stevenson melingkarkan tangannya di lengan istrinya. Pria itu belum berani menyentuh lingkaran perut istrinya.


Sementara Dena dan Meyer terharu dengan sikap perhatian menantunya. Mereka membiarkan sepasang suami istri itu tidur berduaan. Mereka lalu melangkah menuju ruangan Rachel. Dena ingin melihat keadaan anak tirinya itu. Walaupun Rachel hanyalah anak tirinya.


#


#


Subuh-subuh sekali Stevenson keluar dari ruangan istrinya. Pria itu tidak mau saat istrinya sadar nanti Ia melihat keberadaannya.


"Bagaimana? apa kau yakin dengan rencana kita ini?" tanya Meyer menatap menantunya.


"Aku yakin Pa. Ini demi kebaikan istri dan bayiku. Aku titip mereka. Aku akan mengirim seseorang untuk menjaganya dari jauh." ujar Stevenson menahan rasa nyeri di dadanya.


"Papa melakukan ini untuk menyadarkan Rachel agar Ia tidak bertindak berlebihan. Dan bertindak di luar batas. Papa tahu.... rencana ini terkesan memberatkan kamu dan Sherin. Tapi Papa juga tidak ingin Sherin dan Rachel memperebutkan pria yang sama." ujar Meyer.


"Papa akan menjaga Sherin dan calon bayi kalian." ujar Meyer menepuk-nepuk pelan bahu menantunya.


"Hanya lima tahun. Sampai bayi kalian lahir, bisa berbicara dan mengerti dengan beberapa hal. Belajarlah menjadi pria yang lebih dewasa lagi selama lima tahun ini. Kau juga bisa menyelesaikan kuliahmu sampai S2. Papa akan mengirim foto-foto tumbuh kembang mereka ke nomormu setiap akhir bulan." ujar Meyer.


Sementara Dena menatap tidak percaya dengan ucapan suaminya.


"Apa yang kamu ucapkan? apa kamu akan membiarkan putri kita melahirkan tanpa seorang suami? dan juga putri kita harus merawat cucu kita tanpa seorang ayah?" tanya Dena beruntun menata tajam suaminya.


"Hanya lima tahun." ujar Meyer penuh harapan.


"Sherina benar-benar akan kecewa dengan tindakanmu ini." ujar Dena masuk ke dalam kamar rawat putrinya.


"Baiklah jangan lupa besok datang ke bandara." ujar Meyer menepuk pelan pundak menantunya.


Stevenson menganggukkan kepala menyahuti ucapan mertuanya. Pria itu melangkah menuju apertemen yang selama ini Ia dan istrinya tinggali.


[Jaga Rachel sampai sembuh.]


Stevenson mengirim sebuah pesan kepada Richard agar pria itu menjaga adik iparnya.


#


#


Di Apertemen


Stevenson duduk termenung menatap kosong ke layar TV. Pria itu merasa suasana di apartemennya sudah berubah menjadi hampa dan sunyi. Biasanya Ia akan mendengar suara rengekan dan suara manja dari istrinya. Ia termenung berjam-jam di ruangan itu.


Langit semakin lama semakin terang namun Stevenson tidak bergeming sama sekali. Ia tetap duduk di tempatnya.


#


#


Stevenson melangkahkan menuju ruangan kerjanya. Pria itu lalu membuka sebuah ruangan yang belum pernah Ia kunjungi lagi setelah menikah dengan Sherina. Di sepanjang lorong berjejer rapi foto-foto masa kecilnya, Sherin dan Alexa. Namun foto Sherin terlihat lebih banyak terpampang di tiap dinding ruangan itu.


Ia mendudukkan bokongnya di atas ruangan santai dan meneguk sebotol wine sampai habis.


"Hah...." Ia menghela napas memikirkan bagaimana hidupnya lima tahun ke depan.


"Andaikan aku tahu semua akan menjadi seperti ini. Aku akan membawanya jauh dari tempat ini." lirihnya meneguk sebotol wine lagi.


"Semua karena si brengsek itu!!" teriaknya melempar botol wine.


"Aku akan membuatmu tersiksa sendiri dengan rasa cintamu." ujar Stevenson bergumam lirih sebelum tepar di atas sofa. Pria itu tidur sampai hari sudah gelap.


Sementara di rumah sakit Sherin sudah sadar dari operasinya. Ia sedari tadi menunggu kedatangan suaminya. Namun Stevenson tak kunjung datang karena terlalu banyak mengonsumsi wine.


#


#


Drettt drettt drettt drettt


Dering ponsel di saku celana Stevenson mengusik pendengaran tajamnya. Ia menyeritkan keningnya melihat ruangan itu sudah gelap.


"Apa sudah malam?" lirihnya memijit pelipisnya. Pria itu lalu merogoh kantong celananya mengambil ponselnya.


Ia melihat nomor orang yang tidak dikenal menghubunginya.


"Hallo" sahut Stevenson mengangkat panggilannya.


[Tuan muda.... Tuan Meyer menyuruh Anda datang ke bandara.] ucap anak buah Meyer dari seberang sana.


"Baiklah aku akan segera kesana." ujar Stevenson mengakhiri panggilannya. Pria itu bergegas melangkah menuju kamarnya. Ia mandi dan menggosok gigi agar bau wine tidak tercium dari pernapasannya.


Setibanya di bandara pria itu hanya menemui papa mertuanya. Dan berbincang beberapa hal.


"Cepat selesaikan kuliahmu dan jemput mereka ke kolombia." pesan Meyer sebelum naik ke jet pribadi miliknya.


****Flashback off***


......***Bersambung***......


...Author akan menyelesaikan cerita Stevenson terlebih dahulu setelah itu cerita Alexa dan Steven. Karena untuk Alexa dan Steven cerita cinta mereka saling berkaitan....