IT'S YOUR BABY

IT'S YOUR BABY
Season 2 Kesedihan



"Bagaimana keadaan Davin?" tanya Alexa kepada anggota CIA yang ada disana.


"Keadaan Davin cukup memprihatinkan." lirih seorang wanita meneteskan air mata. Ia lalu menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


Mereka duduk di kursi tunggu sembari menunggu dokter keluar dari ruangan UGD.


#


#


Sementara di Apertemen Stevenson


Stevenson membaringkan tubuh Sherina di atas kasurnya. Pria itu kemudian melangkah menuju kamar mandi. Ia mengisi bathtub-nya dengan air hangat dan menuangkan bath bomb sabun aroma terapi.


Sekembalinya Stevenson dari kamar mandi, Ia mendapati Sherina masih tertidur pulas di atas kasurnya. Stevenson melangkah mendekati ranjang. Pria itu mengecup lama kening Sherin, setetes air mata menetes dari kelopak matanya.


"Maafkan aku." lirihnya. Untuk kedua kalinya pria itu menangis setelah kejadian lima tahun lalu. Stevenson kemudian keluar dari kamarnya menyembunyikan rasa sesak di hatinya.


Tak beberapa lama setelah Stevenson keluar, kedua mata Sherina terbuka lebar. Air mata ikut mengalir deras dari kedua kelopak matanya.


"Jika saja kejadian itu tidak terjadi. Mungkin keadaannya tidak akan seperti ini." monolognya. Sherina memejamkan matanya, mengingat kejadian masa lalu.


Sherina menangis tersedu-sedu sembari membekap mulutnya, agar suara tangisnya tidak terdengar sampai keluar. Sementara Stevenson masih bersandar di depan pintu kamarnya. Pria itu ikut menangis mendengar suara tangisan Sherina. Andai waktu bisa di putar kembali, mungkin mereka sudah membangun keluarga kecil.


#


#


Sementara di sisi lain


Steven cukup terkejut melihat foto-foto yang terpampang nyata di atas meja kerjanya.


"Apa yang kau lakukan Stev!" kesalnya menatap foto seorang wanita duduk di halaman rumah sakit.


"Bagaimana jika Daddy tahu?" gumam Stevenson pelan.


[Malam ini juga, kita langsung berangkat ke Spanyol!] tegas Steven kepada anggota klan king. Pria itu memasukkan barang-barangnya ke dalam koper miliknya.


#


#


Sementara di mansion klan king


"Informasi apa yang kau dapatkan Jack?" tanya Greyson sembari menatap keluar jendela.


"Tuan sepertinya informasi ini benar." lirih Jack menatap map coklat yang ada di tangannya.


"Mengapa putra pertama dan kedua ku melakukan hal keji seperti ini di usia mereka yang masih muda Jack." lirih Greyson


Jack hanya diam tak bergeming. Pria itu cukup terkejut dengan informasi yang pria itu dapatkan. Untuk kedua kalinya Jack melihat Greyson mengeluarkan air mata kesedihan.


"Sedari awal aku sudah curiga dengan perilaku mereka. Aku berharap kedua putraku tidak akan mengikuti jejak ku. Namun kenyataannya tidak seperti harapanku, Jack." ujar Greyson mencurahkan isi pikirannya.


"Cari tahu tentang wanita itu Jack. Sembunyikan mereka di ruangan bawah tanah mansion klan king sampai putraku mencari keberadaan mereka." ujar Greyson.


Cklek


"Biarkan mereka sendiri yang menyelesaikan masalah mereka, sayang." ujar Stevi tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kerja Greyson.


Stevi melangkah mendekati suaminya. "Keluarlah Jack." ujar Greyson menatap asisten kepercayaannya.


"Apa kamu sudah mendengar semuanya?" tanya Greyson memeluk tubuh istrinya.


"Hem.... Sedari awal aku sudah mengetahui semuanya. Aku berharap, mereka belajar menyelesaikan masalah mereka sendiri. Percayalah masalah itu akan mendewasakan kedua putra kita." ujar Stevi membalas pelukan suaminya.


Tak dapat di pungkiri, Stevi juga pernah berada di posisi yang sama. Hamil tanpa seorang suami dan menikah tanpa cinta. Tapi waktu telah mengubah semuanya menjadi sebuah kebahagiaan.


#


#


Kembali ke Apertemen Stevenson


Dua jam telah berlalu, Stevenson membawa Napan berisikan makanan yang sudah matang menuju kamarnya.


Cklek


Pria itu meletakkan napan di atas nakas, Ia lalu menatap punggung bergetar Sherina. Stevenson menghela napas menetralkan perasaan sesak di dadanya.


Stevenson mendudukkan tubuhnya di belakang punggung Sherin.


"Mandilah terlebih dahulu. Aku sudah menyiapkan air hangat aroma terapi di bathtub kamar mandi." ujar Stevenson


Sherina tidak bergeming sama sekali, Ia mencoba menahan suara tangisnya.


"Apa dengan menangis kau akan merasa lega? Maka menangis lah di pelukanku. Setelah kau selesai mandi" ujar Stevenson mengangkat tubuh bergetar Sherina. Pria itu membawa tubuh Sherin masuk ke dalam kamar mandi.


"Ney...." lirih Sherin dengan mata sembab dan pucat.


"Mandilah. Aku akan menunggu mu di luar." ujar Stevenson meletakkan tubuh Sherina di dalam bathtub. Ia kemudian keluar dari kamar mandi.


Sementara Sherina menahan gerumuh di hatinya mengingat perlakuan Mr Park kepadanya.


"Aku sendiri yang akan membunuhmu." ujarnya penuh kebencian. Ia kemudian memejamkan matanya supaya pikiran dan hatinya lebih tenang.


......***Bersambung***......