
"Apa kau tidak suka berada di tempat ini? tinggal disini sebagai istri dari seorang pangeran?" tanya Queen Angelista melihat wajah termenung cicitnya.
"Aku tidak memiliki perasaan apa-apa kepadanya Buyut. Aku merasa hatiku kosong ketika sedang berdekatan dengannya. Tapi--"
"Disini...." Alexa menunjukkan kearah dadanya.
"Alexa merasa ada sesuatu yang aneh. Alexa merasa merindukan seseorang.... tapi Alexa tidak tahu, perasaan rindu itu tertuju kepada siapa."curahan Alexa menatap serius kearah Queen Angelista.
Sementara Queen Angelista tersenyum hangat mendengar curhatan cicitnya.
"Apa kau tahu.... itu adalah perasaannya.... jiwamu merasakan apa yang jiwanya rasakan."
"Buyut hanya ingin bilang... ikuti kata hatimu.... jangan sampai menyesal." nasehat Queen Angelista.
"Sudah.... tidak usah dipikirkan. Buyut percaya.... kamu pasti akan menentukan cinta sejatinya." sambung Queen Angelista mengelus lembut kepala cicitnya.
"Lebih baik kita menyeduh teh hijau di gajebo. Buyut yakin, Daddy mu pasti ketar-ketir mencarimu." tukas Queen Angelista menarik pergelangan tangan Alexa dengan lembut.
Mereka berempat menyeduh teh hijau di gajebo istana sembari bercerita. Tanpa memperdulikan kegusaran Greyson menunggu Alexa dan Paskal di dunia manusia.
"Menurutmu bagaimana dengan cicit ku? apa dia cantik dan mampu membuat hatimu berdebar-debar?" celetuk Kaisar Agung tiba-tiba meletakkan cangkir tehnya.
"Cih! cantik apa-nya." Ryo berdecih, tidak mau mengakui betapa cantiknya Alexa. Ia masih kesal dengan tindakan Alexa tadi. Sampai sekarang pusaka saktinya masih berdenyut nyeri.
"Aku tidak mungkin menyukaimu. Rambut dan alis berwarna perak di kepala dan diatas kelopak matamu merusak pengelihatan ku." sindir Alexa menatap kesal kearah Ryo Miura.
"Pria pemilik tubuh ini sangat mendambakan mu. Tapi tidak dengan ku, karena aku hanya memiliki satu cinta. Yaitu wanita yang ada di dalam jiwamu." balas Ryo tidak mau mengalah.
"Sudah.... sudah .... kalau kau tidak menyukai cicitku tidak masalah. Jangan melukai hatinya." nasehat Kaisar Agung menghentikan pertengkaran mereka.
"Perkataan pangeran Ryo tidak usah dibawa hati sayang." timpal Queen Angelista mengelus tangan cicitnya.
Alexa tersenyum kecil mendengar kepekaan buyutnya.
Mereka tetap bersantai di gajebo tanpa mengobrol sama sekali hingga sore.
"Disini hari sudah mulai gelap. Apa kalian mau menginap di istana? atau mau kembali?" tanya Queen Angelista menatap pangeran Ryo dan Alexa bergantian.
"Menginap di istana seperti menarik. Alexa ingin mencobanya, Buyut." ujar Alexa menatap binar kearah bututnya.
"Kalau begitu ayo kita masuk ke dalam. Buyut mau memperlihatkan kamar khusus untuk kamu." ujar Queen Angelista.
Mereka melangkah masuk ke dalam istana bersama-sama, kecuali pangeran Ryo dan Kaisar Agung.
"Apa kau berpikir Arianna benar-benar hidup kembali di tubuh cicitku?" tanya Kaisar kepada pangeran Ryo setelah kepergian istrinya dan cicitnya.
"Aku yakin. Karena Phonix biru dan kalung itu ada padanya. Phonix biru hanya bisa dimiliki oleh orang-orang pilihan. Kebetulan Alexa adalah orang pilihannya." ujar pangeran Ryo.
Kaisar Agung menganggukkan kepalanya mendengar perkataan adik iparnya. "Bagaimana jika Arianna tidak pernah bertransmigrasi ke tubuh Alexa. Malahan bisa jadi Arianna menjadikan Alexa sebagai perantaranya?" tanya Kaisar Agung membuat pangeran Ryo terdiam.
"Apa kau belum juga mengikhlaskan kepergiannya? bisa jadi cicitku adalah cinta sejati yang selama ini kau tunggu-tunggu." timpal Kaisar Agung.
...***Bersambung***...