
Bug!
Bug!
Bug!
"Apa kau masih enggak mau ngaku brengsek! kenapa harus kau yang menyakiti hati saudara kembarku? kenapa kau berubah menjadi pengecut dan bajingan seperti ini!!" maki Nathan menghajar seorang pria sampai babak belur.
Arg!!
"Apa kau tahu bagaimana rasanya memendam perasaan cinta terhadap orang lain? Ha? jawab aku? apa kau tahu bagaimana rasanya cintamu tidak di restui selama bertahun-tahun?"
"Apa kau tahu bagaimana rasanya menjadi aku?" tanya pemuda itu tersenyum sinis.
"Tapi, kau tidak harus menghancurkan hidup Vania! kau tahu sendiri, keluargamu tidak akan pernah merestui hubungan kalian sampai kapan pun."
"Dan aku dan keluarga ku juga tidak akan merestui hubungan kalian. Mungkin Papa ku akan mengirim Vania keluar negeri sampai anak itu lahir. Aku berharap Vania tidak akan memaafkan mu, jika Vania sudah tahu semuanya."
"Cih! aku tidak menyangka kau picik dan murahan. Kau melakukan hal menjijikan itu saat kepribadian lain merasukinya." kata Nathan berdecih. Masih terasa aura kemarahan di wajah tampan pria itu.
"Selamat Tuan Kim! Anda berhasil menghancurkan hidup wanita yang Anda cintai!"kata Nathan penuh penekanan sebelum berlalu dari sana.
Ya, pria itu merupakan putra pertama Gabriella dan Jodi Kim Brian. Pemuda yang selama ini diam-diam mencintai sepupu dari sepupunya. Jordan Gabrian.
Jordan menatap kepergian Nathan dengan perasaan gusar. Ia takut keluarga Thomson mengasingkan Vania keluar negeri. Jordan cepat-cepat beranjak dan mengikuti langkah Nathan. Ia tidak mau Nathan mengatakan yang tidak-tidak kepada kedua orangtuanya.
Jordan mengendarai mobil roda empatnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Hingga tiba di depan kediaman keluarga Thomson. Ia melihat Stevi dan Nyonya Lorens masih berbincang dengan Silvia.
"Nat, Grandma mau berangkat bersama Aunty Stevi, apa kamu tidak mau menyapa Grandma?" tegur Silvia dengan suara serak. Masih terlihat jejak kemarahan di wajah tampan pria itu.
Silvia, Stevi dan Nyonya Lorens terdiam melihat tingkah Nathan tidak seperti biasanya. Nathan terlihat diam dan tak bergeming.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Silvia memastikan keadaan putranya.
Nathan langsung melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan keterpakuan ketiga orang itu.
Stevi, Silvia dan juga Nyonya Lorens cukup syok mendengar perkataan putranya. Silvia langsung melangkah masuk ke dalam rumah mengejar Nathan. Ia ingin memastikan kebenaran dari perkataan putranya.
"Nat! Nathan! Mama ingin bicara!" panggil Silvia. Namun panggilan Silvia tidak diindahkan Nathan. Nathan melangkah menuju kamar yang di tempati Vania.
Brak
Pemuda itu membuka pintu kamar Vania dengan kasar. Ia melihat tubuh saudara kembarnya bergetar di balik balutan selimut tebal di atas tempat tidur. Suara isakan tangis wanita itu juga terdengar menyedihkan hingga menyayat hati.
"Nia!" panggil Nathan dengan suara beratnya.
"Apa dengan menangis semuanya akan selesai?" ujar Nathan bertanya.
"Come on! dimana Nia yang dulu. Dimana saudaraku yang pemberani dulu."
Nia langsung menghentikan tangisnya saat mendengar perkataan Nathan. Ia mengalihkan pandangannya kearah pintu masuk. Ia melihat Nathan berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah merah padam. Sementara Silvia menangis tanpa suara menatap sedih kearah putrinya.
"Apa kau tidak ingin menyelesaikan masalah ini hari ini juga? selagi Aunty masih ada disini. Pria bajingan itu sepertinya sudah tiba juga."ujar Nathan tiba-tiba membuat Silvia dan Vania langsung terdiam memastikan pendengaran mereka masing-masing.
"Apa kau tidak mau tahu siapa pria yang sudah membuatmu hamil? kalau kau ingin tahu, maka kau bisa melihatnya dari jendela kamarmu." sambung Nathan tanpa ekspresi sama sekali.
Nia langsung beranjak dari tempat tidurnya dan melangkah kearah jendela balkon. Ia melihat Stevi dan Nyonya Lorens masih ada disana dengan ekspresi entahlah.
Namun mobil BMW hitam familiar yang berhenti di dekat gerbang kediaman Thomson tiba-tiba menarik atensi Vania. Ia sangat mengenali mobil BMW berwarna hitam itu.
"Jo-jordan...." gumam Vania dengan suara lirih.
...***Bersambung***...