
Anggota klan king membopong tubuh Steven dan juga Livia ke ruangan masing-masing seperti perintah Jack sebelumnya. Dimana Livia dimasukkan ke ruangan komputer tempat para hacker klan king. Sementara Steven dimasukkan ke ruangan penyiksaan.
Sejam kemudian Livia mengerjapkan kedua matanya memastikan penglihatannya. Wanita itu menyeritkan keningnya melihat 5 komputer besar ukuran 150 x 90 cm. Ia cukup familiar dengan pakaian yang digunakan seseorang di layar komputer itu.
"Steven...." lirih Livia memastikan lagi penglihatannya mengenai sosok Steven.
"Dimana ini? apa ini mansion keluarga Steven?" sambung Livia bertanya-tanya mengamati ruangan itu.
Sementara di luar
"Apa mereka sudah kalian tempatkan di tempat masing-masing?"tanya Jack menghampiri salah satu anggota klan king.
"Sudah Tuan." sahut pria itu mempersiapkan Jack mengikuti langkahnya menuju ruang penyiksaan.
Sementara Greyson dan Stevi masih berada di kamar mereka sekembalinya dari urusan masing-masing.
"Sayang bagaimana kamar kedua cucu kita? apa sudah selesai?" tanya Greyson keluar dari kamar mandi. Pria setengah baya itu tidak mungkin menemui istrinya menggunakan pakaian yang sudah terkena cipratan darah.
"Sudah sayang." sahut Stevi tersenyum hangat.
"Apa mereka belum tiba juga?" tanya Stevi menatap suaminya.
"Aku belum tahu. Mandilah. Kita Sama-sama turun kebawah." ucap Greyson mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
Stevi lalu melangkah masuk ke kamar mandi menuruti perkataan suaminya.
Suara dering ponsel dari atas nakas mengalihkan perhatian Greyson. Pria setengah baya itu kemudian melangkah mendekati nakas samping ranjang.
Greyson dengan cepat mengangkat panggilan telepon dari Jack.
"Hallo" sahut Greyson mendekatkan speaker ponselnya ke dekat telinganya.
Kedua kaki dan tangan Steven diikat kuat agar tidak mudah terlepas. Lalu tiga orang anggota klan king terlihat mengikat ulang kaki terikat Steven. Lalu mereka menarik tali itu ke tiang penyangga. Agar posisi tubuh Steven bergelantungan seperti kelelawar saat tidur di siang hari.
Steven masih belum sadar dari pengaruh obat bius yang di suntikan anggota klan king.
"Aku akan tiba disana setelah melihat keadaan menantuku." ujar Greyson mengakhiri panggilannya. Ia lalu mengalihkan pandangannya menatap kearah pintu kamar mandi.
Greyson lalu menghela napas pelan sembari meletakkan ponselnya di atas nakas. Ia kemudian melangkah menuju ruangan ganti.
Tak beberapa lama Greyson keluar dengan pakaian yang sudah lengkap. Sementara Stevi baru keluar dari kamar mandi hanya kimono selutut yang menutup tubuhnya. 10 menit kemudian istrinya juga sudah mengenakan pakaian lengkap.
"Sudah sayang?" tanya Greyson melangkah mendekati Stevi.
"Sudah yuk!" sahut Stevi meletakkan sisir yang baru saja Ia gunakan di atas meja rias.
Greyson mengenggam sebelah tangan istrinya turun ke lantai satu melalui lift.
Setibanya di lantai bawah
Greyson menyuruh istrinya kebelakang terlebih dahulu mempersiapkan jamuan spesial untuk kedua putranya. Itu pun kalau tidak ada yang sekarat setelah ini.
"Sayang. Kamu duluan kebelakang saja. Aku masih mau menemui putra kita." ujar Greyson mengelus lembut kepala istrinya.
"Dad! jangan kasar-kasar kepada Steven! sebejat apapun perilakunya, menantu dan cucu kita tetap akan membutuhkan sosok ayah dan suami melengkapi hidup mereka." nasehat Stevi sedikit khawatir dengan apa yang akan suaminya lakukan.
"Tenanglah sayang. Aku hanya sedikit bermain-main saja." ujar Greyson menyakinkan istrinya agar tidak perlu khawatir.
"Lagi-lagi kamu membela putra kita sayang...." lirih Greyson menatap sendu kearah kepergian istrinya.
...***Bersambung***...