
Jordan tiba-tiba merasa bersalah melihat wajah sedih Steven. "Aku senang melihat kau bahagia. Aku berdoa keluarga kalian akan selalu bahagia. Dan aku juga berdoa semoga kalian segera diberikan momongan." ucap Jordan tersenyum tipis menatap Livia dan Steven bergantian.
"Hey boy. Siapa nama kalian?" tanya Jordan menatap kearah Albiano dan Gionino bergantian. Ia tidak ingin Steven berlarut-larut dengan kesedihannya.
"Albiano.... Gionino...."jawab mereka bersamaan.
"Wow...." Jordan berdecak kagum mendengar nama mereka.
"Bukan hanya nama Daddy kalian yang hampir sama. Nama kalian juga ternyata memiliki kemiripan." sambung Jordan tersenyum tipis.
"Nanti malam kalian harus bermain dengan Uncle! agar adik kalian bisa segara launching." bujuk Jordan tersenyum kecil.
"Itu tidak akan terjadi Jor. Jika Steven pria sejati, dia tidak akan melupakan hukumannya." ujar Greyson tiba-tiba menghampiri mereka. Greyson tidak datang sendiri. Pria setengah baya itu melangkah diikuti oleh keluarga besar mereka.
"Benarkah? aku jadi penasaran hukuman seperti apa yang Uncle berikan? apa hukumannya sama dengan hukuman yang diterima Daddy beberapa puluh tahun lalu?" celetuk Jordan tanpa sadar. Ia masih ingat jelas bagaimana sakitnya dan terlukanya hatinya hidup tanpa kasih sayang kedua orangtuanya.
Hingga membuat suasana disekitar mereka tiba-tiba berubah menjadi hening. Mereka yang ada disana merasa mulut mereka terkunci. Dan tidak tahu harus menjawab apa.
"Ah.... maaf.... Jordan terlalu penasaran hingga terbawa suasana." timpal Jordan berlalu dari sana.
Gabi tidak bisa membendung air matanya. Ia tahu selama bertahun-tahun luka di hati putranya masih terbuka lebar. Apa lagi selama ini Jordan lebih betah tinggal bersama Opa dan Oma-nya ketimbang bersama kedua orangtuanya.
"Sudahlah sayang.... bagaimana pun itu hanya masa lalu. Sekarang waktunya kita melihat ke depan dan melangkah ke depan." ucap Jodi memenangkan perasaan istrinya. Hubungan mereka dengan Jordan memang sedikit merenggang setelah Gabi menentang keinginan Jordan menikah dengan Vania. Gabi tidak setuju jika Jordan menikah dengan Vania karena satu alasan. Vania menderita gangguan identitas disosiatif (DID). Mereka tidak mungkin bisa bersatu karena memiliki masalah yang sama.
"Kalian hiraukan saja ucapan Jordan." ujar Jodi menatap ayah mertuanya dan ibu mertuanya. Mereka tidak ingin perkataan Jordan mempengaruhi kesehatan mereka.
"Oh iya.... selamat untuk pernikahan kalian, Nak. Jaga keluargamu dan limpahkan banyak kasih sayang kepada mereka. Uncle menyediakan tiket liburan dan honeymoon untuk kalian." sambung Jodi mencairkan suasana disana. Ia menyerahkan bingkisan berisi tiket liburan dan honeymoon untuk Steven dan Livia.
"Terima kasih, Uncle." ucap Steven dan Livia bersama.
"Hey, Boy. Ternyata kalian sudah besar ya.... datanglah liburan ke Korea. Haraboji (Kakek) dan Halmeoni (Nenek) akan mengajak kalian ke Lotte World di Korea." ujar Jodi tersenyum hangat menatap Albiano dan Gionino.
"Apa disana banyak permainan menyeramkan?" tanya Albiano penasaran. Karena selama ini kedua orang tua Haykal hanya membawanya ke taman bermain anak-anak yang umum. Gionino juga ikut penasaran dengan ucapan Jodi.
"Tentu saja." jawab Jodi tersenyum hangat melihat antusiasme kedua cucunya. Meskipun Albiano dan Gionino bukan cucu yang lahir dari benih putranya.
Kini giliran yang lain yang memberikan bingkisan kepada Livia dan Steven. "Opa dan Oma memberikan perusahaan kita yang ada di Indonesia kepadamu! dan perusahaan juga sudah atas namamu. Dan untuk Stevenson, Opa dan Oma memberikan perusahaan yang ada di Inggris dan California."ucap Tuan King menatap cucu dan cucu menatapnya.
"Wow...."
"Menikah dulu baru berubah menjadi milik Grace." ujar Tuan King menatap cucu perempuannya penuh kasih.
"Bolehkah Grace menikah muda? Grace, kan.... sudah punya kekasih." ucap Grace dengan polos.
"Cih! sekolah dulu! baru pacar-pacaran!" ketus Brian putra bungsu Jodi dan Gabi.
"Cih! bilang saja sirik."sahut Grace melengos melangkah mendekati Steven dan Livia. Grace menyerahkan bingkisan kado berisi lingerie seksi kepada sepasang suami-istri itu.
"Kakak ipar yang cantik dan manis. Jangan lupa pakai hadiah dari Grace. Karena Grace sangat yakin.... kalau suami kakak ipar akan bertambah cinta, kalau Kakak mengenakan pakaian dinas ini nanti malam." bisik Grace tersenyum polos. Ia membeli bingkisan itu karena diberikan saran oleh kekasihnya.
Wajah Livia berubah menjadi merah merona mendengar perkataan Grace. Ia kita gadis itu memiliki pemikiran yang polos, namun mendengar ucapan Grace hari ini, membuat persepsi Livia berubah. Grace tidak sepolos yang dia pikirkan.
Sementara Steven tersenyum lebar mendengar perkataan saudarinya. Pria itu langsung mengucapkan terima kasih kepada Grace. "Terima kasih, Grace." ucap Steven mengacak-acak kepala saudarinya.
"Kakak! rambut Grace jadi berantakan dong." dengus Grace penuh penekanan.
"Tidak akan ada yang memperhatikan penampilanmu." ujar Steven tanpa rasa bersalah sama sekali.
Greyson dan Stevi memberikan beberapa perhiasan kepada putra dan menantu mereka. Mereka juga menyiapkan penthouse mewah, mobil mewah, pulau mewah dan juga jet pribadi atas nama mereka.
Keluarga besar Greyson juga menghadiahkan hal serupa kepada Stevenson dan Sherina. Mereka juga mendapatkan hadiah mewah dari orang tua Stevi dan Greyson. Hadiah mewah dari kedua orang tua Sherina dan Stevenson. Josua dan Silvia juga tidak mau ketinggalan zaman. Mereka menanamkan modal saham 10% untuk keluarga baru Steven dan Stevenson. 5 % untuk keluarga kecil Steven dan 5 % untuk keluarga kecil Stevenson.
Livia terkejut melihat hadiah mewah yang diberikan keluarga besar suaminya. Karena Livia belum melihat hadiah semewah itu sebelumnya.
Sementara Sherina jangan tanya. Ekspresi wanita itu biasa saja melihat hadiah-hadiah mewah yang diberikan keluarga mereka. Karena keluarga Meyer juga berasal dari keluarga kaya raya. Belum lagi bisnis gelap pria itu akhir-akhir ini menghasilkan banyak pemasukan. Penghasilan dari bisnis gelapnya tidak akan habis sampai 21 generasi berikutnya.
Keluarga itu berurutan memberi selamat sekaligus menyerahkan bingkisan yang sudah mereka persiapkan dalam semalaman. Mereka ikut bahagia melihat kebahagiaan keluarga Greyson dan Stevi. Apa lagi mereka sudah dikaruniai dua orang cucu yang sudah sebesar itu. Kebahagiaan keluarga itu tentu saja semakin bertambah.
"Kebahagiaan tidak dapat diukur dengan materi."
...***Bersambung***...