
Aku melewati mu begitu saja karena aku tahu kau terpesona dengan wajah cantikku." tebak Xaviera dengan angkuh.
"Cih! dasar angkuh!" gerutu George berdecak kesal.
"Angkuh! Apa kau sedang mengatai ku?" tanya Xaviera memperhatikan penampilan George.
"Remaja ini ternyata memiliki raut wajah yang cukup tampan. Tapi kenapa perutnya buncit seperti orang yang sedang hamil." gumam Xaviera tapi masih bisa didengar oleh George.
Awalnya George senang mendengar pujian Xaviera. Namun, kalimat terakhir gadis itu membuat George kesal.
"Apa kau pernah mendengar seorang pria hamil?"tanya George menatap tajam Xaviera.
"Tadinya aku terpesona dengan kecantikan mu. Tapi melihat sikapmu yang sombong membuatku membatalkannya." tukas George meninggalkan Xaviera.
"Eh, dasar bocah!" ketus Xaviera melangkah menuju kamar Stevi. Ia ingin melihat kondisi Oma dan Opanya.
Setibanya Xaviera di kamar Greyson dan Stevi. Ia melihat semua keluarganya menangis sesenggukan.
"Kenapa suasana di kamar ini terasa menyedihkan." gumam Xaviera melangkah mendekat Gion.
"Abang, kenapa kalian menangis?" tanya Xaviera berbisik pelan di dekat telinga Gion.
"Xaviera.... sepertinya Oma dan Opa sudah tidak sanggup lagi menahan rasa sakit mereka." cicit Gion dengan suara serak.
"Apa mereka akan hidup di alam yang sama dengan Xaviera?" tanya Xaviera antusias. Gadis itu selama ini merasa kesepian. Jadi Xaviera tidak tahu harus senang atau sedih mendengar kabar buruk itu.
"Apa kau mengharapkan Opa dan Oma segera menyusul mu!" bisik Gion meradang.
"Abang... aku--"
"Sudahlah" sela Gion menggenggam tangan adiknya.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan." lanjutnya dengan ekspresi tegar.
Pada akhirnya Greyson dan Stevi menghembus napas terakhir mereka. Mereka dikebumikan di tempat yang sama. Yaitu di pemakaman khusus di sekitar mansion klan king.
"Semua orang yang hidup di dunia, pada akhirnya akan kembali lagi ke sisiNya" gumam Albiano menatap makam Stevi dan Greyson.
"Ya, kau benar. Kita hanya bisa mengikhlaskan agar mereka tenang di surga." ujar Gion menyetujui perkataan Albiano.
Sementara Alexa, Steven, Stevenson dan Grace masih betah duduk di makam kedua orangtuanya. Apa lagi Opa dan Oma mereka juga di makamkan disana.
"Cinta kalian begitu kuat. Kalian juga saling mencintai dan sehidup semati. Semoga kami juga kelak seperti kalian." lanjut Alexa menitihkan air mata. Paskal mengelus punggung kurus istrinya. Ia tahu Alexa benar-benar merasa kehilangan.
Sementara Steven dan Stevenson tidak mampu berkata-kata. Meskipun sebenarnya jauh di dalam hati mereka. Mereka juga benar-benar merasa kehilangan.
"Sepertinya sebentar lagi akan turun hujan. Lebih baik kita kembali ke mansion." ujar Livia menghampiri suaminya.
"Baiklah, ayo kembali ke mansion. Sepertinya putra-putri kita juga sudah berkumpul disana." seru Steven melangkah menuju mansion utama klan king bersama Livia.
"Sayang, kamu masih punya aku dan putra putri kita. Perjalanan kita masih panjang. Ikhlaskan kepergian Mommy dan Daddy." ujar Sherina menggenggam tangan kanan Stevenson.
Stevenson menganggukkan kepalanya mendengar nasehat istrinya.
"Bawa istri kalian kembali ke mansion." pinta Stevenson menatap kedua adik iparnya.
Paskal dan Albara menuruti perkataan Stevenson.
Mereka semua kembali ke mansion klan king, kecuali Stevenson.
Sekilas Stevenson mengingat-ingat kembali obrolan terakhirnya bersama Mommy dan Daddy-nya.
"Mommy ingin berbicara dengan Stevenson. Bolehkah kalian keluar sebentar?" tukas Stevi penuh harapan.
Semua orang yang ada disana, satu persatu mulai keluar dari ruangan itu. Setelah semua orang keluar dari ruangan itu, Stevi mulai berbicara setelah diyakinkan oleh Greyson.
"Bicaralah." ujar Greyson menggenggam tangan istrinya.
"Apa kamu percaya dengan kehidupan kedua. Atau kamu percaya kalau orang mati bisa hidup kembali."" tanya Stevi menatap putra keduanya.
"Aku hanya pernah mendengarnya di film-film, Mom." canda Stevenson tidak mengerti arah pembicaraan Ibunya.
"Apa kamu percaya kalau putrimu masih hidup?" ulang Stevi menatap langit-langit kamarnya.
Stevenson tentu saja terkejut mendengar perkataan Stevi.
"Apa maksud Mommy?"
"Ternyata putrimu memiliki nasib yang sangat baik. Aku yakin takdir akan mempertemukan kalian. Putrimu berada di--"